Prospek cerah bagi kelangsungan hidup dan dunia esok yang lebih baik. Amat menyenangkan dapat melaporkan bahwa sebagian besar pemimpin riset sosio-teknik yang menyangkut alternatif masa depan dan keputusuan kebijaksanaan yang cerdik merasa sangat optimis pada kekuatan rasio manusia yang fundamental dalam menghadapai bencana dengan mengandalkan pada kemampuan membuat keputusan-keputusan yang bijaksana. (Harold G.Shane,1984:61)
Masa depan itu hayalan, nyata atau justru kepastian? Bila kita berani menyatakan esok pagi masih ada matahari terlihat di ufuk timur, maka masa depan itu boleh jadi soal keberanian. Bila kita berpikir bahwa setelah hari sabtu pasti berlanjut pekan berikutnya hari ahad telah menunggu, maka masa depan itu persoalan perhitungan.
Tetapi ada di antara ilmuwan yang mencoba memberi perhitungan yang lebih final walaupun ada ruang alternatif, mereka mencoba membangun menyiapkan bahkan membuat jadwal waktu. Cara berpikir ketiga ini adalah membuat kepastian tentang masa depan dan boleh jadi sedang kita alami hari ini.
Apakah masa depan itu khayalan, nyata atau justru kepastian sangat tergantung dari mana kita melihat sudut pandang. Kita yang kini duduk sendiri akan merasa tertantang bila disuguhkan tentang perspektif masa depan, apalagi diprospek tentang asuransi masa depan.
Oleh Harold Shane memberikan penegasan; jelas bahwa tanpa tingkat kepercayaan yang setinggi ini, rasanya kurang berarti mengadakan riset masa depan.
Dalam disiplin ilmu pendidikan, maka masa depan itu bukan sekadar khayalan, tetapi nyata dan harus dipastikan akan terjadi. Kegiatan pendidikan pada dasarnya adalah membuat rekayasa masa depan agar dapat direncanakan, kemudian dikelola bahkan dikendalikan.
Apa arti dan peran pendidikan bagi masa depan? Menurut Shane posisi kita terdapat dalam empat tingkatan intervensi posisi sebagai para futurolog, yakni;
Pertama; ragu-ragu menyatakan “tidak” atau enggan memutuskan “ya”.
Kita menyadari bahwa masih ada diantara masyarakat bahkan komunitas tertentu tidak percaya dengan pendidikan, tetapi mereka juga ragu menyatakan berpartisipasi. Tidak perlu sekolah semua nasif ada yang mengatur, tetapi mereka juga tetap memerlukan untuk anaknya selembar ijazah sekolah.
Kedua; mempertimbangkan untuk melakukan intervensi karena kekurangan data dan keterangan. Memutuskan untuk sekolah pilihan terlalu sulit, ini terjadi karena kekurangan informasi tentang dunia pendidikan, sehingga partisipasi dalam pendidikan hanya sekadar melepas status.
Ketiga; sebelum semuanya terlambat terjadinya bencana maka mulai riset masa depan besar-besaran itu penting. Akibat salat pilih terhadap kegiatan pendidikan, sekolah sembarangan, seakan tidak peduli terhadap perkembangan anak, maka tamat sekolah kemudian nganggur tidak memiliki arah dan tujuan yang jelas.
Keempat; kebutuhan dan harus intervensi dengan data yang cukup dan memadai. Secara total meluangkan waktu, biaya dan tenaga terhadap masa depan anak, maka sekolah bagi mereka adalah satu-satunya jalan untuk menentukan. Anak adalah investasi, keluarga adalah kehormatan dan ini dijadikan satu ideologi, maka masa depan anak, keluarga dan bangsa adalah intervensi nyata.
Saya tidak sekolah maka saya tidak punya masa depan, masa depan itu pasti dengan sekolah, tetapi pekerjaan itu nyata bila kita punya keterampilan, dan hati tua itu hanya hayalan bila kita banyak berpangku tangan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















