Manusia dan hewan adalah makhluk yang diciptakan untuk hidup di muka bumi ini, semua memiliki kesempatan yang sama, bahkan saling berdampingan. Manusia hidup dan berkehidupan berkembang biak dan membuat komunitas, melalui pendidikan maka manusia memiliki budaya bahkan membangun peradaban.
Salah satu peradaban tertinggi umat manusia pada masa lalu adalah kejayaan kerajaan dengan seribu cerita yang menyertainya. Tidak jarang dari kisah yang terbawa dari masa kejayaan tersebut adalah bagaimana manusia dan hewan saling berdamping, atau justru menjadi satu komunitas.
Kisah Nabi Nuh dengan kapal adalah juga dengan hewan piaraan sampai kisah Nabi Ibrahim dengan seekor domba, kisah raja Namruj dan hewan nyamuk, begitu juga dengan nabi Muhammad dengan hewan buraq.
Semua peristiwa itu bukan sekadar catatan, atau menjadi ingatan semata, lebih darinya banyak hal yang harus dimaknai, yakni manusia dan hewan adalah makhluk yang hidup selalu berdampingan.
Adalah Pak Marmuj yang sehari-hari bekerja di kota, ketika pulang masih sempat mengurus hewan piaraan. Tentu mengurus hewan bukan semata untuk meneruskan warisan, akan tetapi sebagian darinya adalah persiapan untuk berkurban di hari raya Idul Adha.
Hewan domba memang menjadi favorit untuk masyarakat dipinggir desa, bukan hanya cepat berkembang biak, akan tetapi banyak hal yang dapat diperoleh darinya.
Menjelang hari raya Id Adha
perbincangan Pak Marmuj dengan pak Marhen di beranda rumah menjadi menarik diikuti, bukan hanya karena seruput kopi yang menyertai, tetapi kali ini ada rondo royal kesukaan Pak Marmuj.
Par Marhen; Pak Rondo Royal itu maksudnya? (penasaran lupa lupa ingat, sepertinya pernah dengar (({PH(O^&)*_(*&*T)
Pak Marmuj; Rondo royal itu adalah ubi di tape, atau tape ubi, kemudian di goreng. Jadi namnya rondo royal.
Pak Marhen: oh…..iya baru ingat saya, enak memang.
Pak Marmuj; ia ini hewan sudah banyak di desa kita, ada yang besar, ada yang kecil, ada pula yang sedang semuanya lengkap, bukan sekedar untuk hiasan, atau hoby, bahkan ada saudara kita karena piaraan dia sudah berangkat haji.
Pak Marhen; iya benar pak, kalau memang rezeki dari
Pak Marmuj; ee….begini sebenarnya manusia itu hubungannya dengan hewan piaraan ada empat, ini dia.
Pertama; memelihara hewan untuk bisnis dan mata pencaharian. Banyak diantara kita yang mengelola peternakan dari hewan sapi, hewan domba, kambing juga ayam.
Kedua; memelihara hewan untuk hoby dan kesenangan. Biasanya di keluarga ada dibuat kandang kecil hewan ini seperti kelinci, kucing.
Ketiga; memelihara hewan untuk mengusir hewan lainnya.
Pak Marhen cepat menyela: hewan apa pula ini pak?
Pak Marmuj; oh…seperti semut hitam, biasanya bila ada di rumah maka tidak diusir hanya dibiarkan agar mengusir semut merah, atau mengusir penyakit.
Pak Marhen; ah….bapak ini seperti mitos saja.
Pak Marmuj; ya….benar kalau tidak percaya coba saja.
Pak Marhen; eh..bapak bilang tadi ada empat, nah satu lagi pak, biasanya yang terakhir ini yang aneh. Hewan apa pula itu pak.
Pak Marmuj; nah yang keempat ini justru hewan-hewan ini tidak kita undang, tidak ada di luar, tidak ada di dalam, tetapi kemana kita pergi disana dia mengikuti.
Pak Marhen; apa itu pak ada istilah hewan mengikuti, nanti jangan-jangan “tu….tu…..yul”
Pak Marmuj; yang keempat ini hewan tidak besar dan tidak mahal, tidak peduli bahkan tidak ada yang mau diikuti.
Hewan ini adalah beberapa virus yang ada dalam tubuh kita. Boleh jadi di antara rambut kepala, boleh jadi ada tengah gigi yang bolong, bahkan ada diantara buku ketiak kita, dan ada di dalam perut atau di usus kita sendiri.
Pak Marhen; wah…..iya pula ya pak.
Hemm….pak ada lagi hewan-hewan yang lain?
Pak Marmuj; ada..ini dia hewan yang hidupnya hanya sebulan, kemudian mati, dan tahun depan hidup lagi, dan kemudian mati lagi. Hewan ini dengannya justru orang berperilaku dan meramalkan nasib.
Pak Marhen; wah…apa pula itu pak.
Pak Marmuj; ya itulah 12 hewan yang dijadikan simbol zodiak, padahal cuma menyatukan titik pandang bintang.
Pak Marhen; oalah…..Pak Marmuj….Pak Marmuj….memanglah.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; manusia dan hewan diciptakan oleh Tuhan sebagai makhluk yang sama memiliki hak dan kewajiban.
Kedua; interaksi manusia dan hewan dapat dilakukan kapan saja dimana saja, namun yang utama adalah untuk saling menghargai, saling menghormati, dan saling menyayangi.
Ketiga; tidak ada yang paling mulia disisi Tuhan atau bahkan dihadapan manusia, apalagi diantara hewan yang ada, selain makluk yang mengerti posisi, dan kemudian saling berbagi untuk kebaikan bersama di muka bumi.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















