Oleh: H. Rahudman Harahap, MM
Ketua PW IPHI Sumatera Utara
Pertama-tama saya menyampaikan apresiasi yang setinggi-tingginya atas suksesnya penyelenggaraan Muktamar VIII Ikatan Persaudaraan Haji Indonesia (IPHI) di Bali. Saya juga mengucapkan selamat dan sukses kepada Bapak H. Erman Suparno yang kembali dipercaya memimpin IPHI sebagai Ketua Umum PP IPHI periode 2026-2031.
Kepercayaan yang diberikan para peserta muktamar merupakan amanah besar yang sarat tanggung jawab. Semoga kepemimpinan beliau membawa keberkahan, kemajuan organisasi, serta memberikan manfaat yang semakin luas bagi umat, bangsa, dan negara.
Sebagai Ketua Sidang Paripurna Muktamar VIII IPHI, saya memandang bahwa perhelatan di Bali tidak semata-mata agenda pergantian kepemimpinan lima tahunan. Lebih dari itu, Muktamar Bali harus dikenang sebagai momentum kebangkitan dan titik lepas landas IPHI menuju masa depan yang lebih visioner, progresif, dan relevan dengan perkembangan zaman.
Bali bukan sekadar destinasi wisata yang mendunia. Bali adalah ruang perjumpaan berbagai bangsa, budaya, dan peradaban. Dari pulau yang menjadi etalase Indonesia di mata dunia itulah, IPHI memperoleh momentum strategis untuk melakukan lompatan paradigma dalam menata masa depannya.
Sudah saatnya IPHI keluar dari ruang romantisme masa lalu yang terlalu panjang.
Sejarah tentu penting. Tradisi adalah bagian dari identitas. Kebanggaan sebagai alumni haji merupakan kehormatan yang harus dijaga. Namun organisasi besar tidak dibangun hanya dengan mengenang kejayaan masa lalu. Sejarah seharusnya menjadi sumber inspirasi untuk melangkah maju, bukan tempat berdiam diri.
Kita hidup di era yang berubah sangat cepat. Perkembangan teknologi digital, kecerdasan buatan (Artificial Intelligence), ekonomi syariah, ketahanan pangan, kesehatan masyarakat, perubahan iklim, hingga dinamika geopolitik global menghadirkan tantangan baru yang tidak bisa dijawab dengan cara-cara lama.
Karena itu, IPHI tidak cukup hanya menjadi wadah silaturahmi dan organisasi yang berkutat pada kegiatan seremonial semata. Nilai kemabruran harus melahirkan kebermanfaatan. Gelar haji harus melahirkan keteladanan. Persaudaraan harus berkembang menjadi kekuatan sosial yang mampu memberi kontribusi nyata dalam bidang pendidikan, ekonomi, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, dan pembangunan peradaban.
Sesungguhnya IPHI memiliki modal yang sangat besar. Jutaan alumni haji yang tersebar di seluruh pelosok Indonesia merupakan kekuatan moral, sosial, intelektual, dan ekonomi yang luar biasa. Potensi tersebut tidak boleh berhenti sebagai kebanggaan simbolik, tetapi harus diubah menjadi energi perubahan yang produktif dan berkelanjutan.
Muktamar Bali hendaknya menjadi titik awal transformasi besar. Ukuran keberhasilan organisasi tidak lagi hanya dilihat dari banyaknya pengurus, megahnya acara, atau ramainya kegiatan. Keberhasilan sejati diukur dari sejauh mana organisasi mampu menghadirkan solusi, memberikan manfaat, dan menjadi bagian dari jawaban atas persoalan umat dan bangsa.
Sudah waktunya IPHI bergerak:
Dari nostalgia menuju inovasi.
Dari simbol menuju karya nyata.
Dari kebanggaan masa lalu menuju pengabdian masa depan.
Dari organisasi romantisme menuju organisasi peradaban modern.
Karena kemabruran yang sesungguhnya tidak berhenti ketika seseorang kembali dari Tanah Suci. Kemabruran sejati adalah ketika nilai-nilai haji menjelma menjadi ilmu yang mencerahkan, keteladanan yang menginspirasi, pelayanan yang tulus, serta kebermanfaatan yang dirasakan masyarakat luas.
Selamat kepada Ketua Umum PP IPHI H. Erman Suparno beserta seluruh jajaran kepengurusan yang baru.
Dari Bali, kota dunia yang menjadi saksi perjalanan sejarah Muktamar VIII, IPHI telah lepas landas.
Bukan untuk kembali tenggelam dalam romantisme masa lalu, melainkan untuk menjemput masa depan.
Masa depan IPHI sebagai organisasi peradaban modern yang bermartabat, mandiri, inklusif, dan senantiasa berkhidmat bagi umat, bangsa, serta kemanusiaan.


