Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Keluarga adalah salah satu kelompok atau kumpulan manusia yang hidup bersama sebagai satu kesatuan atau unit masyarakat terkecil dan biasanya selalu ada hubungan darah, ikatan perkawinan atau ikatan lainnya, tinggal bersama dalam suatu rumah yang dipimpin oleh seorang kepala keluarga dan makan dalam satu periuk. (Zamakhsyari bin Hasballah Thaib,2017:26).
Keluarga itu memiliki anggota yakni seorang ayah, seorang ibu dan beberapa anak. Itulah keluarga ini, kadang lebih luas atau melebar ada anggota lain yang mungkin sedarah, atau orang lain yang tinggal satu rumah. Setiap anggota mempunyai kedudukan yang berbeda, tetapi mereka sepakat untuk menjaga aturan dari sinilah tujuan dirumuskan, dikembangkan dan kemudian dicapai.
Dalam bagian lain keluarga itu menjadi rumah utama, bahkan “keluargaku adalah martabatku” seakan simbol harga diri seluruh anggota keluarga. Jadi keberhasilan satu anggota keluarga maka semua akan mendapat kebaikan, begitu juga sebaliknya bila terjadi satu saja anggota keluarga yang bermasalah, maka semua akan merasakan.
Zamakhsyari bin Hasballah menjadikan keluarga adalah benteng utama dalam membangun sebuah kekuatan sosial. Menurut beliau masyarakat kecil sebagai cikal bakal bangsa dan negara harus diawali dari cara memahami keluarga dengan benar. Sedikitnya ada enam hal penting terkait dengan hal ini yakni sebagai berikut:
Pertama, Makan satu periuk. Makan dari satu periuk itu banyak dilakukan orang apakah insidental atau permanen seperti saat kemah, atau di restoran. Tetapi dalam keluarga makan satu priuk itu beda, karena asal muasal dari yang dimakan adalah dari pencaharian orang tua yang benar, maka makannya menjadi halal dan berkah.
Kedua, Ayah adalah pemimpin. Pemimpin sejumlah orang itu banyak ditemukan di organisasi, partai, komunitas sampai negara. Tetapi pemimpin dalam keluarga itu berbeda, menjadi orang yang bertanggung jawab terhadap istri, anak akan dimintai pertanggungjawaban sampai dunia akhirat. Walaupun jumlah anggota sedikit tetapi justru lebih rumit, mungkin selama ini sudah kenal tetapi justru di sana ada tantangan yang setiap saat berbeda, itulah pemimpin sebuah keluarga.
Ketiga, Rumah tangga adalah tempat berkeluarga. Tinggal bersama dalam satu atap itu banyak di hotel, di barak dan lain sebagainya. Tinggal bersama orang yang dicintai, akan memberi inspirasi ketika kita buntu dalam mencari solusi. Atau kadang kesal karena ada perilaku yang berbeda, tetapi di sana kita dapatkan harapan bahwa semua akan terselesaikan.
Keempat, Ikatan darah itu adalah warisan. Setiap individu memiliki garis keturunan dan berbeda satu dengan lainnya, namun ada yang unik di mana perkawinan dan memiliki anggota keluarga baru, maka kita akan membuat ikatan darah yang baru pula. Anggota keluarga tersebut bukan asing, justru disambut dengan hangat dan justru menjadi harapan selanjutnya.
Kelima, Ikatan perkawinan itu adalah agama. Dengan perkawinan keluarga akan dibentuk, disusun dan dikembangkan menuju satu tujuan. Nilai-nilai agama yang dijadikan norma perkawinan akan membimbing ke arah keluarga yang dicita-citakan. Selalu kita do`akan semoga menjadi keluarga sakinah, mawaddah dan warohmah.
Keenam, Keluarga adalah satu kesatuan unit. Dari sini jelaslah bahwa keluarga itu unit atau satuan dari beberapa unsur. Asal semua anggota itu berbeda, muasalnya justru beragam dari keunikan psikologis, keragaman kesenangan, bahkan mimpi yang berbeda setiap orang tetapi sepakat untuk tetap bersama.
Sebuah keluarga adalah asal, sekarang dan akhir dari semua individu. Keluarga yang baik akan tetap bertahan bila makan dijaga kehalalannya, bila tidur tetap dijadwal oleh orang tua, bila pemimpin tetap menjaga marwah rumah tangga. Dari mana kita mulai, tentu dari niat dan sadar akan kelebihan dan kekurangan keadaan keluarga kita sendiri.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


