Allah mengecam para ulama yang berakhlak jahat. Misalnya, mempelajari ilmu bukan karena Allah, menyembunyikan ilmu, berdusta atas nama Allah dan Rasul-Nya, menghinakan ilmu untuk kepentingan duniawi (harta atau kekuasaan), menyombongkan ilmu yang dimiliki, tidak punya rasa takut kepada Allah, ilmu hanya dipakai untuk berdebat dan berbantah-bantahan bukannya untuk diamalkan, terburu-buru berfatwa atau berfatwa sesuai pesanan, dan banyak lainnya. (Abu Abdillah Muhamad Ruslan, 2004: viii).
Belajarlah agar mendapatkan ilmu, apabila telah memiliki ilmu maka amalkanlah, dan setiap beramal maka ikhlaskanlah. Dari belajar, berbuat sampai berikhlas tentu memiliki proses baik sendiri maupun bersama orang lain, apakah dengan guru, dengan teman atau juga dengan jamaahnya.
Sebagian orang belajar dengan sungguh, sementara ada pula yang sedikit belajar tetapi mendapatkan kemudahan untuk mendapatkan ilmu pengetahuan. Pengalaman belajar, berbuat dan ikhlas memang setiap individu berbeda.
Ketika kita telah mencapai satu jenjang dalam belajar, atau mendapatkan kompetensi dalam satu bidang ilmu maka boleh saja kita membaginya pada orang lain. Bila belajar diniatkan untuk hal baik, maka akhir dari ilmu yang diperoleh akan menuju untuk kebaikan semua orang.
Dalam hal ini Abu Abdillah menyebutkan bahwa dengan demikian, jalan ilmu itu diliputi dengan hal-hal yang tidak disukai dan berbagai kesulitan. Pintu-pintu masuk setan di dalamnya jumlahnya hanya dapat dihitung oleh Allah. Tentu ada konsekuensi lain bila kita belajar dengan menjauhkan diri dari Tuhan, disana sudah menunggu setan untuk menjerumuskan.
Belajar dengan niat baik akan mendapat kebaikan hasilnya, tetapi bila niatnya untuk hal yang tidak diperkenankan Tuhan maka akan mendapatkan konsekuensi terburuk. Di antara pintu-pintu tersebut, ada yang untuk merusak ilmu itu sendiri pada diri pemiliknya, ada tiga hal yakni;
Pertama, ada yang untuk merusak tujuan dan niatnya. Bila seseorang belajar dengan niat untuk hal yang tidak baik, bahkan hanya untuk kepentingan dirinya, maka kita tinggal tunggu kerusakannya. Jadi yang benar adalah belajarlah dengan niat mendapatkan keberkahan.
Kedua, ada pula yang untuk merusak jalan pencariannya. Belajar perlu cara, bahan dan usaha pencapaian, baik menguras waktu, biaya bahkan tenaga. Bila semua ini dihitung dan didapatkan dengan hal yang tidak wajar, maka hasilnya akan sia-sia. Jadi yang diharapkan adalah usaha belajar mendapatkan ilmu harus dengan cara yang wajar, halal dan terhindar dari kemaksiatan.
Ketiga, orang yang selamat ialah siapa yang dipelihara oleh Allah. Bila niat sudah dipasang, usaha telah dilakukan, maka langkah berikutnya adalah ikhtiar serahkan semua kepada Tuhan. Niat itu dalam hati, maka hanya yang punya yang mengetahui. Usaha itu tidak pernah menipu hasil.
Abu Abdillah sekali lagi menegaskan bahwa seorang penuntut ilmu seyogyanya mempelajari berbagai penyakit yang menimpa ilmu lalu merusaknya, merusak jalan pencarian ilmu terhadap penuntutnya, atau merusak niatnya.
Mengapa ini dirasa penting, karena ilmu itu akan memberi kemudahan bila niatnya baik, dan ilmu itu justru menjadi masalah atau penghancuran bila niat awalnya sudah tidak baik.
Inilah kunci utama bila kita ingin belajar menuntut ilmu dengan benar. Akhirnya kita menyadari bahwa bila ini dilakukan dengan sungguh, maka tidak ada sedikit pun dari penyakit-penyakit itu yang mendekati ilmu tersebut.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


