Pesan ayah untukmu, anakku :
kalau kalah di gelar pendidikan menanglah di pengalaman
Kalau kalah pintar kamu harus menang di disiplin
Kalau kalah modal kamu harus menang di konsisten
Kalau kalah gaya menanglah di etika
Kalaupun kalah segalanya menanglah hubunganmu sama Allah
Karena pada akhirnya yang benar-benar menang hanyalah
mereka yang pulang dengan hati yang utuh. (FB,2026).
Para profesional hari ini bekerja sesuai dengan kemampuan dan mereka telah mendapatkan hasil seperti yang diharapkan. Tentu keberhasilan itu bukan instan akan tetapi proses yang terus berjalan bahkan boleh jadi tidak berhenti.
Justru seorang profesional adalah mereka yang setiap saat terus berkerja, belajar bahkan merasa tidak puas dari apa yang dimiliki, intinya terus berbuat dan berkarya tanpa henti.
Salah satu ciri pekerja profesional adalah ketika menghadapi masalah menggunakan ilmu dan pengalaman, hadir disiplin dan pintar memanfaatkan waktu, bahkan mereka konsisten menjadikan kemampuan diri sebagai modal utama.
Pada tingkatan tertentu justru rendah hati menghilangkan gaya, mereka juga taat kepada pencipta. Lantas timbul pertanyaan, bagaimana mereka bisa sampai pada maqam tersebut. Itu sudah taqdir, mungkin juga ada warisan atau titisan, dan sebagian kecil selalu mengkisahkan kami memulainya dari susah payah.
Para agamawan setuju bahwa takdir adalah nyata dan dapat terjadi pada siapa saja, takdir tidak mesti pada hal yang bersifat positif, sukses atau berhasil menjalankan sesuatu. Karena kegagalan juga intinya adalah takdir, walaupun kita tidak boleh memaknai “takdir memang kejam”.
Namun demikian para profesional mereka tetap menjadikan keberhasilan adalah hasil jerih payah, tidak ada yang tiba-tiba diberikan. Direktur atau komisaris utama sebuah perusahaan sekalipun dia memikir dua kali untuk mewariskan semua yang ia miliki pada siapa yang ada di hadapannya.
Lantas apa hal yang dapat diberikan kepada siapa saja tanpa prasyarat masa lalu, apalagi warisan darah kekayaan. Mungkin nasihat ayah disini hadir memberi semangat bahwa anak anak anak bukan semata karena hubungan biologi dari ayah.
Sebagai anak maka jadikan Allah sebagai awal dan akhir dari semua usaha. Berperilaku jujur, konsisten menunjung kebenaran dan menjaga harkat martabat diri dapat dimulai dari diri sendiri. Bila ini dilakukan maka pengalaman menjadi senjata utama untuk bekerja menanti keberhasilan.
Jadi sekali lagi, kita setuju gelar itu penting, modal itu perlu, gaya adalah cara, namun bila semua karena warisan maka akan tertinggal di surat wasiat.
Dan yang bertahan adalah ketika kita sudah percaya bahwa Allah akan memberi yang terbaik bagi hamba yang bersyukur dari apa yang kita miliki. Hem…sudah bisa jadi orang tua karena sudah bisa menasihati.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















