This study discusses the implementation of career guidance for children pelalayanan Raudhatul Athfal (RA). Until now, the career guidance education Raudhatul Athfal (RA) have not been integrated in the form of a program in the whole learning process. In addition, career guidance in Raudhatul Athfal (RA) is not intended to sorting type of work or majors class, but rather the development of the ability of the child throughout life are manifested in the development of psycho-sosial and job descriptions and work around children Raudhatul Athfal (RA).(Alfi Siregar, 2015).
Anak adalah anak, anak bukan orang dewasa berukuran kecil, bahkan anak bukan semata sintesis dari kedua orang tuanya. Anak itu memang unik tidak ada yang sama satu dengan lainnya, dari orang tua yang sama sekalipun tidak ada yang persis sama, para psikolog menjadikan psikologi anak dalam pendekatan berbeda sebagai dasar untuk memberi bimbingan dan layanan.
Anak itu bukan sekadar sintesis atau lahirnya satu sifat baru dari dua orang tua yang berbeda, anak lahir ke atas dunia ini membawa sifat baru yang tidak ada sebelumnya. Walaupun dikelompokkan memiliki suku, ras yang sama para antropolog dan sosiolog tidak berani memastikan semua anak itu memiliki garis linier yang persis 100% dengan leluhurnya.
Pendidikan yang diterapkan dalam kegiatan bimbingan dan konseling memiliki peran penting bagaimana mengerti, memahami sampai menganalisis bagaimana anak harus dilayani sesuai dengan pendekatan psikologis, sosiologis dan antropologis.
Menurut Dr Alfin MPd tentang hal ini, anak merupakan aset bangsa yang perlu ditumbuh kembangkan sesuai dengan potensi yang dimilikinya. Lima hal penting yang harus diperhatikan adalah sebagai berikut:
Pertama; melalui bimbingan karir yang diberikan sejak anak berada pada pendidikan Raudhatul Athfal (RA) atau Taman Kanak-kanak merupakan modal utama untuk menghantarkan dirinya menjadi pribadi yang memiliki kemampuan dalam memahami bakat dan minatnya pada perkembangan selanjutnya.
Kedua; proses bimbingan karir hendaknya tidak semata-mata diartikan sebagai upaya pemilihan pekerjaan atau jurusan pendidikan semata.
Ketiga; bimbingan karir juga memuat pengembangan perilaku individu dalam bersikap di tengah masyarakat, sehingga bimbingan karir bagi anak RA dapat diberikan dengan memperhatikan usia dan tugas perkembangan anak.
Keempat; bimbingan karir di RA/TK dengan menggunakan pendekatan proses (process approach) memungkinkan guru untuk mengintegrasikan layanan karir dalam pembelajaran.
Kelima; setiap anak memiliki potensi atau kemampuan yang berbeda-beda. Pendidik anak tidak bisa memaksakan kehendak pada anak bilamana anak tidak mampu untuk melaksanakannya. Oleh karena itu, bimbingan yang diberikan pada anak perlu senantiasa memperhatikan aspek-aspek perkembangan dan potensi yang dimiliki anak, agar anak dapat berkembang secara optimal.
Kini sudah jelas, anak adalah anak, semua kita pernah menjadi seorang anak, sehingga kini kita telah menjadi dewasa, dengan itulah marilah kita perlakukan anak sesuai dengan bakat dan kemampuan yang mereka miliki.
Tidak ada alasan untuk memaksakan kehendak orang dewasa terhadap perkembangan anak. Namun harus disadari semakin banyak pendekatan ilmu terhadap anak, kadang kala justru semakin membingungkan bagaimana anak harus dilayani. Yang pasti bersyukurlah ketika anak di depan kita masih mau diberi bimbingan dan layanan dari orang dewasa.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















