Waktu malam bukanlah hanya waktu yang gelap. Sebab, kegelapan merupakan pesona yang dimilikinya. Waktu malam adalah waktunya orang-orang arif (para penempuh jalan irfani) untuk berkomunikasi dan mendekatkan diri kepada Allah SWT. Pada waktu malam, tarikan dan godaan pada kehidupan keduniaan lebih sedikit dibandingkan dengan waktu siang. Karenanya, pada waktu tersebut orang akan lebih mudah untuk berkonsentrasi. Dengan demikian, sholat yang dilaksanakan pada malam hari seperti sholat Tahajjud akan lebih khusyuk dan lebih berpengaruh kepada jiwa. (Hasan Al Bani, 2012:iv).
24 jam satu hari satu malam itu adalah kesepakatan kita memaknai putaran bumi. Ada siang ada malam itu juga kesepakatan kita dalam menyebutkan ada berbeda diantara keduanya.
Mengapa mesti satu tahun, satu bulan, satu pekan, bahkan satu hari boleh saja itu dihasilkan oleh akurasi perhitungan, namun akhirnya adalah kita setuju dan menyepakati.
Ketika siang ada yang dapat dilihat, dan waktu malam sesungguhnya kita juga dapat melihat, hanya intensitasnya yang berbeda. Bantuan matahari maka kita dapat melihat lebih luas, lebih jauh dari apa yang ada di sekeliling kita.
Ketika malam atas dasar kemampuan memaknai bahkan menilai kita dapat melihat hal yang lebih berharga lewat mata hati. Jadi siang atau malam boleh jadi itu adalah peredaran namun pada hakikatnya tinggal kita bagaimana cara memaknai.
Sebagian orang memanfaatkan cahaya matahari untuk beraktivitas lebih agar ia dapat memperoleh sesuatu, bekerja, mencari nafkah bahkan menantang terik matahari. Siklus siang dari sejak pagi sampai sore menghantarkan dia menjadi seorang pekerja keras, melewati setiap siang adalah untuk mendapatkan kesempatan. Ketika matahari berganti untuk datang lagi esok pagi, ia mengistirahatkan diri, menyiapkan diri bahwa akan berulang lagi begitulah seterusnya.
Sebagian orang justru memaknai ketika matahari tenggelam sampai esok hari adalah saatnya untuk melihat terbalik kepada apa yang ada dalam diri sendiri. Setelah sibuk dengan dunia luar menjelajah alam sekitar, saatnya untuk menikmati apa yang baru saja dialami.
Cara ini dilakukan dengan merenung, menikmati, kemudian mensyukuri adalah salah satu jalan paling biasa. Tak begitu penting apa yang dicapai, tetapi justru rutinitas untuk melewati adalah hal utama sebagai terapi hidup.
Gelap itu ketika dilihat, diam itu adalah tanda kita harus berhenti, tetapi justru yang utama kita menyepakati dengan diri sendiri, selalulah untuk memilih jalan bagaimana cara menikmati hidup.
Hidup tidak mesti melihat keluar yang tiada batas, tetapi justru menelusuri lautan jiwa yang ada dalam hati. Mengapa mesti malam, hanya orang yang telah melakukan yang mengerti bahwa angka 24 itu adalah tanda jarum jam, tetapi kita bisa saja 27 jam bahkan lebih menikmati siklus setiap putaran bumi.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















