Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Knowledge is constructed by humans. Knowledge is not a set facts, concepts, or laws waiting to be discovered. It is not something that exist independet of knower. Humans create or construct knowledge as they attempt to bring meaning to their experience. Everything that we know, we have made. Knowledge is conjectural and fallible. Since knowledge is a construction of humans and humans constantly undergoing new experiences , knowledge can never be stable. The understandings that we invent are always tentative and incomplete if one tests it against new encounters. (Zahorik, 1995).
Belajar adalah kegiatan untuk mendapatkan pengalaman yang menjadikan diri kita ini menjadi berubah. Berubah dalam hal pengetahuan (kognitif), tentang sikap (afektif) dan keterampilan (psikomotorik). dalam setiap kesempatan belajar satu, dua atau ketiga aspek perubahan tersebut selalu menjadi indikator dari sejak perencanaan, proses, sampai evaluasi. Belajar dan perubahan itu memang tidak dapat dipisahkan, tetapi perubahan tidak selamanya karena belajar yang disengaja, tetapi justru diluar itu kita mendapatkan keunikan bahkan luar biasa.
Zahorik mencatat bahwa perubahan memang mengandung banyak makna, sehingga para ahli berbeda pendapat tentang berubah karena belajar. Atau belajar yang menjadikan orang harus berubah khususnya dalam diri seseorang. Enam catatan penting tentang belajar terkait hal ini yakni sebagai berikut:
Pertama, menurut filosofi konstruktivisme, pengetahuan bersifat non-obyektif, temporer, dan selalu berubah. Tidak ada yang permanen, apalagi mutlak dalam hidup ini, semua berjalan, tumbuh dan berkembang bahkan berubah. Inilah awal dari pemahaman kita tentang dunia termasuk tentang kemampuan diri kita.
Kedua, segala sesuatu bersifat temporer, berubah, dan tidak menentu. Perubahan itu mengarah pada banyak hal, bahkan sangat kompleks, semakin dipelajari semakin banyak kita menemukan misteri. Walaupun ada hal yang bersifat konstan atau linier, tetapi dibalik itu justru menyimpan ketidak pastian yang lebih nyata.
Ketiga, kitalah yang memberi makna terhadap realitas yang ada. Dunia ini sejauh kita mengerti, luasnya sejauh kita memandang, langitnya setinggi kita menghadap, dan masalahnya seberapa kita dapat menyelami. Itulah dunia tergantung dari mana kita akan mengerti dan mempelajarinya.
Keempat, pengetahuan tidak pasti dan tidak tetap. Apa yang kita miliki adalah pengetahuan tentang diri kita, hidup kita, dan itulah dunia kita. Belum tentu sama dengan orang lain, apalagi dari waktu yang berbeda bahkan tempat yang berbeda. Jadi jelas tidak ada pasti semua terus berubah karena itulah yang terjadi dimana-mana.
Kelima, belajar adalah pemaknaan pengetahuan, bukan perolehan pengetahuan dan mengajar diartikan sebagai kegiatan atau proses menggali makna, bukan memidahkan pengetahuan kepada orang yang belajar. Sebagai pendidik kita bukan menyampaikan hal yang pasti tetapi sebuah proses yang sedang terjadi menjadi pengetahuan atau kognitif. Bagaimana kita harus menyikapi itulah afektif dan keahlian apa yang harus kita miliki untuk mengikuti atau menjalani disinilah lahir psikomotorik.
Keenam, otak atau akal manusia berfungsi sebagai alat untuk melakukan interpretasi sehingga muncul makna yang unik. Setiap sesuatu di muka bumi ini adalah unik dan itu satu-satunya, karena dari sana kita akan melahirkan satu pengertian, beberapa konsep, bermacam makna dan akhirnya beragam fungsi untuk digunakan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


