Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Dalam Islam, niat sangat menentukan kualitas, mutu, dan kontinuitas amal yang dilakukan. Orang yang niatnya dalam beramal hanya untuk memperoleh sesuatu yang sifatnya duniawi baik berupa pujian, penghargaan, materi dan sebagainya maka amalnya akan berhenti setelah ia merasa telah memperoleh apa yang ia angankan.
Hal ini jelas berbeda dengan orang yang beramal karena mengharap ridha Allah dan motivasinya ukhrawi. Ia akan senantiasa beramal tanpa kenal lelah atau putus asa karena ia tidak tahu apakah ridha Allah yang ia harapkan itu sudah ia gapai atau belum. (Abu Bakr Jabir al-Jazairi, 2003: 59).
Beraktivitas sehari-hari kadang melelahkan kadang menyenangkan tergantung bagaimana kita melakukannya. Situasi akhir setelah melakukan turut menentukan keputusan perasaan kita apakah bahagia setelah menyelesaikan, atau justru seakan ada yang kurang untuk perbaikan.
Jadi kegiatan yang kita lakukan selama ini selalu saja diukur dari hasil yang kita dapatkan setelah semua selesai. Inilah yang terjadi dalam kehidupan banyak manusia, bahkan mungkin diantaranya adalah kita sendiri.
Kegiatan yang berlangsung berulang-ulang kadang justru menjadi hal yang membosankan, tetapi ada pula kegiatan seperti ibadah harian, satu pekan, dalam rentang setahun, bahkan selama hidup. Dalam ibadah tersebut ada yang tidak bosan, tetapi justru ingin melakukannya dengan senang hati.
Abu Bakr menegaskan bahwa; beramal tanpa kenal lelah atau putus asa karena ia tidak tahu apakah ridha Allah yang ia harapkan itu sudah ia gapai atau belum. Di sinilah justru kegiatan yang tidak diketahui hasil akhirnya justru membuat penasaran.
Menurut catatan Abu Bakr ada empat catatan penting terkait dengan amalan ini yakni sebagai berikut:
Pertama, Niat sangat menentukan kualitas.
Kegiatan itu diawali dari niat, maka niat itu yang menentukan kegiatan berkualitas atau tidak bukan faktor lain apalagi yang bersifat material. Niat itu dalam hati bahkan tidak tampak boleh jadi sulit diukur sebagian orang menyatakan bahwa niat itu sangat personal. Namun yang utama dalam hal ini adalah jangan sekali-kali mengabaikan niat dalam setiap pekerjaan.
Kedua, Niat menentukan kontinuitas amal yang dilakukan.
Kegiatan yang dilakukan sekali itu biasa, tetapi bila dilaksanakan dua atau tiga kali mungkin dia disiplin menjaga asa. Sampailah pada kegiatan yang berulang tanpa jeda bahkan menjadi kebiasaan maka ini yang luar biasa dimana kegiatan tersebut menjadi habit dalam kehidupan. Kebaikan atau amal yang dilakukan berulang dan terus berkelanjutan itu adalah hal utama, dan akan menjaga diri untuk terus melakukannya. Ternyata itu semua dapat terjadi bila kita menjadikan niat sebagai awal dari sebuah amal perbuatan.
Ketiga, beramal hanya untuk memperoleh sesuatu yang sifatnya duniawi baik berupa pujian, penghargaan, materi dan sebagainya maka amalnya akan berhenti setelah ia merasa telah memperoleh apa yang ia angankan. Inilah tanda bahwa bila kita meniatkan sesuatu yang bersifat material, terukur dan tampak dalam kehidupan sehari-hari, maka semua seakan semu. Janganlah sekali-kali beramal dengan niat yang sempit apalagi untuk diketahui orang lain.
Keempat, Mengharap ridha Allah dan motivasinya ukhrawi.
Bila kita menyadari bahwa apa pun yang akan kita lakukan sebaiknya adalah untuk mengharap ridha Allah, maka semua kegiatan akan terjaga. Kita memang mampu melakukan, tetapi sebagai makhluk memiliki keterbatasan, untuk itu berikan pada Tuhan untuk menentukan hasil. Hadapkan bayangan dirimu ke belakang ternyata ada yang lebih berkuasa untuk memberi penguatan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita ber sinergi”.


