This research was conducted at Medan State University where the aim was to find out the phenomenon of Syar’i fashion as a cultural trend according to Islamic aqedah. This study examines broadly how the Syar’i fashion is among students, how their responses and responses are related to Syar’i fashion which has increasingly advanced in this day and age. Because along with the times that make it able to develop. As well as how the world view of the West, East, The Qur’an, Hadith and culture see the fashion of the lighthouse. This research was surveyed based on field results, interviews and documentation. (Mardhiah Abbas, 2020).
Menutup aurat itu adalah ajaran, mode fashion adalah kreatifitas keduanya selalu menyatu dalam bentuk busana ummat Islam. Menutup aurat itu adalah nilai-nilai yang mengandung tentang menjalankan ajaran agama, bahkan pada tingkat universal menjadi bagian dari menunjung tinggi harkat dan martabat seorang manusia.
Tidak ada nilai paling tinggi di dunia ini kecuali memberikan makna yang sesungguhnya terhadap nilai seorang individu dihadapan Tuhan, di tengah manusia lain dan di sekeliling alam semesta.
Sebuah penelitian menarik yang dilakukan oleh Mardhiah Abbas terkait dengan fenomena fashion bagi mahasiswa di perguruan tinggi awalnya untuk mengetahui fenomena fashion syar’I sebagai trend budaya menurut aqidah Islam.
Studi ini mengkaji secara luas bagaimana fashion syar’I tersebut di kalangan mahasiswa, bagaimana respon dan tanggapan mereka terkait fashion syar’I yang sudah semakin maju di zaman sekarang ini.
Dikarenakan seiring perkembangan zaman yang membuat trend fashion ini berkembang dan memiliki banyak sekali faktor yang membuat hal tersebut bisa berkembang, serta bagaimana pandangan dunia Barat, Timur, al-Qur’an, Hadits dan budaya melihat fashion syar’I tersebut.
Hasilnya mengejutkan kita bahwa ternyata trend gaya busana muslimah atau biasa disebut fashion kini sedang merajalela di abad 21 ini. Fashion, itulah kalimat yang sering kita dengarkan bahkan kita temui dalam keseharian baik itu dalam bentuk sosial media, koran, buku, youtube, telivisi dan lain-lain.
Begitu banyak yang mempublikasikan trend ini bahkan bagi mereka yang tidak mengikuti trend ini kerap kali dibilang kuno dan tak trendy. Keluarga muslim saat ini harus berperang melawan westernisasi baik itu melalui media elektronika atau media cetak khususnya televisi.
Fenomena di atas bukan sekadar gejala individu, tetapi menjadi masif sehingga perlu disikapi dengan saksama. Kembali kepada makna universal tentang menghormati harkat dan martabat maka sesungguhnya tiga hal penting tetap kita ingatkan.
Pertama, hormatilah langit dengan menutup kepala apapun bentuknya boleh jadi topi, peci, songkok, kerudung dan lain sebagainya.
Kedua, hormatilah manusia dan alam semesta dengan menutup aurat yang pantas dalam ukuran yang lebih luas boleh jadi bentuk pakaian, trendi ataupun aksesori yang sopan dan serasi.
Ketiga, hormatilah bumi dengan cara gunakan alas kaki yang dapat menjaga kesehatan mungkin saja sendal atau sepatu, juga papan ski yang sehat untuk dipakai.
Akhirnya kata trend apalagi ditambah fashion tidak mesti ke barat untuk dijadikan kiblat, dan tidak harus alergi ke timur untuk mencari legitimasi. Pada diri kita sendiri tanamkan bahwa berpakaian itu adalah menghormati nilai dan harkat martabat sebagai manusia di hadapan Tuhan.
Inilah mungkin salah satu jalan cara berpakaian bila diawali dengan doa maka semuanya akan bernilai ibadah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















