Kehidupan memang terus berubah, yang tidak berubah berarti dia tidak hidup alias mati. Hem….dari berfikir orang kampung sampai ilmu manajemen semua sepakat bahwa memang berubah itu penting. Termasuk diantaranya adalah pekerjaan, konon kabarnya pekerjaan terus berubah, bahkan dulu dicari orang pekerjaan tersebut kemudian biasa-biasa saja, dan justru kini ditinggalkan. Menjadi kasir di pintu toll contohnya, boleh jadi kasir ditempat lain juga akan mengalami perubahan seperti yang kita alami sekarang ini.
Adalah Pak Marmuj dalam kehidupan sehari-hari bekerja pergi pagi pulang sore, ada pula yang pergi tanggal satu pulang tanggal tiga puluh, dan seterusnya.
Tapi ada tetangga pak Marmuj yang bekerja tak kenal tanggal merah, tak ada libur, atau justru di hari besar mereka terus bekerja. Namanya juga bekerja mungkin saja ini pengalaman hari ini, esok hari akan berubah, kita tidak tahu apakah juga akan terjadi pada diri kita.
Berbincang sambil menunggu pembagian daging qurban di halaman masjid, cerita punya cerita Pak Marmuj akrab dengan tetangga. Dari cerita kerja di hari besar, sampai tetangga lain yang belum mendapat pekerjaan. Tampak lalu lalang ternyata sebagain para pekerja ada yang pulang atau berangkat bekerja padahal hari besar. Perbincangan pun terjadi.
Pak Marmuj; hem….bersyukur kita bisa libur, itu ada tetangga kita yang tetap bekerja.
Pak Marja; ia ia tapi mereka memang harus kerja pak kalu tidak mungkin jadi masalah.
Pak Marmuj; ya memang ada beberapa profesi yang tetap melaksanakan pekerjaannya karena memang jenis pekerjaan. (Pak Marmuj pun mencoba mensearch lewat smart phone)
Ada beberapa jenis pekerjaan yang tetap melakukan aktivitas walaupun hari besar yakni;
Pertama, Layanan medis, di rumah sakit sejak dokter sampai perawat semua tetap bekerja tidak mengenal tanggal merah apalagi tanggal hitam.
Kedua, Transportasi publik, dari sejak awak kapal, masinis kereta api, awak bus, sampai pilot pesawat terbang, semua tetap bekerja sesuai dengan jadwal yang telah ditetapkan.
Ketiga, Tentara dan polisi, mereka adalah petugas keamanan dan ketertiban masyarakat, kapan saja dimana saja siapa siaga menjadi pengabdi negara.
Keempat, Pramusaji atau pramuniaga, biasanya restoran dan toko ritel justru tetap melayani walaupun di hari libur.
Kelima, Jurnalis atau wartawan, mereka tetap bekerja untuk meliput apapun yang terjadi, bahkan hari libur sekalipun, baik siang mapun malam.
Daging qurban belum siap dibagi, perbincangan pun terus berlangsung.
Lalu lalang menunggu antrian semakin ramai, Pak Marmuj dan pak Marja semakin asyik bercerita.
Pak Marja; tetapi di kampung kita ini banyak juga saudara-saudara kita yang terus bekerja walaupun hari libur, ini merupakan pengorbanan waktu yang tiada terhingga.
Pak Marmuj; apa bapak tahu bahwa ada empat pekerjaan paling siap siaga di dalam kehidupan masyarakat sekitar kita ini.
Pak Marja; oh…apa yang empat itu pak?
Pak Marmuj; empat pekerjaan paling siaga itu adalah:
Pertama, Penggali kubur, mereka siap sedia setiap saat bila ada yang terkena musibah meninggal dunia, maka tanpa komando langsung bekerja.
Kedua, Paramedis, mereka adalah dokter di rumah sakit, perawat dan bidan di klinik, sungguh siap sedia dijadwal baik siang maupun malam.
Ketiga, Petugas keamanan, mereka adalah tentara atau polisi lalulintas di jalan raya, siap pada hari besar.
Alam, situasi, keadaan atau siapapun memang bila dihadapkan dengan pekerjaan maka harus siaga tanpa ada protes apalagi membantah.
Pak Marja; Pak Marmuj tadi ada empat, yang satu lagi apa pak?
Pak Marmuj; nah yang satu ini pekerjaannya tidak kenal siang maupun malam, bahkan telah bekerja sebelum kita terbangun, mereka tetap bekerja menjelang kita berbaring.
Pak Marja; wah…ini lebih siap sedia ya pak.
Pak Marmuj; ya mereka tidak mendapat gaji tetap, tetapi mereka terus melaksanakan pekerjaan dengan ikhlas. Bahkan mereka menjalankan tugasnya meninggalkan istri dan anak sepanjang tahun tiada henti.
Pekerjaan ini kadang gelap gulita tetap dilakukan, bahkan panasnya terik tetap dijalankan. Pekerjaan ini tak peduli hujan badai tetap dijadwalkan, walupun ada bencana tak boleh dihentikan.
Pak Marja; iya…iya….pekerjaan apa itu pak.
Pak Marmuj; benar mereka tidak ada seragam khusus, bahkan tidak ada hari yang khusus memperingati pekerjaan mereka, tetapi tetap menjalankannya dengan penuh konsisten. Itulah pekerjaan yang tidak pernah ada perubahan dari zaman dahulu sampai sekarang.
Pak Marja; iya..pak pekerjaan apa itu namanya.
Pak Marmuj; mereka adalah Mu`azin di Masjid kita.
Pak Marja sepat bengong &_(TP&(NHOOUOBT(*P&( {“)H: ia juga ya…….
baru sadar; oalah…..Pak Marmuj…..Pak Marmuj….memanglah..
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; alam yang terbentang, waktu yang bergulir, kesempatan yang datang adalah bagian dari tawaran kerja bagi siapa saja yang ingin mendapatkannya.
Kedua; pekerjaan apapun memiliki resiko dan tanggungjawab. Pekerjaan paruh waktu adalah siklus, pekerjaan borongan adalah target penyelesaian, pekerjaan berkelanjutan semuanya memiliki tanggung jawab sesuai dengan hasil yang diperoleh.
Ketiga; setiap kita dapat memiliki pekerjaan, dan pekerjaan itu akan datang pada orang yang tepat untuk melakukannya. Maka cintai apa yang kita kerjakan, kerjakan apa yang kita cintai.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















