Peran kaum intelektual Indonesia sudah jelas. Gagasan perjuangan untuk melahirkan bangsa Indonesia diawali oleh mereka dengan kesadaran akan komitmennya dengan bangsanya, dengan kejelian dan kepiawaiannya tentang perang bangsa. Gagasan dan praktik terus-menerus melahirkan Indonesia merdeka. Dengan praktik intelektual keintelektualan menjadi kuat, dengan praktik otot (tenaga), otot menjadi kuat. Seindah-indah gagasan yang tidak dicuba-wujudkan oleh otot dan dengan otot akan berubah menjadi roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) – roh jahat yang menjadikan orang jadi munafik. (Pramoedya Ananta Toer, 1981).
Akhir-akhir ini kita disuguhkan satu tontonan gratis, bahkan secara masif berlomba menjadi algoritma layar media sosial yang kita miliki terkait dengan situasi bangsa. Setiap kita membuka layar suguhan tersebut memaksa kita harus memilih, bahkan bersikap untuk memihak untuk satu aliran cara berfikir tertentu.
Untungnya sebagian kita yang melek tentang dunia permediasosialan, selalu sadar itu semua adalah suguhan, reklame, atau bahkan tawaran sampling. Dilengkapi dengan masih banyaknya masalah domestik pada diri kita yang tak kalah dari yang terungkap di layar media sosial.
Kita sebenarnya juga tidak tahu di mana posisi kita hari ini ketika bermedia sosial, bermacam platform yang ada di telepon genggam, seakan memosisikan diri kita mau ikut sebagai anggota aktif, atau cuek tanpa beban. Sungguh mungkin matikan handphone itu lebih baik apalagi bakda shalat isya pengantar tidur malam.
Namun boleh jadi itu adalah kita yang sedikit pernah mengecap dunia akademik, paling tidak pernah kuliah, atau pernah belajar filsafat. Menurut dosen filsafat kami dulu salah satu tujuan belajar adalah agar tidak tergoda oleh reklame atau iming-iming.
Sebagian saudara kita yang harga HP nya lebih tinggi dari gaji satu bulan, boleh jadi merekalah penikmat bahkan pemihak salah satu pemikiran yang berkembang di media sosial. Kita sesungguhnya peduli kepada mereka, ingin membantu bahkan merubah kepada yang lebih baik, tetapi seperti tak kuasa karena identitas yang sudah nyaman atau terganggu.
Inilah yang mungkin menjadi kekhawatiran seorang Pramoedya tahun 1980-an di depan mahasiswa Universitas Indonesia beliau menyatakan bahwa; seindah-indah gagasan yang tidak dicuba-wujudkan oleh otot dan dengan otot akan berubah menjadi roh-roh yang gentayangan (berkeliaran) – roh jahat yang menjadikan orang jadi munafik.
Media sosial seakan mengaburkan mana berita atas nama kejujuran atau bahkan dibalik kemunafikan. Kabur, atau suram kita saja yang selalu membaca sulit membedakannya.
Kita boleh saja khawatir terhadap saudara kita yang hari-harinya hanyut dengan arus media sosial seakan mengusung ideologi temporer bahkan absurd. Dalam kekhawatiran tersebut semoga timbul sebuah kesadaran bahwa ada sedikit peran kaum intelektual Indonesia sudah jelas.
Masih ada yang kuliah di kampus dan belajar filsafat dengan benar, maka masih ada harapan tentang gagasan perjuangan untuk melahirkan bangsa Indonesia diawali oleh mereka dengan kesadaran akan komitmennya dengan bangsanya.
Bombardir, jor-joran atau apapun istilahnya dalam bermedia sosial terkait dengan kondisi sosial memang perlu kearifan dan kebijakan untuk menanganinya. Beberapa ilmuwan intelektual mencoba membuat Whatsapp Group (WAG) sedikit akademis, kadang tergiur juga dengan hal-hal sepele yang krusial bahkan emosional.
Sebenarnya dari sinilah kita harus menyadari bahwa siapapun dihadapan kita, komunitas apapun yang ada di WAG harus memunculkan jati diri baik pembangun, pengguna terlebih pengawal media sosial.
Siapa lagi kalau bukan kaum intelektual atau akademisi seperti kita, karena memang dengan praktik intelektual keintelektualan menjadi kuat, dengan praktik otot (tenaga), otot menjadi kuat. Inilah mungkin yang dipesankan oleh Pramoedya beberapa dekade lalu.
Akhirnya semoga tontonan gratis di berbagai platform media sosial yang ada di layar telepon genggam bukan hanya reklame yang lewat, tetapi justru menjadi ladang amal kita untuk berbuat kebaikan. Salah satunya dengan melawan kebatilan, mengebiri kemunafikan bila ada berita hoaks, atau justru kita diam.
Dalam teori komunikasi diam itu juga sikap, apakah diamnya seorang gadis ketika dilamar oleh calon mertua, atau diam mencari posisi mengamankan diri. Hem…sungguh media sosial hari ini seperti yang tak pernah kita bayangkan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















