Oleh Prof Dr Mardianto MPd
Konsep takdir menurut al-Qur`an, menghendaki agar manusia giat, kreatif, produktif dan bertanggung jawab di tengah-tengah perannya sebagai khalifah di atas bumi ini. Dan ini bisa dijadikan sebagai etos kerja umat Islam dan sekaligus dapat pula dijadikan usaha yang representatif dalam mengamalkan al-Qur`an. (Sulaiman Ibrahim, 2016:172).
Konon kabarnya ketika manusia masih hidup ia dapat berjalan di muka bumi ini kemana saja dia kehendaki. Selagi mampu mengarungi lautan dapat diselami, menjelajah hutan dapat dijalani bahkan terbang ke angkasa sebagian sudah membuktikan.
Apa bekalnya boleh jadi ilmu pengetahuan, atau pengalaman bahkan hasil kerjasama dengan semua orang. Tetapi ada satu hal yang tidak perlu ketiganya yakni tidur, dan semua orang dapat melakukannya.
Tidur adalah kegiatan personal tidak perlu sekolah tinggi, tidak mesti punya pengalaman panjang apalagi harus tidur dengan banyak orang. Dalam tidur kita kadang mempunyai mimpi, namun anehnya mimpi tersebut tak pernah kita kendalikan mau mimpi apa kita malam nanti.
Padahal kita sendiri yang mengalami dan yang memiliki tidur. Ada hal lain yang turut menentukan dalam tidur, ketika mimpi dan siapa pula yang mampu menyadarkan atau membangunkan setelah itu. Sungguh ini salah saatu awal kita mengenal kehendak Tuhan.
Sulaiman Ibrahim memaknai bahwa hubungan perbuatan manusia dengan kehendak Tuhan mengandung pengertian bahwa kehendak Tuhan belum pasti sejalan dengan perbuatan-Nya.
Mengapa ini terjadi karena Tuhan sebenarnya telah memberi kita petunjuk bahwa hidup ini harus berkelanjutan dan lakukan sesuai dengan aturan agar selamat dalam perjalanan.
Dari pelajaran kita antara kehendak Tuhan dan kehendak manusia maka kita menyadari satu hal penting tentang proses tersebut. Dalam hal ini kita mengerti bahwa karena perbuatan itu baru muncul setelah adanya kehendak, sedangkan perintah sebenarnya menunjuk adanya sesuatu yang diridhai Tuhan. Disini kita diajarkan sebelum melakukan sesuatu maka niatkan bahwa apapun yang akan dilakukan sebaiknya tujukan kepada ridha Tuhan baru untuk yang lain.
Tuhan itu bukan milik individu, tetapi milik semua yang ada di dunia ini. Walaupun kita sendiri memiliki jalur tersendiri kapan, di mana, saat momen apapun Tuhan siap melayani dan menjawab apa yang kita kehendaki.
Tetapi catatannya adalah bahwa kehendak Tuhan masih bersifat umum, belum menentukan adanya perintah atau larangan. Perintah yang sampai detail memerlukan kajian lebih jauh dari sumber yang lebih spesifik sesuai dengan pengetahuan, pengalaman serta pemahaman manusia.
Catatan penting tentang kehendak Tuhan dan keinginan manusia akan mengarah pada persoalan takdir. Dalam hal ini kita diingatkan bahwa kehendak Tuhan belum menentukan perbuatan manusia, tetapi perbuatan itu timbul karena perintah atau larangan Tuhan saja, sehingga kehendak Tuhan itu masih berbentuk qadha yang bersifat qadim dan azali, bukan berbentuk qadar yang bersifat hadits.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


