Akhir semester telah berlalu, liburan pun telah membersamai seluruh warga khususnya yang memiliki anak sekolah.
Memang sekolah sudah terjadwal, rutinitas menjadi bagian dari waktu kerja baik guru, pegawai terlebih anak sekolah. Itulah liburan di mana tiga pekan telah dilalui seakan banyak kegiatan telah dialami, dari berkunjung, liburan sampai istirahat bahkan bersih-bersih menghiasi perjalanan waktu yang telah usai.
Bersama siapa kita liburan, bukan tergantung biaya atau jalan kemana, tetapi dari pilhan hati.
Duduk bersama tetangga, bercerita bagaimana liburan dilakukan, dari sejak pilihan, taksasi biaya, sampai belanja selalu menjadi hiasan dalam setiap pembicaraan.
Liburan memang tak ada habisnya untuk diceritakan, satu kali liburan, rencana esok liburan lagi terus diulang, sungguh hidup ini memang seakan dijadwal dari satu liburan ke musim liburan berikutnya. Bahkan ada yang liburan ke antarbenua, ada pula sambil berobat ke negara tetangga, tetapi ada pula yang sekedar keluar rumah yang penting liburan titik.
Pak Marmuj dan beberapa tetangga juga punya hak liburan, bekerja bukanlah hal yang luar biasa, tetapi selingan liburan adalah bagian dari pelepas lelah, penghilang stres di akhir kerja. Ternyata lebih dari itu adalah menata hidup bahagia salah satunya adalah kemampuan menyisihkan waktu untuk liburan bersama orang yang dekat pada saat yang tepat.
Itulah Pak Marmuj setelah liburan di akhir tahun ajaran kemarin, kini bersiap melakukan berbagai aktivitas mengajar untuk tahun ajaran berikutnya.
Di sudut desa, tempat joglo selalu duduk bersama empat orang sahabat karib terlibat dalam topik liburan yang sungguh menyenangkan. Walaupun beda pengalaman, tetapi sama-sama dinikmati karena memang topiknya satu yakni liburan.
Pak Marmuj; ah…..sudah tiga pekan kita istirahat bekerja, seakan waktu berjalan begitu cepat, bagaimana bapak-bapak kemana saja liburan kali ini.
Pak Margu; oh…..pasti pak…….anak-anak saya untung saja sudah merencanakan sejak lama, kami berkesempatan liburan ke gunung.
Pak Marmuj; lho….kok ke gunung pak, Nggak takut seperti wisatawan yang ke gunung Rinjani?
Pak Margu; ia pak, itu pilihan anak-anak, katanya sudah penat dan panas di rumah selama ini, jadi ingin “ngadem” sambil menikmati pemandangan gunung, satu malam tidur di vila, ya sambil bakar-bakar ikan, rasanya ingin diulang lagi. Bagaimana pak Marmuj ingin tahun kepan kita kesana!
Pak Marmuj; hem……enak juga ya.
Disela pembicaraan tentang liburan ke gunung, menyela pak Marpa.
Pak Marpa; oh….saya malah liburan ke pantai, disana justru kita bisa langsung pesan ikan segar, malam dengan keluarga sambil karaokean pak. Kami ambil paket kamar, sekaligus makan, semuanya bahkan travel nya pun telah disediakan.
Pak Marmuj; wah ini……malah praktis ya pak.
Pak Marpa; iya pak….anak-anak zaman sekarang, rupanya sudah banyak pilihan tinggal lihat di aplikasi masukkan apa yang kita inginkan, sampai mau berapa kamar pun tinggal pilih pak, apalagi mau makan ikan apa pun ada. Hahahahha, pokoknya tinggal lihat aplikasi saja pak.
Pak Marmuj; sungguh zaman sekarang memang sudah berbeda ya pak.
Pak Marmuj; nah…ini tinggal satu lagi, pak Marko, bagaimana liburannya katanya liburan dengan cucu ya pak.
Pak Marko; iya pak…..kami liburan ke kota, ya banyak hal yang bisa dilihat, tetapi semua sudah berbeda tidak seperti yang kita bayangkan.
Pak Marmuj; apa yang berbeda, kota kan sama juga tempatnya banyak untuk liburan, ada kebun binantang, atau tepat belanja.
Pak Marko; itulah pak masalahnya, ternyata di kota uang sudah tidak berlaku lagi, semua mau naik kendaraan atau bus kota pakai kartu, mau belanja semua pakai kartu, mau non film di bioskop semua pakai kartu.
Pak Margu; oh….iya….saya pun ingat kata anak saya di kota semua sudah menggunakan kartu, jadi uang tunai sudah tidak digunakan lagi, mungkin ini makanya anak saya mengajak ke gunung saja, hahahahah.
Pak Marmuj; oh….memang dunia sudah berubah ya pak.
Dari cerita bersama, tertawa bersama, bingung bersama, keempat sahabat sesekali menyeruput kopi yang tersaji. Memang bila sudah berjumpa empat orang seusia, bukan saja saling berbagi, tetapi kadang mengiri, bahkan saling memaki namun tujuannya untuk menghilangkan stres. Hem….duduk duapuluh lima menit diselingi berdiri sesekali memang sehat, menambah inspirasi lagi, cerita lagi….
Pak Marko; eh….dari tadi kita saja yang menceritakan liburan, lah Pak Marmuj….liburan kemana?
Pak Marmuj; saya liburan kali ini beda dari bapak semua,
Pak Margu; maksudnya beda bagaimana pak.
Pak Marmuj; saya tidak ke gunung, tidak pula ke pantai, apalagi makan ikan bakar, saya liburan spritual.
Semua sahabat sedikit terdiam, tapi juga penasaran, berlomba saling menebak.
Pak Marko; oh…ke tempat suluk ya pak?
Pak Marmuj menggelengkan kepala.
Pak Marpak; oh….berarti bapak berangka Umrah pasti.
Pak Marmuj tetap menggelengkan kepala.
Pak Marpa; jadi kemana pak liburan spritual…atau jangan-jangan bapak ziarah ke makam kuburan ya.
Semua tertawa hahahahahahahaha….
Pak Marmuj tetap menggelengkan kepala.
Jadi kemana pak? Ketiga sahabat kompak.
Pak Marmuj; saya liburan pulang kampung jumpa orang tua.
Oalah….Pak Marmuj….Pak Marmuj….memanglah.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; liburan adalah pilihan tindakan dengan berhenti sejenak dari rutinitas, meninggalkan kepenatan menikmati kehidupan yang berbeda dari kegiatan seharian.
Kedua; jadikan liburan adalah pelepas lelah masa lalu pekerjaan, namun yang utama adalah menyiapkan imun tubuh agar semangat bekerja untuk masa yang akan datang.
Ketiga; liburan adalah untuk menemukan kebahagiaan, dan bahagia itu salah satunya adalah ketika kita dapat melalui kesenangan dengan orang yang paling kita cintai, seperti istri, suami, anak, terlebih orang tua kita yang masih bersama di dunia ini.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.



















