Hidup ini terus berjalan, dari detik ke menit, dari menit ke jam dari jam ke hari, sampailah sepekan, dihitung akhirnya berganti bulan, seperti terasa atau tidak tahun pun berlalu. Tak tahulah apakah kita memaknai hidup hanya persoalan pergantian, atau ada yang ingin dicapai tetapi belum kesampaian. Semakin dipikirkan, kadang kita sulit memperhitungkan, bahkan ada yang menyimpulkan ternyata hidup ini adalah ujian, cobaan atau kenikmatan.
Perbincangan tentang hidup tidak ada berhentinya, selagi hidup disaat itu pula lagi-lagi kita cerita tentang isinya, kali ini Pak Marmuj masih cerita sekitar hidup dan ujian, atau ujian hidup. Namun ada sedikit yang berbeda, namanya juga Pak Marmuj dari satu kata “Ujian” bisa jadi cerita tetapi yang penting ada hikmah dibaliknya.
Duduk di sudut jalan cerita tentang ujian dimulai dari pengalaman beberapa tetangga tentang keberhasilan atau bahkan kegagalan mengikuti ujian. Perbincangan pun dimulai.
Pak Martes; pak kemarin anak tetangga tidak lulus ujian, sayang sekali padahal dia sudah menyiapkan semua (sambil berbisik) menyiapkan uang hasil penjualan ladang sawit).
Pak Marmuj; ujian apa?
Pak Martes; katanya sih ujian pegawai BUMN pokoknya pakai seragam gitulah.
pak Marmuj; ah, biasalah namanya juga ujian jadi ada yang lulus ada yang tidak.
Pak Martan; anak saya tidak bisa masuk tentara karena kurang memenuhi syarat fisik yakni tinggi badan, berbeda pula dengan anak tetangga saya pak kemarin katanya gagal karena tidak mempunyai kualifikasi pendidikan, bahwa ternyata untuk menjadi guru harus tamat sarjana strata satu.
Pak Marmuj; ya, memang ujian itu banyak syarat, kualifikasi dan macamlah namanya juga ujian. Ini lihat ada tiga macam ujian yang pertama lebih mengutamakan kejujuran, kedua ada pula ujian terkait fisik dan ada yang ketiga.
Pak Martes: Pak apakah ada ujian yang tidak harus berdiri, tidak harus berlari, tidak harus capek menjawab soal.
Pak Marmuj; ada ini benar pengalaman tetangga kita ketika mau melamar untuk mendaftarkan pekerjaan yang diinginkan.
Ketika masuk ruang ujian dia disuruh menunggu duduk diam di satu ruangan. Dia menunggu dengan tenang di sepuluh menit pertama, kemudian duduk bersabar di menit dua puluh menit kemudian, akhirnya menjelang menit keempat puluh dia gelisah tidak sabar.
Pak Martes; jadi pak apakah dia lulus.
Pak Marmuj; dia lulus berkas, tetapi tidak lulus tes duduk.
Pak Martes; maksudnya apa ada “ujian duduk” pak, yang benar lah pak.
Pak Marmuj; ya dia ujian duduk tidak lulus, karena dia melamar untuk menyadi penyiar televisi khusus bidang reportes sepak bola, yang harus tahan duduk lebih dari 45 menit.
Pak Martes; oh..ya….ya……
Ternyata untuk menjadi penyiar televisi khususnya reporter olahraga seperti sepak bola salah satu syarat utama dalah tahan duduk berlama-lama
Semakin penasaran cerita tentang ujian yang bermacam-macam ketiga teman ini tak berhenti membahasnya, dari cerita tetangga, sampai pengalaman pribadi, mungkin saja untuk pertimbangan ujian yang akan diikuti dimasa mendatang.
Pak Martan; pak apa ada tesnya pandai bicara.
Pak Marmuj; ada ujian menjadi penyiar radio, tak penting tinggi, yang penting pandai cakap berlama-lama, nah yang ini cocok untuk bapak.
Ha….haha…….hahaha…………ha…….haha……….
Ketiga teman akrab Pak Marmuj, Pak Marten, dan Pak Martes tertawa lepas.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; setiap anak memiliki bakat dan kemampuan yang berbeda, maka kita harus melihat sisi kelebihan untuk dibina dan dikembangkan, dan kelemahan untuk ditutupi atau dilengkapi.
Kedua; bakat dan kemampuan diukur dan diuji sesuai dengan karakteristik kompetensi yang akan diminta oleh pengguna, maka tidak ada yang sama satu dengan lainnya.
Ketiga; ujian itu sederhana adalah melakukan sesuatu sesuai dengan kemampuan, menyelesaikan target agar sampai tujuan, dan jangan jadi beban.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















