Orang tua berperan sebagai pemandu dan pembuka jalan agar anak-anak berani, memperlihatkan kegigihan, memiliki kecerdasan untuk memecahkan masalah, dan memiliki naluri untuk membantu orang lain. Mereka mendorong anak-anak untuk tetap mencoba menghadapi berbagai rintangan, dan membacakan atau menceritakan tindakan-tindakan luar biasa yang dapat memberikan inspirasi bagi mereka. (Charles A Smith, 2004:4).
Orang tua ya orang tua, anak-anak ya anak-anak pasti berbeda dari mana saja pun dilihat. Mau dilihat dari kelahiran jauh sungguh bedanya, dari kematian belum tentu, dilihat dari kebiasaan boleh jadi ada yang sama tetapi karena lingkungan dan perkembangan maka lebih banyak bedanya. Lantas apa hubungan orang tua dan anak?
Pendidikan yang bersifat inheren atau informal telah lahir sebelum anak dilahirkan, di mana orang tua menginginkan anaknya lahir dan di saat itu pula anak menjadi tanggung jawab kedua orang tuanya.
Inheren artinya melekat pada orang tahu secara ia harus mendidik, membina, membesarkan bahkan bertanggungjawab terhadap apa yang akan terjadi pada anak sampai ia dewasa.
Sampai di sini kita mengerti bahwa orang tua berperan sebagai pemandu dan pembuka jalan agar anak-anak berani, memperlihatkan kegigihan, memiliki kecerdasan untuk memecahkan masalah, dan memiliki naluri untuk membantu orang lain.
Mengapa ini harus dilakukan? Tidak lebih adalah karena orang tua menyadari anak akan mengalami dunia yang mungkin sama dengan orang tua, tetapi lebih mungkin dan hampir pasti sangat berbeda.
Ketika orang tua memperkenalkan bahwa; dunia itu sangat kompleks maka bagaimana kita dapat mengatasinya, dunia itu penuh tantangan lalu bagaimana kita gigih memperjuangkan, dunia itu kompetitif di sinilah perlu kecerdasan untuk mengalahkan.
Maka mereka mendorong anak-anak untuk tetap mencoba menghadapi berbagai rintangan, dan membacakan atau menceritakan tindakan-tindakan luar biasa yang dapat memberikan inspirasi bagi mereka.
Semua akan dilakukan orang tua selagi ia mampu, semua akan diberikan orang tua pada anaknya selagi ia memiliki, karena harga dan martabat orang tua memang tergadai dari informal pendidikan.
Apakah semua anak menerimanya padahal dia akan hidup pada zaman, tempat serta keadaan yang sungguh jauh berbeda? Di sinilah kemampuan orang tua mengerti, memahami dan menjadikan anak bukan sekadar tanggung jawab tetapi adalah amanah dari Tuhan untuk beribadah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















