Sebuah partai politik tidak lahir dari ruang hampa. Ia tumbuh dari kegelisahan terhadap keadaan, dipupuk oleh gagasan, lalu diwujudkan melalui keberanian dan kerja bersama.
Demikian pula kelahiran Partai Gerakan Indonesia Raya—Gerindra—yang bermula dari keprihatinan terhadap kondisi demokrasi, ketimpangan ekonomi, serta kehidupan rakyat yang dinilai belum sepenuhnya memperoleh keadilan dan kesejahteraan.
Percikan awal gagasan itu muncul pada November 2007, ketika Prabowo, Muchdi PR, Fadli Zon dan Hashim Djojohadikusumo berbincang berdiskusi saat bersama – sama di Bangkok Thailand.
Pembicaraan tersebut kemudian berkembang di lingkungan Hashim dan Prabowo Subianto. Setelah melalui perdebatan dan pertimbangan panjang, muncul kesepakatan bahwa Indonesia memerlukan sebuah kekuatan politik baru dengan haluan nasionalis, kerakyatan, dan berlandaskan Pancasila.
Dalam catatan KPU mengenai peserta Pemilu 2009, Prabowo Subianto tercantum sebagai inisiator Gerindra. Sementara Muchdi PR Suhardi, Ahmad Muzani, Fadli Zon, dicatat sebagai para pendirinya. Gerindra resmi berdiri pada 6 Februari 2008.
Catatan tersebut menegaskan bahwa Prabowo dan Muchdi PR memiliki posisi penting, meskipun proses kelahiran Gerindra tetap merupakan buah dari perjuangan banyak tokoh.
Sebagai inisiator, Prabowo Subianto memberikan arah besar bagi perjuangan Gerindra. Ia membawa gagasan tentang kebangkitan nasional, kemandirian bangsa, ekonomi kerakyatan, serta keberanian Indonesia untuk berdiri di atas kekuatannya sendiri. Prabowo pula yang menggagas penggunaan kepala burung Garuda sebagai lambang partai—simbol keberanian, keteguhan, dan cita-cita menuju Indonesia yang berdaulat.
Namun, gagasan besar tidak akan menjadi kenyataan tanpa orang-orang yang bersedia bekerja membangun fondasinya. Di sinilah Muchdi PR mengambil bagian penting sebagai salah satu pendiri.
Pada Desember 2007, Muchdi hadir bersama para tokoh awal lainnya dalam rangkaian pertemuan di markas Institute for Policy Studies, Bendungan Hilir. Mereka bekerja membahas dan merumuskan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga partai. Pekerjaan tersebut dilakukan secara intensif di tengah waktu yang terbatas menjelang tahapan Pemilu 2009.
Keterlibatan Muchdi PR menunjukkan bahwa dirinya bukan sekadar pendukung yang datang setelah Gerindra berdiri. Ia hadir ketika fondasi organisasi sedang disusun, ketika identitas partai sedang dicari, dan ketika arah perjuangan sedang dirumuskan. Bersama Prabowo dan tokoh-tokoh lainnya, Muchdi ikut mengubah sebuah gagasan menjadi organisasi politik yang nyata.
Prabowo menjadi penggerak utama yang memberikan arah dan keberanian. Muchdi PR menjadi salah satu pendiri yang membantu meletakkan fondasi kelembagaan.
Sementara Hashim Djojohadikusumo, Fadli Zon, Suhardi, Ahmad Muzani, dan para tokoh awal lainnya memberikan sumbangsih sesuai peran masing-masing. Karena itu, sejarah kelahiran Gerindra sepatutnya dipahami sebagai perpaduan antara kepemimpinan seorang inisiator dan kekuatan kerja kolektif para pendirinya.
Pada 6 Februari 2008, Gerindra akhirnya dideklarasikan. Partai ini membawa cita-cita untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang merdeka, berdaulat, bersatu, demokratis, adil, makmur, beradab, dan berketuhanan berdasarkan Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Deklarasi tersebut bukan sekadar kelahiran sebuah partai, melainkan penegasan sebuah tekad untuk memperjuangkan kepentingan rakyat melalui jalur demokrasi dan konstitusi.
Kilas balik ini bukan hanya untuk mengenang nama-nama yang tercatat dalam sejarah. Lebih dari itu, sejarah harus menjadi sumber pembelajaran. Menghormati Prabowo sebagai inisiator dan Muchdi PR sebagai salah satu pendiri berarti menjaga nilai-nilai yang melandasi kelahiran Gerindra: keberpihakan kepada rakyat, kemandirian bangsa, persatuan nasional, serta keberanian memperjuangkan keadilan.
Pada akhirnya, kebesaran sebuah partai tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mendirikannya, tetapi oleh seberapa konsisten generasi penerusnya menjaga cita-cita awal tersebut. Sejarah telah mencatat siapa yang memulai dan siapa yang ikut membangun. Kini, tanggung jawab generasi berikutnya adalah memastikan bahwa perjuangan itu terus diwujudkan melalui pengabdian yang jujur, demokratis, dan benar-benar menghadirkan manfaat bagi seluruh rakyat Indonesia.
Sebab gagasan membutuhkan keberanian untuk dimulai, organisasi membutuhkan kebersamaan untuk dibangun, dan kekuasaan membutuhkan tanggung jawab untuk dijalankan.


