Pengetahuan dan keterampilan siswa sebagai hasil belajar pada masa lalu, sering kali mempengaruhi proses belajar yang sedang dialaminya sekarang. Inilah yang disebut transfer dalam belajar. (Haryu Islamuddin, 2012:207).
Pendidikan adalah proses transformasi nilai budaya dari satu generasi kepada generasi berikutnya untuk mendapatkan pengetahuan dan keterampilan baru dalam membentuk sikap dan kepribadian.
Proses transformasi menjadi kata kunci dalam kegiatan pendidikan, karena memerlukan perencanaan yang matang, pengelolaan yang profesional dan evaluasi untuk pengembangan langkah berikutnya. Tidak ada pendidikan tanpa transformasi, bahkan transformasi akhirnya akan berjalan dengan baik bila pendidikan ditempatkan pada posisi yang sebenarnya.
Transformasi dapat dipahami dalam berbagai perspektif, apakah dari sisi budaya, teknologi bahkan psikologi. Semua orang ingin memberikan yang terbaik hari ini tentu tujuannya demi masa depan, budaya berpikir seperti ini adalah praktik baik yang dilakukan masyarakat tertentu.
Ilmu pengetahuan yang menjelma menjadi teknologi tujuannya untuk mempermudah kehidupan, salah satunya adalah dengan memberikan kemudahan dalam melakukan pendidikan dan pembelajaran. Begitu juga dengan psikologi kita akan lebih memahami bagaimana seorang anak belajar, efektif dan berhasil serta bermakna untuk kehdiupannya sehari-hari.
Dalam hal pendidikan yang lebih spesifik transformasi menurut ahli transfer dapat digolongkan pada empat, yakni sebagai berikut:
Pertama, transfer positif, yaitu berefek baik terhadap kegiatan belajar selanjutnya. Pengalaman adalah guru paling utama, artinya apapun yang pernah dialami oleh peserta didik mereka akan menjadikannya untuk pertimbangan bagaimana belajar selanjutnya. Untuk itu buatlah pengalaman seefektif mungkin sehingga peserta didik menerima sebagai pengalaman yang positif.
Kedua, transfer negatif, yaitu berefek buruk terhadap kegiatan belajar selanjutnya.
Bila kita mengajakan sesuatu dengan tujuan yang tidak jelas, hal ini akan menjadikan peserta didik bekerja keras. Apalagi memberikan pelajaran dengan cara yang salah, akibatnya bukan sekedar nilai rapor satu semester, tetapi membekas dalam hidupnya bahkan sampai dia menjadi pengajar orang lain.
Ketiga, transfer vertikal, yaitu berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/keterampilan yang lebih tinggi.
Ketika kita memberikan pelajaran pada peserta didik yakinkan itu adalah usaha seorang pendidik bekerjasama dengan berbagai pihak. Namun disana ada campur tangan yang maha kuasa, izin dan keridhaannya menjadi hal utama, maka belajar yang diawali dengan doa dan diakhiri dengan doa adalah instrumen penting yang berefek di kemudian hari.
Keempat, transfer horizontal yaitu berefek baik terhadap kegiatan belajar pengetahuan/ keterampilan yang sederajat.
Belajar dapat dilakukan dimana saja, kapan saja, dan kepada siapa saja. Tidak ada yang paling utama bagi sesama manusia dalam hal belajar, bila persepsi ini dilanjutkan menjadi afeksi, maka pengetahuan dan keterampilan akan didapatkan tanpa batas. Menjadi pembelajar sejati bukan karena memiliki guru yang sakti, tetapi mereka yang tahu bahwa guru itu adalah penghormatan terhadap kemampuan diri sendiri.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















