Hari itu hari Jumat, sebagian murid diminta cepat pulang, dan kepala sekolah bergegas mengajak seluruh guru dan staf untuk berangkat ke rumah ibu Marsinah. Ada apa gerangan pikir salah seorang guru di sekolah tempat Pak Marmuj bertugas, ternyata ibu guru Marsina meninggal dunia setelah mengikuti pelatihan tentang kurikulum baru selama tiga hari. Sungguh kasihan padahal suami beliau kerjanya mocok-mocok, meninggalkan seorang suami dan tiga orang anak yang sedang kuliah dan dua masih di tingkat SLTA.
Melayat pun berlangsung dengan hikmat, semua guru mengelus dada melihat suami bu Marsinah di tengah ketiga anaknya melepas mayat almarhumah diberangkatkan ke pemakaman. Sepulang melayat Pak Marmuj dan keempat temannya pulang mengendari mobil yang sama, hitung-hitung sambi silaturahmi dan menuju ke rumah makan favorit pun disetujui.
Di sepanjang perjalanan seperti biasa Pak Marmuj membawa cerita dari soal meninggal sampai pekerjaan yang beresiko kematian.
Pak Marsa; kasihan ya bu Marsinah dia meninggal dalam keadaan bertugas mengikuti pelatihan, berarti fisabilillah.
Pak Marmuj; ya….dia pergi meninggalkan rumah adalah untuk menambah ilmu pengetahuan demi pekerjaan bahkan demi mencerdaskan anak bangsa, itu benar meninggal dalam keadaan kebaikan.
Pak Marsa; Pak Marmuj memangnya meninggal dalam keadaan bertugas kita bukan kah ketika mengajar di kelas?
Pak Marmuj: oh…tidak itu saja, banyak kisah bagaimana orang meninggal karena memegang teguh pekerjaan atau profesinya.
Pak Mardu; ini yang kita tunggu, apa saja itu Pak Marmuj…
Pak Marmuj;
Pertama, ketika Erupsi besar Gunung Merapi kemudian terjadi pada 26 Oktober 2010 pukul 17.58 WIB dengan diikuti sirine panjang yang memicu kepanikan warga sekitar. Seorang yang diangggap memiliki profesi penjaga Gunung Merapi dialah Mbah Maridjan kala itu menolak untuk dievakuasi.
Mbah Maridjan ingin menepati janjinya kepada Sultan HB IX untuk terus menjaga Merapi sampai akhir hayat. Mbah Maridjan memilih menetap di rumahnya di Desa Kinahrejo, saat keluarganya mengungsi.
Pak Marsa; iya-iya..pak masih ingat kita, semua.
pak Marmuj; saya teruskan. Awan panas dari Merapi, gunung yang dijaganya pun merenggut nyawanya. Mbah Maridjan ditemukan meninggal di dapur rumahnya dan ditemukan pada Rabu (27/10) dalam posisi sujud. Mbah Marijan contoh orang yang mencintai profesinya dan menjaga sampai akhir hayat, dikenang sampai kini.
Kedua, Nakhoda Kapal Titanic 14 April 1912. Salah satu kisah menarik dalam tragedi Titanic justru datang dari sang Kapten, EJ Smith. Ia yang dikenal sebagai nama besar di dunia pelayaran akhirnya meninggal di laut pula, di atas kapal yang merupakan karier terbesar sepanjang hidupnya. Nakhoda itu bernama Edward John Smith. Pengalaman sang kapten bukan main. Ia pernah mengomandani empat kapal paling besar sebelum Titanic: Baltic, Majestic, New Baltic, dan Adriatic.
Apa yang perlu kita catat; Nakhoda itu mencintai profesinya, ia mempertahankan kemudi ditengah-kejadian itulah ia pun turut meninggal bersama Kapal Titanic.
Pak Mardu; pak tapi katanya cerita itu masih kontroversi
Pak Mramuj; akupun karena nonon film Titanic nya, enta mana yang benar, tetapi kata James Cameroon itulah yang terjadi.
Sudah, ini yang ketiga, seorang porfesior bernama Soedjatmoko, mantan Rektor Universitas Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) Tokyo, Jepang. Soedjatmoko meninggal pada 21 Desember 1989 ketika sedang menyampaikan kuliahnya di Universitas Muhammadiyah Yogyakarta. Ia wafat di usia 67 tahun.
Pak Marsa; wah di laut sudah, di darat sudah, di kelas sudah, kalau di udara ada juga yang meninggal pak.
Pak Marmuj; nah ini yang menarik, setiap pesawat adalah memiliki resiko pekerjaan dengan kematian yang paling tinggi, namun khusus untuk Pilot pesawat tempur Parasut dan Kursi Pelontar adalah wajib. Sehingga dari jumlah pesawat tempur yang mengalami kecelakaan namun tak berbanding sama dengan jumlah pilot yang meninggal.
Pak Marsa; banyak juga bahan cerita Pak Marmuj ya, termasuk meninggal pun ada.
Pak Marmuj; ini kalau kita rajin searching, lihat saja di https://www.detik.com/jateng/jogja/d-6370013/mengenang-mbah-maridjan-sang-juru-kunci-yang-tewas-saat-erupsi-merapi.
Ok, bapak bapak semua sabar-sabar, kita sudah dekat mau sampai, terima kasih pak Supir, semoga pak Supir mencintai pekerjaannya.
Pak Supir; Pak Marmuj saya kalau bisa belum mau meninggal dulu.
Semua penumpang tertawa, dan terima kasih untuk Pak Supir yang baik hati.
Pak Marmuj; syukurilah pak kita sudah punya pekerjaan, bahkan sudah menjadi profesi, itu banyak saudara kita yang sampai hari ini masih bereksperimen cocoknya kerja apa ya…. semua dicoba, semua disalahkan, dan bahkan semua ditimbang-timbang untung rugi. Ingat sekali lagi tidak ada profesi yang paling ideal di dunia ini, yang ada adalah profesi itu akan mendatangi dan melekat pada diri kita ketika kita belajar mencintai apa yang kita miliki, dan menerima risiko yang akan kita hadapi. Mungkin dari sana keberkahan dari pekerjaan akan menjadi spirit terus semangat bekerja.
Ok….selamat hari profesi sedunia.
Semua guru kompak; Pak apa ada hari profesi sedunia?
Pak Marmuj; ya ada….kapan…adalah hari ketika kita bekerja sampai lupa pulang ke rumah…bapak bapak tahu kita kan tadi mau ke rumah makan, ini kok malah langsung ke sekolah….
Hahahahahahahhha.
Pak Marmuj…Pak Marmuj…..memanglah….
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; pekerjaan yang kita pilih bukan satu-satu nya pilihan pribadi atas dasar kemampuan, tetapi ada campur tangan Tuhan sehingga kita ditakdirkan memiliki profesi pekerjaan kita selama ini. Maka bersyukurlah atas profesi yang sedang kita jalani dengan cara mencintai.
Kedua; setiap pekerjaan memiliki resiko, bahkan risiko kematian sekalipun tidak luput dari pekerjaan paling aman dan nyaman. Karena kematian bukan berdasarkan kecelakaan, dimana, dan kapan, tetapi ada takdir Tuhan yang sedang dijalankan.
Ketiga; cintailah pekerjaan kita, karena mencintai profesi adalah bagian dari ibadah dengan itu pula kita akan menjadikan setiap langkah adalah untuk mengabdi kepada sang maha Pencipta.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















