Sistem pendidikan, pelatihan, dan penilaian (assessment) serta kerangka berpikir tradisional telah dikritik selama bertahun-tahun. Perusahaan (pemberi kerja) mengeluh karena orang yang berkualifikasi yaitu mereka yang telah menyelesaikan pembelajaran (pendidikan/pelatihan) yang diakui hanya tahu untuk melakukan sesuatu, tetapi tidak dapat melakukan sesuatu. (Shirley Fletcher, 2005:xii).
Ternyata tahu dan dapat itu beda, padahal dalam kehidupan sehari-hari kita selalu dihadapkan pada orang yang tahu melakukan dan dapat pula ia menyelesaikannya. Namun seiring perkembangan dunia ini banyak hal orang hanya mengejar untuk tahu dan selesai, tetpai ia tidak mesti dapat melakukannya.
Dengan cara itu beberapa orang akhirnya mendapat ijazah atau pengakuan formal bahwa dirinya telah mengetahui banyak hal dan dianggap ahli. Ahli dalam hal ini adalah tahu tentang berbagai pengetahuan formal, berbagai problematika kehidupan bahkan kompleksitasnya kehidupan yang ada di sekeliling kita.
Harus diakui bahwa pendidikan kini lebih berorientasi pada penguasaan agar seseorang tahu, tahu segala-galanya dan ia mendapat pengakuan. Ijazah pendidikan formal lebih sarat pada hal-hal yang bersifat kognitif, dari sejak pembelajaran sampai terkait dengan pengukuran atau penilaian.
Ujian sebagai cerminan dari pengukuran dan penilaian lebih diarahkan pada melihat apakah seseorang mengetahui bukan mampu melakukan. Di sinilah akar masalahnya, maka banyak pengguna hasil pendidikan dan pelatihan selalu dipertanyakan.
Terdapat tiga hal penting untuk menjadikan ini bagian dari masalah yang harus kita selesaikan yakni;
Pertama, maksud penilaian dalam program pembelajaran adalah mengumpulkan bukti bahwa anda telah berhasil belajar minimal pada tingkat persentase tertentu dan silabus. Ini artinya bahwa penilaian suatu program baik itu pembelajaran di kelas atau kegiatan pelatihan harus dinilai sejauhmana, seberapa besar perubahan kemampuan melakukan seseorang terhadap satu kompetensi. Sekali lagi adalah kemampuan melakukan bukan kemampuan mengetahui, maka penilaian harus pada unjuk kerja, atau kinerja.
Kedua, dalam sistem penilaian berbasis kompetensi, maksud dari penilaian adalah mengumpulkan bukti yang memadai bahwa individu dapat melakukan atau berperilaku sesuai standar yang ditetapkan dalam peran tertentu. Untuk inilah maka penilaian itu tidak pada satu kejadian, tetapi berlangsung selama berselang waktu, dimana pengukuran dan penilaian diterapkan pada proses seseorang menyelesaikan satu tugas. Bukan hanya pada hasil akhir tetapi bagaimana ia melakukan, dengan cara apa, bahkan kesanggupan mencari alternatif pemecahan bila ada masalah.
Ketiga, apabila penilaian ini juga dihubungkan dengan sistem imbalan, maksudnya adalah pengakuan formal terhadap keberhasilan kinerja. Semua hasil harus dapat diukur dan pengukuran harus dilakukan secara berkala bahkan berdampak. Cara yang dilakukan adalah dengan memberi tanda batas kemampuan atau kompetensi, maka sertifikat, ijazah atau surat pengakuan atas pengakuan harus diberikan dengan obyektif.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















