Cultural difference is considered one of the main factors that inhibit Indonesian education to implement this type of instruction. Ideologies of the general Indonesian society and school cultures are believed to contribute to the ineffectiveness of CCI in the Indonesian classroom. In addition, the article recognizes that school governance also inhibits teachers to implement this teaching practice within their classrooms. Issues of standardized curriculum and system assessment, and classroom setting have made CCI difficult to apply in the Indonesian educational context. To provide insights on how to revitalize this kind of instruction in the Indonesian classroom, this article offers some suggestions such as improving teachers‘ pedagogical competence through teacher education curriculum reformat and also the government political will and support, to open the space that allows the implementation of CCI in the Indonesian classroom. (Teuku Zulfikar, 2013).
Pendidikan selalu identik dengan kurikulum karena dengan kurikulum kegiatan pendidikan dapat direncanakan, dikelola, dikembangkan kemudian dievaluasi dengan baik.
Kurikulum itu sederhananya ada empat unsur utama yakni; ide, dokumen, proses dan output. Ide menjelma menjadi visi misi, dokumen tertulis dalam setiap aturan seperti panduan, SOP dan lain sebagainya, serta proses adalah kegiatan nyata di kelas, dan akhirnya output tampak pada alumni atau tamatan.
Keempat unsur tersebut tersiklus dalam setiap tahapan kurikulum, baik di tingkat paling rendah sampai paling utama yakni kurikulum pendidikan nasional.
Pada kenyataannya proses dari ide, sampai output banyak dipengaruhi oleh berbagai faktor apakah itu faktor internal maupun eksternal. Seperti pemahaman terhadap peserta didik apakah mereka menjadi bagian dari kurikulum atau justru mereka menjadi pusat kurikulum atau Child Center Instruction (CCI).
Prof T Zulfikar telah mengingatkan kita terkait dengan kedudukan peserta didik ini menurut beliau ada empat catatan penting yakni sebagai berikut:
Pertama, perbedaan budaya dianggap sebagai salah satu faktor utama yang menghambat pendidikan Indonesia untuk menerapkan jenis pengajaran. Ideologi masyarakat Indonesia secara umum dan budaya sekolah diyakini berkontribusi pada ketidakefektifan CCI di kelas Indonesia.
Kedua, implementasi CCI ini ditentang karena kendala budaya dan perbedaan keyakinan filosofis, yang menjadi dasar pendidikan Indonesia secara historis. Di Indonesia, pembelajaran hafalan dan kelas yang berpusat pada guru, misalnya, masih dianggap oleh sebagian orang sebagai hal penting.
Ketiga, diakui bahwa tata kelola sekolah juga menghambat guru untuk menerapkan praktik pengajaran ini di kelas. Tentu ini menjadi bahan penting bagaimana kedudukan pendidik hari ini sangat krusial dikarenakan soal adminstrasi juga teknologi.
Keempat, isu kurikulum standar dan sistem penilaian, serta pengaturan kelas telah membuat CCI sulit diterapkan dalam konteks pendidikan Indonesia. Untuk memberikan wawasan tentang bagaimana menghidupkan kembali jenis pengajaran ini di kelas Indonesia,
Prof T Zulfikar pakar dalam bidangnya menawarkan seperti meningkatkan kompetensi pedagogis guru melalui reformasi kurikulum pendidikan guru dan juga kemauan politik dan dukungan pemerintah, untuk membuka ruang yang memungkinkan implementasi CCI di kelas Indonesia.
Menurut beliau bahwa, mereka percaya bahwa praktik-praktik progresif seperti berpikir kritis, dialog kritis, dan pengajaran yang berpusat pada anak akan membantu siswa belajar lebih baik.
Kita juga diajak memahami bahwa terdapat ketegangan antara filosofi pendidikan Indonesia yang progresif dan tradisional. Namun, implementasi ini ditentang karena kendala budaya dan perbedaan keyakinan filosofis, yang menjadi dasar pendidikan Indonesia secara historis.
Di Indonesia, pembelajaran hafalan dan kelas yang berpusat pada guru, misalnya, masih dianggap oleh sebagian orang sebagai hal penting dan sesuai.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















