The secret language of statissties, so appealing in a fact minded, is employed to sensationalize, inflate, confuse, and oversimplify. statistical methods and statistical term are necessary in reporting ithe mass data of social and economic trends, business conditions, “opinion” polls, the census. but without writers who use the words with honesty and understanding and readers who know what they mean, the result can only be semantic nonsense. (Darrell Huff ,1954:9).
Instrumen ilmu pengetahuan itu ada empat yakni; logika, matematika, statistika, dan bahasa keempatnya harus digunakan dengan benar dari sejak ontologi, terlebih epistimologi dan menghantarkan sampai aksiologi.
Dengan logika kita dapat mengetahui apa yang harus diketahui dan bagaimana kita menetapkan alur berpikir untuk mencari kebenaran. Dua diantaranya adalah logika induktif dan logika deduktif. Inilah awal manusia mengelola dirinya mendapatkan pengetahuan dengan cara yang dapat dipertanggungjawabkan.
Instrumen berikutnya adalah matematika yakni dengan cara menguantifikasikan seluruh gejala bahkan benda apalagi realita dalam bentuk angka. Angka kemudian dikontrol, dikendalikan dan dijadikan cara untuk menarasikan seluruh apa yang ada di dunia ini bahkan frekuensi hati pun bisa dihitung.
Makanya tidak ada yang salah dalam angka, namun ketika menjumlah dan membagi disini sudah ada kepentingan siapa yang melakukan, apalagi jumpa dengan orang yang akan menggunakan.
Statistika adalah kumpulan angka yang memberikan informasi tentang gejala didepan mata. Tetapi ingat semua gejala itu harus diberi sematan oleh siapa yang memberi informasi, mengelola informasi dan akhirnya untuk siapa informasi itu dilakukan. Di sinilah kita mulai sadar tidak semua angka bernilai sama dihadapan semua orang, tergantung untuk kepentingan apa.
Tahun 1954 ini sudah disadari oleh Huff menurut beliau bahwa; metode statistik dan istilah statistik diperlukan dalam pelaporan data massa tentang tren sosial dan ekonomi, kondisi bisnis, jajak pendapat, sensus. Namun, tanpa penulis yang menggunakan kata-kata dengan jujur dan penuh pengertian serta pembaca yang tahu apa artinya, hasilnya hanya akan berupa omong kosong semantik.
Sampailah kita instrumen terakhir yakni bahasa atau cara mengomunikasikan apa yang ada dalam pikiran kita kepada orang lain. Ini adalah fungsi awal namun perkembangannya justru dapat dijadikan alat yang lebih luas dari sekadar menyampaikan maksud dan tujuan, lebih dari itu untuk politik dan hukum.
Kembali ke statistik ternyata; bahasa rahasia statistik, yang sangat menarik dalam konteks fakta, digunakan untuk membuat sensasi, membesar-besarkan, membingungkan, dan menyederhanakan secara berlebihan. Ini penegasan dari Huff yang sangat fenomenal.
Luar biasa, walaupun kita telah menyetujui logika adalah hal utama dalam berpikir tentang kebenaran, lewat matematika kita susun seluruh gejala, ternyata statistika dapat diputarbalikkan lewat satu narasi kata-kata.
Ahli filsafat boleh mengawali tentang kebenaran, tetapi para analis angka-angka menjadi raja di laboratorium, statistik mewakili kelompok paling taat asas dalam pengetahuan, namun ahli bahasa selalu tergoyah oleh tawaran kemana tujuan kita.
Sungguh itulah statistik mau untuk bohong-bohongan atau sekadar menyampaikan deretan angka, terserah siapa yang menguasai panggungnya.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.

















