Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Di Indonesia unsur-unsur sinkretis yang tumbuh dengan subur tidak sampai kepada taraf pembentukan suatu ordo keagamaan tertentu, sehingga tidak sampai meresahkan masyarakat beragama. Sebaliknya, unsur-unsur sinkretis yang berkembang di Indonesia dipandang justru menguntungkan bagi perkembangan satu agama, khususnya Islam. Karena nilai-nilai lokal yang mewarnai Islam malah memperkaya khazanah budaya Islam. Kehidupan umat beragama tampak lebih semarak, bersemangat dan dinamis. (Anwarsyah Nur, 2014:221)
Bumi nusantara telah ada jauh sebelum Indonesia merdeka, bahkan telah ada manusia sebelum agama besar datang dari berbagai arah. Bumi nusantara ditandai adanya manusia, dengan kehidupannya maka ia hidup berkehidupan.
Hidup pada dasarnya adalah makan, minum berkembang biak, dan ketika ia berinteraksi dengan sesama maka lahirlah apa yang disebut dengan budaya. Jadi hidup dan kehidupan tidak dapat dilepaskan, antara mencari nafkah dengan budaya tidak dapat dipisahkan.
Pada dekade berikutnya datanglah beberapa agama besar (Budha, Hindu, Islam dan Kristen) semuanya menawarkan bagaimana cara hidup dan yang paling utama adalah berkehidupan. Sebagian masyarakat ada yang menerima dengan sepenuh hati tanpa berganti-ganti. Ada pula yang menerima sesuatu yang baru tetapi tetap mengamalkan yang lama, dan justru ada pula yang menggabungkan semua yang datang kemudian.
Ragam kehidupan masyarakat yang menerima berbagai agama adalah hal yang lumrah dalam teori budaya, salah satunya disebut dengan sinkretis.
Anwarsyah Nur justru mensinyalir hal ini menjadi ciri khas masyarakat nusantara. Jadi seakan tidak ada yang salah, maka menurut beliau wajar bila tumbuh dengan subur, dan tetap ada sampai sekarang. Keadaan mereka seakan mendapat pengakuan walaupun tidak formal karena nusantara telah dijadikan Indonesia.
Lantas apa yang harus kita pahami dari gejala ini. Sedikitnya ada tiga hal penting yakni sebagai berikut:
Pertama, kita memahami sejarah adalah bagian dari leluhur masyarakat bahkan bangsa kita. Maka kepercayaan, agama dan pengetahuan adalah kehidupan yang saling terkait satu dengan lainnya, bahkan masa lalu, masa kini akan terus mewarnai bagaimana masa depan bangsa ini. Unsur-unsur sinkretis yang berkembang di Indonesia dipandang justru menguntungkan bagi perkembangan satu agama, khususnya Islam sungguh inilah bahan menarik untuk dibawa diskusi.
Kedua, kepercayaan yang teridentifikasi sebagai sinkretis secara sosiologis adalah perpaduan pengalaman yang membentuk pengetahuan baru. Pada masyarakat tertentu adalah warisan leluhur, namun pada sisi yang lain justru menjadi penghambat, maka diperlukan kearifan dalam memahaminya. Karena nilai-nilai lokal yang mewarnai Islam malah memperkaya khazanah budaya Islam bukan anomali tetapi perlu dikaji lebih teliti.
Ketiga, masa depan memang kepercayaan, agama dan ilmu pengetahuan banyak mendapat tantangan. Formalitas atau pengaturan terhadap banyak hal tentang hidup dan kehidupan justru menjadi instrumen seleksi mana yang akan dipilih masyarakat untuk bertahan. Di sini narasi tentang kehidupan umat beragama tampak lebih semarak, bersemangat dan dinamis perlu kehati-hatian.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


