Menjelang lebaran semua sibuk menghias rumah, ada pula membeli kendaraan baru mobil harga murah, atau juda belanja emas tanda punya harta. Hem….fenomena lebaran memang sangat beragam, ada yang berubah dan banyak pula yang sama dari tahun ke tahun, bahkan dari generasi kakek, sampai cucu mungkin saja cicit dan seterusnya.
Sebagian anak ada yang pulang ke kampung, sebagian mereka ada membaca cerita kesuksesan ditunjukkan membawa kendaraan bermerek dari toyota fortuner sampai ayla, dari naik kendaraan umum sampai punya supir pekerja.
Cerita tidak hanya sampai di sini dari kerja ikut majikan kini sudah punya usaha sendiri, bahkan ada yang pernah sakit di rumah sewa kini sudah sendiri tanpa keluarga. Belum lagi pernah minta tolong pekerjaan dengan saudara sekampung, justru berbeda tanggapannya, sampai tak ada lagi ruang untuk tidak bicara.
Kata cair, sukses, dan berhasil menghiasi kampung halaman, meninggal orang tua, sampai teringat mandi di sungai seperti tak ada basi nya untuk diperbincangkan setelah shalat hari raya. Hem…..Pak Marmuj pun banyak menyapa rekan tetangga yang sudah beda, paling tidak kumis sebagian sudah putih, atau cucu selalu menemani kalau pergi.
Pak Marleb; bagaimana Pak Marmuj….lebaran tahun ini, apakah anak-anak ada yang pulang.
Pak Marmuj; ya….ada dua anak yang pulang, tetapi satu anakku tidak pulang sepertinya
Pak Marha; ah…..biasa sajalah pak mungkin tahun ini tidak pulang, tahun depan kita do`akan semoga pulang, yang penting dia sehat.
Pak Marleb; oh….ya….memang kelau lebaran begini kita selalu mengabsen anak-anak, kadang justru absen sekaligus melihat mana yang sukses mana yang belum.
Pak Marha; oh….iya…anak itu yang penting kan dia sehat ya pak…..soal kaya, dan lainnya itu tidak penting.
Ketiga bestie terdiam sejenak mendengar tiga mobil lewat menghampiri mereka dengan lambaian tangan seakan akrab. Ternyata adalah teman lama yang merantau dan kini baru kembali ke desa, itu pun karena orang tuanya sudah sakit-sakitan, mungkin mau bagi warisan.
Pak Marmuj; bicara tentang anak, memang kini sudah berubah, saya pernah mendengar katanya sukses itu tungkunya ada empat.
Pak Marleb; wah….ini yang kita tunggu, apa yang empat itu pak, seperti Dalihan Na Tolu pulak….
Pak Marmuj; kalau mau sukses kita harus memperhatikan tungku pertama keluarga, tungku kedua, tungku kedua teman, tungku ketiga kesehatan, dan tungku keempat karir.
Pak Marha; apa maksud pakai-pakai tungku pula itu pak.
Pak Marmuj seperti biasa menggunakan telephone selulernya menjelaskan berbagai peristiwa bahkan kasus orang sukses di dunia, apakah sukses skala internasional, regional, nasional, bahkan sampai kampung halaman.
Pak Marmuj; begini, kata orang-orang hebat sukses itu tidak bisa pada saat yang sama kita memeroleh semua yang kita inginkan, pasti ada saja yang tertunda atau justru kehilangan.
Pak Marha; ah….sukses kok ada kehilangan, semakin rumit ini pak, lanjutkan….
Pak Marmuj; dalam satu kesempatan kita boleh saja strategi untuk sukses kita menyalakan empat tungku, tungku pertama keluarga, tungku kedua teman, tungku ketiga kesehatan, dan tungku keempat karir, seperti tadi.
Tetapi selalu tidak dapat berjalan seiring dan bahkan ada yang harus dikorbankan. Orang yang mau sukses pada tungku pertama maka ia meredupkan dulu tungku yang lain.
Pak Marleb; jadi pak meredupkan ini maksudnya bagaimana?
Pak Marmuj; begini….kalau kita mau sukses bidang keluarga mungkin saja kita tidak sukses dalam berteman, atau juga kita kurang sehat, bahkan mungkin gagal dalam karier. Atau dalam skenario lain, ada orang yang sukes karier, tetapi mereka justru meninggalkan keluarganya, jauh dari teman, bahkan kesehatannyapun dipertanyakan. Jadi intinya sulit mendapatkan keempat tungku dalam waktu yang bersamaan. Bagaimana?
Pak Marleb; ah….kalau saya tetap yang pertama itu keluarga pak, tidak bisa ditawar, untuk apa sukses karier, harta melimpa, banyak anak buah, tetapi ditinggal istri…hahahahahahha…..
Pak Marha; ia benar juga itu pak……keluarga itu yang utama.
Ketiga besti diam…..mungkin seribu kata dalam hati masing-masing menilai apakah mereka sedang mengalami atau justru bingung terhadap diri sendiri.
Pak Marmuj; e….beginilah….kita lihat sebagian orang yang pulang kampung ini membaca cerita kesuksesan masing-masing, mungkin mereka telah memperoleh apa yang dicari selama ini.
Pak Marha; kalau Pak Marmuj bagaimana tungku yang mana yang paling utama?
Pak Marmuj; kalau saya yang penting, makan teratur, olahraga teratur, dan istirahat teratur, dengan demikian maka sayapun bisa menghampiri istri secara teratur….
Ketiga bestie sekali lagi diam dan tertawa hahahahahahhah……….
Pak Marmuj…..Pak Marmuj…..memanglah…..
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; setiap manusia memiliki kemampuan yang berbeda, potensi diri yang dimiliki bila dikenali dan dioptimalkan maka itulah jalan untuk mencapai kesuksesan.
Kedua; kesuksesan adalah keberhasilan seseorang mendapatkan apa yang ia inginkan, dari sana akan muncul kebahagiaan. Untuk itu ukuran sukses selalu berbeda, bahkan sangat personal, tidak tepat membandingkan kesuksesan satu orang dengan orang lain.
Ketiga; setiap kita memiliki hak untuk sukses, di lingkungan kita ada keluarga, orang lain, bahkan pekerjaan, terlebih dalam diri kita yakni kesehatan. Tidak ada yang mustahil, bila semua itu diterima kemudian disyukuri, lalu jadikanlah keempatnya sebagai jalan untuk ibadah, maka kesuksesan telah ada mengikuti sejak awal cerita kita.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















