Pembelajaran konvensional sulit menjadi forum menginternalisasikan nilai-nilai karena tidak mampu memberikan pengalaman dan perjumpaan (encounteres) yang konkret dengan dunia empiris implementasi nilai-nilai dalam proses belajarnya. Pengalaman langsung melalui suatu pekerjaan akan lebih mudah ditangkap kebermaknaan suatu nilai dan individu tidak akan mengalami kesulitan dalam menginternalisasikan nilai-nilai tersebut dalam kepribadiannya. (Seto Mulyadi dkk, 2019:173).
Pengajaran dan pendidikan ternyata mempunyai makna yang berbeda, tergantung dari sudut pandang darimana kita memahami. Secara sederhana pengajaran itu mentransfer ilmu pengetahuan dari seorang pengajar kepada sipebelajar, sementara pendidikan menanamkan nilai kepada peserta didik.
Justru sekarang timbul cerita berikutnya apa beda pengetahuan dengan nilai, disinilah sudut pandang mempengaruhi apa yang harus dilakukan, dikembangkan dan menjadi alat ukur sebuah keberhasilan.
Pengajaran itu memberikan sesuatu secara transfer kegiatan mengajar, dalam hal ini menyampaikan, meneruskan atau membagikan. Menyampaikan ilmu tujuannya ilmu sampai kepada yang dituju, meneruskan ilmu maksudnya supaya ilmu itu terus mengalir kepada generasi berikutnya, dan membagikan agar semua orang memiliki kesempatan mendapatkan ilmu.
Jadi pengajaran lebih kepada proses transfer, benar para pengajar adalah kurikulum agar banyak yang disampaikan, maka ia menjadi pengajar ulung, banyak muridnya maka ia akan dinobatkan menjadi pengajar dengan pengalaman panjang. Pengajaran seperti ini menuntut kegiatan dilakukan dengan cara klasikal, bahkan seminar, kelas besar dan seterusnya.
Pendidikan di sini memberikan kesempatan kepada peserta didik untuk dapat melakukan hal sesuai dengan potensi dirinya, ia harus mengenal, memahami dan memutuskan apa yang harus dilakukan. Jadi pendidik berperan memberdayakan, mengenalkan dan menjadi inspirasi agar peserta didik berkemampuan melakukan secara mandiri.
Nilai yang diperoleh adalah bahwa pendidikan itu ternyata akan lebih permanen, membentuk diri, bahkan terampil melakukan sampai akhirnya menjadi watak bahkan kepribadian.
Cara pendidik mengembangkan kegiatan pendidikan salah satunya adalah dengan praktik langsung agar peserta didik melakukannya dan menjadi habit bahkan kebiasaan yang berkelanjutan.
Kak Seto Mulyadi mengingatkan kita bahwa belajar dengan pengalaman langsung ternyata memberi dampak yang lebih laten dibanding dengan sekedar mengikuti pengajaran.
Pengalaman dari dunia nyata sungguh masih luas yang harus dieksplorasi menjadi materi, kebiasaan hidup sehari-hari peserta didik masih banyak untuk diangkat dan diperbaiki, bahkan sejarah pun masih panjang untuk direnungi bahkan direfleksi.
Sekali lagi kita setuju dengan Kak Seto, dari rumah, seorang anak telah mendapatkan makna apa arti keluarga, dari lingkungan mereka telah mengetahui makna bertetangga, bahkan pekarangan rumah memberi inspirasi untuk saling menghargai.
Sungguh kehidupan nyata adalah tempat pendidikan yang terus hadir bagi kita dan siapa saja yang menyadari bahwa hidup ini terus berproses mendapatkan kebaikan untuk keberkahan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















