Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Hadits berfungsi sebagai bayan (penjelasan) kepada Al Qur`an untuk menjelaskan makna yang terkandung dalam kitab suci tersebut. Dalam memahami makna perintah maupun larangan di dalamnya, pertama-tama mestilah merujuk kepada praktik Nabi saw. Perbuatan, perkataan dan persetujuan nya menjadi dasar utama dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran Islam. Oleh karena itu, mustahil dapat mengamalkan ajaran Islam apalagi memahaminya tanpa hadits. (Ramli Abdul Wahid, 2017:120).
Pilar ajaran Islam terdapat dalam Tuhan, Al Qur`an dan Muhammad. Tuhan adalah gambaran sang pencipta yang memiliki kedudukan berbeda yakni khalik pencipta seluruh alam semesta termasuk pencipta Al Quran dan Muhammad.
Al Qur`an adalah kitab suci yang diturunkan oleh Tuhan lewat malaikat kepada Muhammad untuk dijadikan pedoman hidup. Muhammad adalah manusia yang mendapat mandat sebagai nabi untuk mengajarkan iman kepada Tuhan, dan Al Qur`an sebagai pedoman hidup.
Implementasi ajaran Islam dikenali, dipahami dan dikembangkan sedemikian rupa sehingga dapat dijadikan bagian dari kehidupan manusia dari zaman ke zaman bahkan sampai hari ini. Apakah itu jadi cerita, apakah hanya sejarah, mungkin juga hanya sekadar ajaran, tatapi kita diberi satu pelajaran apa yang disebut dengan Hadis.
Oleh Prof Ramli Abdul Wahid menjelaskan bahwa hadits berfungsi sebagai bayan (penjelasan) kepada Al Qur`an untuk menjelaskan makna yang terkandung dalam kitab suci tersebut.
Tiga perspektif keilmuan yang harus dipahami sebagai bagian dari penjelasan di atas adalah sebagai berikut:
Pertama, kekuatan perbuatan dari tingkah laku seseorang.
Apa saja yang terjadi di muka bumi ini memberi pengetahuan, termasuk kekuatan alam, mengalirnya sungai, terlebih tingkah laku orang lain. Apa yang dilakukan oleh seseorang adalah cermin dari apa yang diketahuinya, bila itu jujur maka tampak dari konsistensi yang terjadi. Tingkah laku nabi ketika dipelajari dari satu, dua dan banyak orang menjadi penting bukan hanya sekadar catatan untuk dibandingkan, tetapi petunjuk bagaimana kita juga dapat melakukannya.
Kedua, Kekuatan kata-kata dari lisan seseorang.
Tindakan paling ringan adalah berbicara, dengan bicara seseorang akan menghasilkan lisan. Lisan dapat mewakili peryataan tentang keadaan, atau reproduksi dari pengalaman dan yang paling utama adalah ungkapan dari perasaan bahkan harapan. Berbicara yang terstruktur adalah berfikir yang tak bersuara, sebaliknya berfikir adalah lisan yang tak terdengar. Lisannya seorang nabi adalah gambaran bagaimana ia mendeskripsikan dirinya, Tuhan dan Al Qur`an dalam kehidupan sehari-hari.
Ketiga, kekuatan diam dari sikap seseorang.
Apakah setiap aktivitas itu bermakna belum tentu, apakah semua pembicaraan itu harus terdengar tidak mesti. Ternyata diam juga dapat mewakili dari interaksi seseorang terhadap dunia yang sedang terjadi. Diam terhadap hukum alam boleh jadi menunjukkan kesetujuan untuk disyukuri, diam kepada orang lain yang melakukan sesuatu mungkin saja ia tidak mau terlibat lebih jauh. Tetapi diam saat dihadapkan pada situasi yang mengharuskan untuk memilih maka adalah tindakan bijaksana yang sulit diukur dengan apapun di dunia ini. Nabi menjadikan diam adalah hukum dan kita sendiri yang memaknai lebih dalam dari sikap diam dalam kehidupan beliau.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


