Oleh Prof Mardianto
Pendidikan Agama diubah menjadi Pendidikan Keagamaan. Pendidikan keagamaan dimaksudkan adalah pendidikan yang mengkaji masalah keagamaan di negara kita, atau paham agama umumnya. Mengapa ada agama? Macam-macam agama di Indonesia? Perbedaan dasarnya apa? Kesamaan dasarnya apa? Dan seterusnya.
Melalui kajian pendidikan keagamaan, maka diharapkan siswa memperoleh pemahaman tentang berbagai macam agama di Indonesia, dengan demikian diharapkan memiliki sikap dalam penerapannya, ialah bila gurunya kurang memiliki sikap objektif atau memihak kepada agamanya sendiri. Bila hal ini terjadi dapat merugikan anak yang memiliki keyakinan agama lain. (Djohar, 2007).
Pendidikan agama dilaksanakan dari sejak anak di lingkungan keluarga, di sekolah bahkan di tengah-tengah masyarakat. Bagaimana anak mengenal agama, mempraktikkan agama, sampai pada menjadi bagian dari pengembangan atau dakwah dari agama semua dialami dari sejak kecil sampai ia tumbuh menjadi dewasa. Apakah sendiri, bersama atau semua orang telah beragama seperti yang digariskan oleh ajaran agama, jawabannya belum tentu.
Bagaimana agama menjadi bagian dari kehidupan seseorang selalu dipengaruhi oleh pendidikan, pengalaman dan sikap terhadap apa yang ada disekelilingnya. Pendidikan mengajarkan sesuatu tentang agama sehingga mendapatkan pengetahuan yang lebih dalam lebih luas bahkan lebih banyak tentang apa itu agama.
Pengalaman menjadikan seseorang mendapatkan makna bagaimana agama dapat diterima dalam dirinya, dalam kehidupan sehari-hari bahkan jalan keluar ketika ia mengadapi masalah. Sikap menunjukkan bagaimana seseorang memposisikan diri sebagai sebuah eksistensi bahwa ia adalah orang yang beragama seperti orang lainnya.
Apakah kita telah mendapatkan makna agama seperti ajaran agama itu sendiri? Tentu perlu ditelaah lebih jauh makna agama dalam kehidupan seseorang.
Agama sebagai ajaran dapat dipelajari dalam mata pelajaran di sekolah, agama sebagai nilai tampak dalam kehidupan sehari-hari baik di rumah, di masyarakat maupun di sekolah bahkan di tempat kerja.
Dari sini kita dapat melihat bahwa banyak orang telah lama mempelajari agama bahkan bertahun-tahun sampai tua baik formal maupun non formal. Hanya sanya tingkat pendidikan tidak menjanjikan seseorang dapat mengamalkan ajaran agama seperti yang diharapkan.
Pengalaman beragama seseorang bahkan selalu menjadi bagian dari hidupnya, namun apakah hal itu memastikan ia adalah orang paling beragama? Ini juga belum tentu. Dua hal penting yang harus di maknai dari hal di atas yakni sebagai berikut:
Pertama; ajaran agama yang mengandung nilai memiliki batasan dan aturan yang sangat sakral dan kita sebagai penganutnya harus mempelajari, mengalami dan akhirnya menjadi bagian dari sikap kehidupan.
Materi yang diajarkan adalah dari nilai dasar agama, pengamalan ibadah, sampai pada kontrol diri melalui agama. Bila ini dilakukan maka agama bukan sekadar mata pelajaran, lebih dari itu akan menyatu dalam kehidupan sehari-hari.
Kedua; pelajaran keagamaan dapat dijadikan instrumen bagaimana agama harus ditempatkan, di artikulasi sebagai bagian dari cara hidup sendiri, bersama khususnya untuk bermasyarakat.
Jadi materi yang dikembangkan tentang kegamaan akan menjawab; mengapa ada agama? Macam-macam agama di Indonesia? Perbedaan dasarnya apa? Kesamaan dasarnya apa? Bila ini dikembangkan maka beragama secara individual tetapi bermanfaat secara komunal.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


