Yang paling prinsip dalam pendidikan adalah agar manusia itu dapat mengenal dirinya, bahwa dia adalah manusia (subyek) bukan obyek. Pendidikan harus membuat orang sadar bahwa dia ada, exist, dan dia turut menentukan masa depannya bersama orang lain. Pendidikan itu harus membuat kehidupan kita lebih manusiawi, lebih adil dan lebih padu. (T Mulya Lubis, 1982:83).
Ketika masyarakat hidup tenang, tenteram, dan damai maka itu adalah karya dari berbagai lapisan penduduknya. Setiap individu dalam keluarga pasti memiliki peran, setiap keluarga dalam lingkungan warga pasti mempunyai tugas, dan akhirnya semua yang terjadi adalah hasil dari kolaborasi.
Ketenangan tidak datang tiba-tiba, ketenteraman bukan turun dari langit, dan kedamaian pasti bukan hadiah, tetapi hasil usaha semua individu yang terlibat didalamnya.
Masyarakat yang hidup tenang, tenteram dan damai adalah cita-cita, tetapi itu bisa menjadi nyata, kini timbul pertanyaan bagaimana cara mencapainya. Para ahli sosiologi memberikan teori bahwa penghargaan terhadap peran individu dalam komunitas itu adalah kunci utama.
Sementara para ahli pendidikan menjelaskan semua harus dimulai dari bangunan keluarga. Walaupun lahir ilmu sosiologi keluarga, sosiologi pendidikan, tetapi mengerti dan memahami peran individu itu sangat penting.
Bagaimana menjadikan individu sebagai manusia dalam arti seutuhnya, di sinilah T Mulya Lubis aktivis Hak Azasi Manusia memberikan perspektif yang lebih spesifik.
Menurut beliau ada tiga hal penting yang harus dijadikan landasan berfikir yakni sebagai berikut:
Pertama, pendidikan adalah usaha agar manusia itu dapat mengenal dirinya, bahwa dia adalah manusia (subyek) bukan obyek. Kurikulum pendidikan memang harus dirancang untuk memanusiakan manusia, bukan menjadi pekerja atau buruh. Disinilah pendidikan nilai, memiliki peran utama bukan hanya pada proses pendidikan tetapi bagaimana para pendidik memerankan diri dalam membina peserta didik.
Kedua, pendidikan harus membuat orang sadar bahwa dia ada, eksis dan dia turut menentukan masa depannya bersama orang lain. Tidak ada yang berhasil secara tiba-tiba, semua adalah berproses, karena siapa saja yang mengalami maka ia telah mendapatkan pembelajaran darinya. Orang yang sukses karena orang lain akan musnah, tetapi hasil apapun bila itu karya diri sendiri, maka akan menjadi bermakna, disinilah lahir eksistensi diri.
Ketiga, pendidikan itu harus membuat kehidupan kita lebih manusiawi, lebih adil dan lebih padu. Ketika diri kita membutuhkan bantuan orang lain, maka dia masih membutuhkan pendidikan. Ada saatnya kita telah mengalami dan mampu berbagi pengalaman dengan orang lain, maka di sinilah kita dapat mendidik diri sendiri. Namun di saat kita menjadi inspirasi bagi orang lain, maka di sanalah pendidikan telah berlangsung dan bermakna.
Keadilan yang manusiawi adalah di saat kita mampu memberikan yang terbaik pada orang lain bersamaan dengan kebaikan pada diri sendiri.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















