Ketika seseorang berkendara, ia tidak hanya membawa dirinya, tapi juga mencerminkan akhlaknya. Bayangkan jika seseorang membuang ludah atau sampah sembarangan dari kendaraannya. Selain mengganggu pengendara lain, itu juga bisa menimbulkan bahaya, mencemari lingkungan, dan menunjukkan kurangnya tanggung jawab sosial. (Robie Fanreza, 2025).
Setiap hari dari rumah ke rumah ibadah kita melewati jalan, dari rumah ke kantor, tempat kerja menggunakan jalan, bahkan untu ke pasar seorang ibu rumah tangga menjadikan jalan untuk sampai.
Jalan bukan sekadar menghubungkan tempat, tetapi ribuan orang mencari nafkah disana, dari supir angkot, dinas angkutan jalan, supir sampai polisi lalulintas semua ada di jalan. Di jalan ada orang, ada barang, ada kendaraan, adapula kehidupan mungkin makanya ada aturan dalam berjalan, karena boleh jadi banyak masalah.
Saya, kamu, dan kita semua pasti pernah melalui satu jalan, atau sebagian orang justru hidupnya di jalan, maka masalah, kepatuhan, kesemrawutan adalah hal yang tidak bisa dihindarkan.
Ada sisi lain di jalan yakni soal etika bagi pengendara tentang tingkah laku di jalan dan ini pernah diteliti oleh saudara kita Robie Fanreza dan Amhar Nasution.
Dalam pernyataan yang dihasilkan ditemukan bahwa masih banyak pengguna jalan yang melakukan tindakan tidak selayaknya di jalan. Bayangkan jika seseorang membuang ludah atau sampah sembarangan dari kendaraannya.
Tentu kaya bayangkan, bukan mengajak kita harus melakukan lebih dari itu adalah kejadian yang selama ini pernah terjadi baik didepan kita, di belakang atau bahkan di kendaraan kita sendiri. Meludah memang sepele, tatapi dampaknya luar biasa sampai pada aspek lainnya dalam berkendaraan di jalan raya.
Menurut peneliti, selain mengganggu pengendara lain, meludah itu juga bisa menimbulkan bahaya, mencemari lingkungan, dan menunjukkan kurangnya tanggungjawab sosial. Inilah salah satu yang harus dicermati dilihat sebagai gejala dalam kehidupan sosial berkendaraan.
Apakah meludah itu memang kebiasaan dari rumah terbawa sampai di jalan, atau memang seseorang yang membutuhkan tempat meludah di dalam kendaraan atau di jalan. Tidak ada yang perlu dijawab, karena meludah itu tindakan yang tidak baik bila dilakukan tidak pada tempatnya.
Sampai pada bagian yang lebih dalam, kajian tentang meludah atau kebiasaan tidak baik dalam ketika berkendaraan peneliti membuat pernyataan terkait hal ini.
Dalam perspektif spiritual, mengendalikan hawa nafsu, termasuk keinginan spontan untuk meludah sembarangan, adalah bagian dari jihad kecil yang mulia. Rasulullah saw bersabda bahwa jihad itu tidak hanya di medan perang, tapi juga dalam perjuangan menundukkan keinginan diri yang tidak baik.
Maka ketika kita mampu menahan diri dalam hal sekecil ini, kita sejatinya sedang menanam nilai-nilai kesalehan dan kebajikan yang bernilai besar di hadapan Allah. Jalan raya akan menjadi lebih nyaman dan penuh berkah jika dihuni oleh orang-orang yang menjunjung tinggi etika dan akhlak mulia.
Mulai saat ini, marilah kita jadikan jalan dari rumah ke tempat ibadah benar-benar bernilai kebaikan, dari rumah ke tempat kerja harus jauh dari kebiasaan yang buruk, bahkan ibu-ibu sekalipun pergi ke pasar harus membiasakan diri tidak meludah sedapatnya.
Dari mana dimulai dari pak supir, atau siapa saja yang berkendaraan atau mereka yang menjadi penumpang. Dengan itulah maka tanggung jawab sosial akan terjaga, walaupun dari perilaku satu orang-satu orang yang memulai dari kesadaran bahwa berjalan harus memiliki etika.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















