Semua kita akan mengalami masa di mana anak-anak tumbuh menjadi remaja, dari remaja melangkah berkembang menjadi dewasa, akhirnya satu hal yang tidak dapat dihindari adalah menjadi orang tua. Orang tua itu status karena memiliki anak, bersyukurlah karena sebagian belum dikaruniai atau belum mendapatkannya. Dari cerita orang tua inilah maka kita dapatkan apa yang disebut dengan anak, hubungan di antara keduanya, atau tanggung jawab bahkan soal warisan apa yang harus disiapkan.
Sebagian orang tua ketika mempunyai anak mengalihkan sebagian perhatiannya pada keturunan. Boleh jadi cita-cita yang tidak kesampaian diberikan untuk dicapai anak pertama, atau justru anak kedua diminta meneruskan pekerjaan yang menjadi warisan.
Ada lagi anak ketiga yang menjadi harapan untuk menjaga keluarga dimana warisan rumah besar tempat tinggal yang penuh kenangan agar terus dirawat agar jangan berpindah tangan. Hem….memang kalau cerita orang tua dan anak apalagi warisan sangat ramai, kompleks bahkan sedikit emosi.
Adalah Pak Marmuj seperti biasa cerita di sudut jalan dengan tetangga yang memilki warisan terkait kekayaan dan tanggung jawab.
Pak Marwar datang memulai dengan info yang dianggap lagi hangat di desa.
Pak Marmuj; hem…..apa cerita kita hari ini, banjir sudah surut, harga ikan masih tinggi, undangan pesta masih ramai…..
Pak Marwar; ini pak saya baru dengar bahwa warisan yang kita terima dari orang tua zaman dulu ternyata tidak sama dengan kita zaman sekarang.
Pak Marsan; ha…..ini cerita warisan, semua kita pasti punya warisan kan? Apa masalahnya. Pak Marmuj; ya warisan itu ada dari ajaran agama kita.
Apa kalian tahu bahwa prinsip-prinsip warisan dalam Islam:
Pertama, harta warisan adalah milik Allah karena harta warisan dianggap sebagai titipan Allah kepada manusia, sehingga harus dibagi sesuai dengan ketentuan Allah.
Kedua, pembagian warisan berdasarkan keturunan, dalam hal ini warisan dibagi berdasarkan hubungan kekerabatan, seperti anak, cucu, orang tua, dan saudara.
Ketiga, pembagian warisan berdasarkan jenis kelamin, untuk itulah maka dalam beberapa kasus, laki-laki mendapat bagian dua kali lipat dari perempuan.
Dan yang keempat, pembagian warisan harus adil, disinilah maka pembagian warisan harus dilakukan secara adil dan tidak boleh ada yang dirugikan.
Pak Marwar; wah…seperti ustaz saja Pak Marmuj ini, kalau yang itu kita semua setuju tidak ada yang menolak, tapi ini masalahnya lain pak.
Pak Marsan; nah….apa rupanya masalahnya pak Marwar?
Pak Marwar; e…begini ceritanya, kita orang tua sudah berusaha hemat, kita beli tahan bahkan sudah kita siapkan empat kapling untuk anak-anak, e…..anak pertama malah merantau jauh di pulau seberang tak mau pulang, anak kedua tanahnya lebih banyak dari saya, malah anak yang keempat lebih senang tinggal di apartemen macamlah alasannya. Jadi untuk apa warisan kita siapkan capek-capek, mbayarin pajak saja kita tiap tahun.
Pak Marwar; kalau pak Marsan apa ada kasus lain.
Pak Marsan; ia sama juga pak, saya ada kendaraan tiga buah maksudnya juga sama mau kami wariskan untuk anak-anak, tapi tanggapannya di luar dugaan.
Pak Marmuj; diluar dugaan maksudnya pak?
Pak Marsan; ya saya belikan mobil untuk anak pertama, malah dia lebih senang pakai kendaraan online katanya bebas mau pesan apa, kapan dimana saja sudah ada. Saya siapkan mobil untuk anak kedua, bapak tahu justru dia lebih senang pakai kendaraan dinas, alasannya karena semua fasilitas sudah disiapkan ngapain repot-repot.
Pak Marsan; kalau Pak Marmuj bagaimana?
Pak Marmuj; ya….sayapun kadang bingung, memang warisan itu banyak ceritanya.
Saya mencoba memberi warisan untuk anak sulung saya ilmu pengetahuan saya sekolahkan tinggi tinggi sampai sarjana, justru dia sepertinya dia malah belajar kuliah terus sampai S3 bahkan ke luar negeri tak berhenti padahal sudah punya anak. Sekolah terus……….
Anak kedua beda lagi, saya ingin memberi warisan rumah tempat tinggal kami, malah dia tidak mau disini alasannya menjaga rumah sewa nya di kota entah berapa jumlahnya….hem….
Anak ketiga ini memang istimewa saya berikan rumah agar ia bisa tinggal dengan kami nanti di hari tua, kan kita senang dengan cucu maksudnya, e…malah tak bisa….
Pak Marsan; tak bisa apa pak.
Pak Marmuj; anak saya yang ketiga itu kan paling kecil perempuan dia dapat suami juga anak paling kecil sama-sama anak bungsu maka dia harus tinggal menjaga orang tua suaminya atau mertuanya….yaaaa…apa mau di buat..punya warisan tambah masalah….
Pak Marsan; hem…ternyata punya warisan maka punya masalah ya pak, apalagi banyak warisan maka banyak……..
Pak Marmuj cepat menyela; bersyukurlah kita masih bisa sehat, bisa memberikan yang terbaik untuk anak-anak kita. Ingat masih banyak tetangga dan saudara kita justru kebingungan untuk mendapatkan nafkah hidup. Ingat ini….. ya pada dasarnya warisan itu diberi bukan diminta. Titik.
Semua terdiam, termenung, tertegun, yang pasti mungkin ada yang tersindir.
Hem….Pak Marmuj…Pak Marmuj….memanglah…..
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; setiap kita akan mengalami yang disebut orang tua atau orang yang memiliki tanggung jawab terhadap anak dan keturunan kita. Maka bersiaplah baik secara emosional, psikologis terlebih menghadapi berbagai keadaan bahkan masalah warisan sekalipun.
Kedua; warisan terbaik adalah ilmu pengetahuan, dengan ilmu kita dapat membekali anak agar dapat hidup kapan saja di mana saja dan dalam keadaan apa saja ketika kita tinggalnya.
Ketiga; warisan itu diberi oleh orang tua bukan dapat karena meminta. Sungguh naif bila membicarakan warisan adalah persoalan untuk mereka agar mendapatkan, yang benar adalah ikuti ajaran agama agar semua mendapat berkah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















