Jumlah anak, atau jumlah cucu, biasanya selalu menjadi bahan carita yang tiada habis-habisnya ketika perbincangan lepas di beranda rumah sesama tetangga. Apalagi dengan teman yang sudah lama tidak jumpa ketika reuni alumni sekolah, dari apa kabar tentang kesehatan, sampai berapa jumlah anak cucu, sampai sudah dimana mereka sekarang. Sungguh itulah bagian dari kebahagiaan dari perjalanan hidup, tidak ada yang tahu padahal rencana selalu disusun, tetapi perjalanan banyak faktor yang menentukan, akhirnya tujuan selalu ada taqdir menentukan.
Disini Pak Marmuj dan pak Maris selalu memulai pembicaraan dari persoalan diri, tentang kesehatan, persoalan keluarga tentang kesenangan, dan disana ada bagian tetangga atau teman tentang pekerjaan. Namun reuni kali ini sedikit berbeda, cerita tentang anak sudah, cerita tentang cucu bahkan dihitung hampir lupa, kini cerita tentang istri, maksudnya jumlah istri.
Pak Maris; Pak teman kita sepertinya kasihan, pagi berangkat, pulang setelah petang, boleh jadi karena banyak kebutuhan harus dipenuhi ya pak.
Pak Marmuj; ya, memang masing-masing kita berbeda, ada yang kerja pagi, ada pula yang kerja siang, ada pula yang kerja malam, tetapi bersyukurlah masih punya pekerjaan.
Pak Maris; ini maksudnya pak tetangga kita itu kerjanya kasihan mungkin karena istrinya dua ya pak?
Pak Marmuj; hem…..tidak jugalah, ada juga istri satu tetapi memang senang kerja keras.
Pak Maris; oh..iya…tahu saya maksudnya pak.
Reuni berlangsung hangat, cerita dari masa kecil sampai berpisah ketika selesai sekolah. Jumpa teman lama memang ada saja ceritanya. Jumlahlah dengan seorang ibu yang lama tak jumpa.
Pak Marmuj; Kenalkan bu saya Pak Marmuj istri saya ada tiga.
Pak Maris terkejut, terbelalak, bingung.
Pak Maris; pak…pak…..maksudnya.
Bu Matri; oh…iya pak……maksudnya bagaimana ini.
Pak Marmuj; iya saya serius istri saya ada tiga,
Bu Marti; ok……pak, bisa jelaskan siapa saja pak.
Pak Marmuj;
Is-one istri pertama saya adalah seorang ibu rumah tangga dia di rumah menjaga dan membesarkan anak-anak kami, sampai sekarang kami tetap satu rumah.
Is-two istri kedua saya adalah seorang guru dia setiap pagi berangkat ke sekolah tempat mengabdikan diri untuk mengabdi kepada negara, mengajar di sebuah SD pinggir kota. Sore hari pulang dan malam kami tetap bersama.
Pak Maris; lho…….
Pak Marmuj; lho…saya lanjutkan ya….
Is-three ketega saya adalah seorang mahasiswa kini sedang menempuh program pasca sarjana di kota, dalam satu pekan dia tiga hari belajar di kelas, kami mendukungnya karena itu adalah karier yang akan menjadi kebanggaan di kemudian hari.
Pak Maris, bu Marti semakin bingung, karena selama ini tidak pernah mendengar Pak Marmuj memiliki tiga istri, sedangkan dua istri saja di kampung ini selalu menjadi hal yang tidak lazim.
Pak Maris mencoba memberanikan diri untuk penjelasan lebih lanjut.
Pak Maris; jadi pak….ketiga istri bapak tinggalnya dimana saja, wah…apa tidak terjadi….
Pak Marmuj cepat-cepat menyela.
Pak Marmuj; apa maksudnya tidak ribut berkelahi.
Ketiga istri saya itu kini tinggal satu rumah, benar saya serius. Ketiga istri saya itu namanya satu yakni bu Mirna. Jelas…….ya bu Mirna istri saya inilah yang menjadi ibu rumah tangga, sekaligus menjadi guru di sekolah dia juga sedang sekolah pasca sarjana.
Pak Maris dan bu Marti sama sama…oalah….Pak Marmuj….Pak Marmuj….memanglah.
Semua senyum malu, akhirnya tertawa lepas bersama…….
Suami adalah pasangan istri, dimana beberapa kelemahan yang ada pada istri harus dilengkapi oleh seorang suami, seperti membantu kegiatan di dalam rumah tangga semisal bersih-bersih, tata menata, atau memberi kemudahan ketika dibutuhkan.
Membantu tidak mesti pada kegiatan di dalam rumah boleh jadi untuk istri yang memiliki pekerjaan formal di luar rumah. Cara membantu adalah dengan memberi ridha atau kesetujuan atas pilihan bekerja, dengan begini maka semua yang dilakukan adalah sebuah keputusan bersama.
Memberi dukungan tidak mesti menyiarkan pada orang banyak di luar rumah. Apabila istri ingin meningkatkan kariernya berilah pengertian dengan tidak meninggalkan fitrahnya sebagai pasangan suami dan ibu rumah tangga.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama;hidup ini pilihan, sebagian kita adalah memilih untuk berumah tangga berarti disana ada pasangan suami istri untuk hidup bersama. Bukan hanya setuju berumah tangga tetapi memiliki tanggungjawab bersama untuk saling membangun sebuah keluarga.
Kedua; kedudukan, fungsi dan peran istri dalam rumah tangga sangat besar karena menjadi pusat lalulitas dari komunisasi seluruh anggota keluarga. Untuk itu dukungan support serta kesetujuan seluruh anggotanya sangat penting demi kelangsungan yang lebih baik.
Ketiga; seorang istri boleh jadi memiliki peran ganda bahkan berlipat ganda untuk mendukung, mempertahankan bahkan mengendalikan perjalanan keluarga dalam berbagai keadaan.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















