Bahasa merupakan salah satu ciri yang paling khas dan manusiawi untuk membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Bahasa sebagai suatu sistem komunikasi adalah suatu bagian dari sistem kebudayaan, bahkan merupakan bagian inti kebudayaan. Bahasa juga terlibat dalam semua aspek kebudayaan. Kebudayaan manusia tidak akan mungkin terjadi tanpa bahasa karena bahasa merupakan faktor utama yang menentukan terbentuknya kebudayaan. (Rina Devianty, 2017).
Lain lubuk lain ikannya, lain kampung lain bahasanya, itulah yang kita alami selama ini. Bila ditelusuri lebih jauh bahkan satu lubuk bisa beda ikannya, sampai-sampai satu jenis ikan bisa beda ukurannya. Kita tidak bayangkan ikan yang persis sama sekalipun bisa saja beda rasa ketika kita memakannya. Sungguh unik, spesifik, bahkan tidak ada yang sama satu dengan lain yang ada di dunia ini.
Tetapi mengapa antar keunikan tersebut bisa berinteraksi, bahkan terjadi koneksi, bahkan sampai interdepedensi. Mungkin karena saling memahami bahwa sepakat untuk unik dan berbeda, tetapi karena ada yang sama yakni tujuan atau kehidupan untuk memenuhi kebutuhan.
Di sinilah muncul bahasa, sebagai alat untuk mengomunikasikan apa yang ada pada diri kita, mengetahui apa yang ada pada diri orang lain, serta menyepakati antara keduanya. Jadi bahasa itu menyadarkan kita ada yang berbeda, tetapi kita setuju melakukan hal yang disepakati bersama.
Sudah milyaran manusia hadir ke dunia ini dengan keunikannya, dari sana kita belajar bagaimana interaksi dapat dijalin dengan bahasa akhirnya jadilah budaya untuk diterus dan dipertahankan.
Ibu Rina Devianty memberi penegasan dalam hal ini bahwa; bahasa tidak dapat dipisahkan dari kehidupan budaya manusia karena antara bahasa dan budaya memiliki hubungan kausalitas atau hubungan timbal-balik.
Apakah kita hari ini akan mempertahankan atau membuat bahasa baru, atau paling tidak merusak apa yang ada selama ini? begitu banyak fungsi bahasa terhadap kebudayaan, seperti sebagai sarana pengembangan kebudayaan, sarana pembinaan kebudayaan, jalur pembinaan kebudayaan, dan sarana inventarisasi kebudayaan.
Bila kita bijak berinteraksi maka penggunaan bahasa adalah pilihan penting. Orang yang melakukan komunikasi dengan bijaksana maka ia mencerminkan diri sebagai manusia yang berbudaya tinggi.
Sekali lagi Rina Devianty menggarisbawahi; bahasa merupakan salah satu hasil budaya manusia, sedangkan budaya manusia banyak pula dipengaruhi oleh bahasa. Lebih penting dari itu, kebudayaan manusia tidak akan dapat terjadi tanpa bahasa karena bahasalah faktor yang memungkinkan terbentuknya kebudayaan.
Bila kita ingin menjadi bagian dari bahasa dan kebudayaan untuk kepribadian sedikitnya lakukan tiga hal yakni;
Pertama; pahami bahasa yang kita miliki selama ini, jadikan itu adalah pengembang kepribadian, dari bahasa lisan, bahasa tulisan sampai bahasa non verbal sekalipun. Kita harus hati-hati; “mulutmu harimau-mu”. Hari ini juga postinganmu cermin kepribadianmu”.
Kedua; bahasa yang kita miliki, lanjutkan adalah karena itu adalah harta dan kekayaan kita, untuk itu wariskan dengan baik dari lingkungan keluarga, kerabat dan seluruh komunitas. Tempatkan keunikan bahasamu untuk mewarnai komunikasi yang lebih beradab, sopan dan bertanggungjawab.
Rina Devianty melengkapi yang ketiga bahwa bahasa merupakan cerminan kebudayaan suatu masyarakat.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















