Bumi adalah masjid masjid yang dari awalnya memiliki fungsi sosial, pendidikan, ekonomi, politik, bahkan basis kekuatan militer, kini telah berubah menjadi hanya sekedar rumah ibadah (the house of worship). Secara sosiologis hal ini membuat beragama sekadar mempraktikkan ritual yang tempatnya disebut masjid. Padahal, bumi yang terbentang luas ini sesungguhnya masjid, dimana manusia melakukan banyak aspek kehidupan. (Syafruddin Syam, 2017).
Dalam hidup ini kita selalu berinteraksi pada tiga hal yakni; habluminallah, habluminannas dan habluninal`alam. Habluminallah dimaknai hubungan dengan Allah SWT sebagi pencipta secara vertikal, walaupun terkesan satu arah tetapi semua itu bernilai ibadah.
Habluminannas ditafsirkan dengan cara hubungan antar manusia secara hotizontal, apakah dengan manusia lingkungan kecil anggota keluarga, masyarakat yang lebih luas atau bahkan bangsa dan negara. Hubungan ini bila ditelusuri ada yang bernilai ibadah ada pula yang bernilai sekedar muamalah atau bahkan mubah.
Dan terakhir habluminal`alam dimaksudkan dengan cara mengeksplorasi seluruh tumbuhan, hewan dan alam semesta secara seimbang atau juga komunikasi diagonal. Komunikasi ini dapat menjadi bermakna atau bahkan untuk mempertahankan hidup tetapi bila berlebihan menjadi celaka.
Semua hubungan manusia baik itu vertikal, horizontal maupun diagonal bila dipahami dengan baik, maka harus dilakukan dengan seimbang agar bernilai ibadah tentu tidak meninggalkan fitrahnya. Namun akhir-akhir ini demi memenuhi hasrat hidup atau bahkan ambisi individu banyak yang melakukan eksplorasi terhadap hubungan antar manusia, hampir sebagian waktu manusia lebih terkuras untuk hubungan antar manusia.
Persoalan muamalah seakan menjadi ukuran manusia atas keberhasilannya. Boleh jadi bangunan masjid itu lebih diakhirkan dibanding membangun hotel untuk tujuan eksplorasi bisnis atau hubungan antar manusia. Bayangkan banyak musala diletakkan di sudut lorong sebuah pusat perbelanjaan, bahkan disediakan saja sudah merubah anggaran semula.
Dr Syafruddin Syam menelaah lebih jauh bahwa; seiring perkembangannya, peran masjid yang cukup luas tersebut telah didistribusikan ke berbagai lembaga termasuk jajaran kekuasaan negara baik eksekutif, legislatif, yudikatif, dan lain sebagainya. Peran lah disiapkan Allah bagi manusia untuk bersujud merendahkan diri kepada-Nya.
Apakah ini satu dari indikasi bahwa manusia hampir kehilangan keseimbangan hubungan? Tentu kita perlu mengkajinya lebih jauh, apa masalah yang sedang dihadapi, kehilangan orientasi hidup, atau bahkan hanya sekedar mengatasi persoalan kebutuhan pribadi.
Disadari bahwa hubungan horizontal tidak selamanya berjalan mulus, komunikasi selalu membawa masalah, bahkan eksplorasi terhadap alam semesta selalu beriringan dengan bencana bahkan petaka. Bila ditelusuri lebih jauh, boleh jadi niat untuk habluminannas dan habluminal`alam belum dikembalikan kepada orientasi ibadah kepada sang pencipta.
Sekali lagi Syafruddin Syam mengingatkan kita bahwa; banyak orang hanya sibuk membersihkan sajadah salat, lantai dan seluruh tempat salatnya di bangunan masjidnya, namun lupa membersihkan bumi Allah yang juga “menjadi masjid keduanya” dari berbagai kotoran dan najis yang merupakan penyakit dan virus sosial.
Ketika bumi menjadi masjid maka kita akan mendapatkan sebuah masyarakat beriman yang tidak hanya di ruang masjid, namun juga ada di kantor, pasar, rumah, dan tempat tempat lainnya. Alangkah indahnya jika bumi ini seluruhnya telah menjadi “masjid super besar” bagi kita semua.
Catatan dari persoalan di atas, marilah kita sadari bahwa manusia harus memiliki orientasi hidup yang jelas dan tegas yakni semua hal harus bernilai ibadah, habluminannas dan habluminal`alam semua harus diarahkan untuk meningkatkan kualitas ibadah.
Di manapun adalah tempat ibadah, kapanpun kita harus terjaga, kepada siapapun kita harus saling berbagi untuk meningkatkan kualitas sebagai seorang hamba.
Sungguh makna masjid yang kita alami selama ini, harus diinterpretasi lebih luas lagi mungkin inilah bisikan gelombang resonansi antar satu masjid dengan masjid lainnya atau antar suara azan di satu waktu sampai kepada waktu berikutnya. Kita hidup di sana dan mulailah untuk mengerti semua itu bernilai ibadah.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















