Peranan para pendidik pada dasarnya ialah memasuki dialog dengan orang-orang buta huruf mengenai situasi mereka yang kongkret dan menyediakan perangkat bagi mereka agar mereka dapat mengajar diri sendiri membaca dan menulis. Pendidikan ini tidak dapat dijalankan dari “atas” ke “bawah”, melainkan hanya dari “dalam’ ke “luar” oleh orang buta huruf itu sendiri, yang bekerja sama dengan para pendidik. (Paulo Friere, 2001:63).
Belajar adalah suatu kegiatan untuk mendapatkan hal baru dan menjadi bagian dari kehidupan seseorang secara permanen dan berkelanjutan. Dari belajarlah kita mendapatkan tentang hakikat manusia, dari belajar juga kita dapat memaknai hidup, bahkan dengan belajar kita dapat mengendalikan masa depan.
Betapa pentingnya belajar karena terkait dengan kehidupan terlebih tentang masa depan, maka belajar itu utamanya adalah tanggungjawab individu, bagaimana ia harus melakukan dan ke mana ia akan mengarah pada tujuan.
Paulo Friere mengalami masa di mana pendidikan adalah bagian dari proses kebudayaan, proses politik bahkan ideologi. Mau dari mana dimulai pendidikan semua sangat tergantung pada individu yang akan belajar, karena mereka sendiri yang memiliki kendali dalam kehidupannya.
Dari negara dunia ketiga Paulo Friere menuliskan beberapa gagasan tentang pendidikan bagi kaum yang tertindas, kaum terbelakang bahkan kaum yang dieksploitasi.
Ada empat catatan penting menurut beliau tentang belajar ini yakni;
Pertama; orang-orang buta huruf secara kritis mengerti bahwa belajar membaca dan menulis adalah sangat mutlak dan perlu. Ini akan mempersiapkan mereka menjadi pelaku dalam proses belajar selanjutnya. Ideologi kritis menempatkan sekelompok orang untuk menyadari bahwa pendidikan itu adalah kebutuhan, dan mereka sendiri harus membangun kesadaran, mengembangkan dan memberdayakan diri untuk keluar dari keadaan hari ini.
Kedua; dapat membaca tidak hanya berarti menguasai teknik-teknik membaca dan menulis secara mekanis dan psikologis. Membaca adalah hal utama, dengan membaca seseorang akan mendapatkan pengetahuan baru, dan ia siap untuk belajar pada tahap selanjutnya. Bila membaca sudah menjadi habit, maka akan memudahkan semua langkah membangun individu kepada hal yang lebih besar termasuk pembangunan dan peradaban.
Ketiga; dapat membaca berarti menguasai itu semua dalam rangka berkembangnya kesadaran, mengerti apa yang dibaca dan menulis apa yang dimengerti. Ilmu memang diwariskan tetapi instrumen pentingnya adalah menulis dan membaca, maka dalam hal ini mampu membaca berarti mampu berkomunikasi secara tertulis.
Keempat; belajar baca-tulis tidak berarti hanya menghafalkan kalimat-kalimat, kata-kata, atau suku kata-suku kata obyek-obyek kosong yang tidak berkaitan dengan lingkungan eksistensial tetapi lebih-lebih mengembangkan kecenderungan mencipta, dan mencipta lagi kearah niat untuk menangani lingkungan sendiri.
Apakah hari ini kita telah mendapatkan hal yang baru, bila tidak maka kita belumlah belajar. Apakah semua yang kita dapati lewat belajar telah menjadi bagian dari kehidupan kita secara berkelanjutan, ini yang harus diulang-ulang sebagai sebuah kajian.
Kesadaran belajar sebagai sebuah kebutuhan bukan hanya dengan membaca, menulis tetapi lebih dari itu adalah dengan menempatkan lingkungan atau kebutuhan sebagai landasan.
Dengan menyadari bahwa kita harus belajar tentang apa saja, di mana saja dan kepada siapa saja, maka lingkungan yang terbentang luas adalah inspirasi dan lahan pengabdian yang tak ada habis-habisnya.
Mungkin saja dari sana kita dapat mencipta atau memiliki inspirasi untuk melakukan belajar dari kesadaran diri bukan karena fasilitas pemerintah.
Inilah pendidikan yang membebaskan individu yang tidak terjebak dari sekolah, belajar, nilai apalagi sekadar ijazah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















