Pandangan siswa terhadap pelajaran matematika masih berbeda-beda, diantaranya ada yang memandang matematika sebagai pelajaran yang menyenangkan tetapi lebih banyak siswa yang tidak begitu menyukai pelajaran matematika ini disebabkan karena banyak siswa menganggap matematika adalah pelajaran yang merumitkan, menakutkan dan membosankan. Ini sebabkan karena masih banyak guru yang kurang kreatif dalam melakukan proses belajar mengajar. (Mapilindo, 2019).
Matematika bukan ilmu, tetapi instrumen ilmu pengetahuan. Kedudukan matematika begitu penting untuk mendapatkan ilmu pengetahuan, maka posisinya sama dengan bahasa, logika, matematika dan statistika.
Itulah mengapa dari sejak zaman dulu kurikulum kita tidak pernah berani menghapus mata pelajaran matematika, mungkin takut kualat dengan sejarah yang mengantarkan filsafat skolastik sampai ke zaman sekarang.
Tetapi sebagian dari murid kita, mungkin saja kita selalu menjadikan “matematika” momok, sulit, menakutkan sampai terbawa siapapun yang menjadi bagian matematika. Tentu sosok utama adalah guru matematika.
Bertahun-tahun, keadaan ini disadari, bahkan sebagian penelitian sarjana, magister bahkan doktor mencari dan telah menemukan penyebabnya. Salah satu adalah tertelak kurang kreatifnya sosok guru matematika tadi.
Tokoh pendidikan kita Drs Harus Mapilindo MPd, pernah memberikan satu catatan dari hasil penelitian beliau bahwa; guru masih menggunakan model pembelajaran lama atau konvensional dalam arti komunikasi dalam pembelajaran matematika cenderung monoton dan berlangsung satu arah umumnya dari guru ke siswa. Ini pasti ada alasan, mengapa guru melakukan hal itu, mungkin saja cari aman, atau memang mencontoh guru mereka sebelumnya.
Selanjutnya menurut beliau bahwa guru lebih mendominasi pelajaran, maka pelajaran cenderung monoton seningga mengakibatkan siswa sering merasa jenuh dan kurangnya keaktifan siswa dalam mengikuti pelajaran matematika. Sekali lagi gurunya guru pernah menjadi muridnya murid, maka murid yang akan datang hampir pasti adalah warisan guru matematika hari ini. Apa yang bisa kita bayangkan?
Tetapi dalam bagian lain Mapilindo menegaskan, bagi yang menganggap matematika menyenangkan, maka akan tumbuh motivasi dalam diri individu tersebut untuk mempelajari matematika dan optimis dalam menyelesaikan masalah-masalah yang bersifat menantang dalam pembelajaran matematika.
Sebaliknya, bagi yang menganggap matematika sebagai pelajaran yang sulit, maka individu tersebut akan bersikap pesimis dalam menyelesaikan masalah matematika dan kurang termotivasi untuk mempelajarinya.
Dalam dunia pendidikan tidak ada yang sulit, bahkan tidak ada materi pelajaran yang membosankan yang ada murid itu belum jumpa guru yang tepat. Mungkin saja guru matematika tahun 2045 harus dihadirkan hari ini, atau guru dari Finlandia didatangkan ke negeri ini.
Kita diajak menyadari bahwa akibatnya, banyak siswa yang tidak mampu menguasai materi-materi pelajaran matematika khususnya limit fungsi aljabar. Hal tersebut berimbas pada nilai rata-rata ujian nasional matematika yang mengalami penurunan.
Kita boleh mencatat ini sebagai indikator pembelajaran di sekolah, tetapi lebih jauh dari itu matematika bukan sekadar pelajaran, bukan saja tersemat dalam tulisan guru sertifikasi. Matematika adalah instrumen ilmu pengetahuan untuk membangun peradaban yang lebih luas dari itu semua.
Kembali ke awal, bahasa, logika, matematika dan statistika semuanya adalah satu kesatuan untuk membangun anak bangsa. Dengan bahasa kita berharap terjadi kesantunan guru dan murid dalam interaksi, dengan logika murid akan memiliki cara berpikir yang benar dan fungsional, dan dari matematika kita memberi tugas pada guru semua dapat diselesaikan dengan otak kiri yang analitik tetapi tidak meninggalkan otak kanan yang holistik.
Akhirnya statistika memberi informasi cara memberi pertimbangan untuk membuat keputusan secara ilmiah. Sungguh guru yang mengerti hal ini dia sudah lahir sebelum 2045, dan tidak mesti diimpor dari negeri tetangga.
Harapan Mapilindo sebagai Ketua Dewan Pendidikan, tidak perlu jauh tetapi ada di depan mata kita yakni bagi guru matematika mampu menciptakan kondisi belajar yang kondusif dan menarik bagi siswa serta semangat.
Guru juga mampu memilih dan menggunakan dengan tepat metode pembelajaran yang sesuai dengan tujuan pembelajaran, materi yang diajarkan, dan karakteristik siswa.
Saya guru matematika yang tidak benci kepada siswa, karena saya pernah menjadi siswa yang mendapatkan pengalaman baik dari guru matematika saya. Sekarang apakah saya ada di sana, tergantung guru matematika.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















