Masyarakat terbentuk dari pribadi manusia dan lingkungan yang melingkupinya serta nilai-nilai yang baku di dalamnya. Jika unsur-unsur ini terjalin dengan seimbang berarti masyarakat itu akan kokoh dan matang. Jika individu adalah dasar setiap masyarakat, maka mahasiswa adalah salah satu individu pilihan yang paling banyak kontribusinya di masyarakat, paling dinamis dan berpengetahuan. Masyarakat dapat bangkit bersama barokahnya, sebagaimana masyarakat akan diam jika ia melalaikan kewajiban dan peranannya. (Musthafa, 2002:13).
Mahasiswa adalah kelompok tersadar setelah sarjana, berarti sarjana adalah bagian dari masyarakat paling tersadar, dan mahasiswa itu sendiri adalah bagian dari masyarakat. Jadi mahasiswa kemudian jadi sarjana berasal dari masyarakat, namun apakah mereka berguna, bermanfaat bagi masyarakat kadang perlu dipertanyakan ulang.
Sampaikah mahasiswa menimba ilmu, mungkin sampai tamat kuliah, tetapi ketika dia sedang menimba ilmu disebutlah mahasiswa otomatis tetap menjadi anggota masyarakat. Namun pada saat itu ada sebagian mereka yang berkonstribusi terhadap masyarakat ada pula yang tidak. Justru berkontribusi kadang diartikan sangat formal yakni ketika pengabdian masyarakat yang dilakukan hanya dua bulan selama masa perkuliahan.
Mahasiswa sebagai bagian dari masyarakat sesungguhnya sedang mengamanahkan kepadanya lingkungan tempat ia belajar. Artinya tempat lingkungan belajar baik itu asrama, kompleks atau penduduk di sekitar kampus semua memiliki akses dan peran membentuk mahasiswa.
Masyarakat juga mengamanahkan kepada guru atau dosen untuk mendidik mahasiswa. Guru atau dosen memang bertugas secara formal di dalam kampus, tetapi diluar itu juga memberi inspirasi mengajak mahasiswa berperan aktif dalam kegiatan sehari-hari.
Masyarakat pada hakikatnya mengamanahkan kepada setiap murobbi untuk mentarbiyah dan membentuknya di atas landasan aqidah. Karena dengan ini masyarakat percaya sandaran ilmu pengetahuan, akhlak akan terbentuk dengan baik, jadi amanah ini sangat penting untuk dijaga dan dijalankan.
Dengan tarbiyah individu atau mahasiswa yang memperhatikan aspek jasmani, akal, ruh perasaan dan emosi, maupun dengan tarbiyah kolektif yang memperhatikan masyarakat, bangsa, ummat, dan din dengan integralitas dan nilai-nilainya.
Bila sudah menyatu antara pendidik, pembina, mahasiswa dan masyarakat dalam satu kegiatan, maka di sana kita bisa berharap terjadinya satu sistem nilai yang dipelihara yakni saling belajar, menghargai dan menghormati.
Dengan dasar-dasar di atas, maka kumpulan individu dapat diharapkan menjadi masyarakat yang kuat. Individu yang dibangun dengan saling menghargai, menempatkan mahasiswa sebagai generasi mudah yang akan menerima tanggung jawab.
Di saat itulah ia harus menghargai guru atau dosen sebagai pembina. Dan yang lebih utama masyarakat yang memiliki berbagai persoalan dapat terbina, tercerahkan dari hadirnya mahasiswa di lingkungan tempat tinggal mereka.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















