Duduk sendiri memandang langit itu menjadi bagian dari cara melihat betapa besarnya ciptaan Tuhan yang patut disyukuri. Duduk bersama orang yang dicintai ketika mereka melakukan apa yang kita senangi di sanalah kebahagiaan tercipta. Sungguh hidup ini memang siklus antara bersyukur dan bahagia tinggal kita bagaimana menikmatinya, dan menyikapinya menjadi bagian dari perjalanan sehari-hari. Mungkin ini salah satu makna dari “dimana langit dijunjung disitu bumi dipijak”, tak ada yang harus dipahami secara berlebihan, jalani saja apa yang terjadi, nikmati sesuai dengan kemampuan yang ada.
Hemm….sore itu tiba-tiba langit menunjukkan kebesarannya, mulai bergeser dari teriknya siang kemudian mengarah kepada tempat peraduan. Penghuni bumi di sudut sore beranjak menyesuaikan diri dengan alam, masuk ke rumah siap-siap dengan aktivitas ringan yang lebih menyesuaikan. Dan……Pak Marmuj pun masuk pustaka kecil yang ada di ruang kerjanya, merasa ada sesuatu yang ia cari.
Buku 100 tokoh yang disusun oleh Michael H.Hart ia cari dari susunan buku, rak atas, sampai dibalik tumpukan map tak tampak dari pantauan. Bolak-balik berkas, sisir pandangan sampai ke sudut buku bekas semua hasilnya nihil. Kemana buku 100 tokoh ini ya….gumam Pak Marmuj sendiri. Apa mungkin dipinjam teman tapi siapa ya…… ah……besok dicari lagi lah.
Esok hari seperti rutinitas biasa Pak Marmuj mengajar di kelas, jam istirahat adalah waktu yang ditunggu untuk menyampaikan pengumuman kecil kepada rekan seprofesi.
Pak Marmuj; maaf bapak ibu teman-teman ku, saya di rumah kehilangan buku, mungkin ada yang tahu.
Pak Marbu; oh…ya…buku apa pak?
Disela oleh rekan lain
Bu Marse; lho….kehilangannya di rumah, tapi kok tanya nya sama kami di sekolah, bagaimana ini Pak Marmuj…..(dalam hati bu Marse, seperti dia saja yang kehilangan saya pun bahkan mungkin semua orang pernah kehilangan)
Pak Marmuj; oh…begiri buku itu kesayangan saya sejak kuliah dulu, judulnya 100 tokoh paling berpengaruh, tak tampak lagi di rumah saya, mana tahu bapak ibu ada yang pinjam.
Pak Marbu; hah…pinjam……tapi dulu bapak pernah menulis quotes tentang meminjam buku, ini dia, “Hanya orang yang bodoh yang meminjamkan buku, tetapi orang terbodoh di dunia adalah orang yang mengembalikan pinjaman buku”.
Semua rekan-rekan Pak Marmuj di ruang guru tertawa, seakan menghilangkan kekesalan Pak Marmuj tentang buku yang hilang.
Pak Marmuj; ya sudahlah…….
Siang seperti hari sebelumnya masih dihiasi cahaya matahari seakan menyengat setiap kulit yang lewat di depan sekolah, inilah yang menjadikan semua yang keluar sekolah seakan terburu pulang ke rumah.
Pak Marmuj meninggalkan semua cerita sekolah, baik beban tentang anak yang bermasalah sampai rekap nilai yang bisa diulangi esok lagi. Terlebih cerita teman tentang bodohnya orang yang meminjamkan buku.
Sampai di rumah semua rutinitas selesai dilakukan, Pak Marmuj mencoba memandangi rak buku nya yang sedikit reot karena sudah lama tak dibersihkan. Memandang dari sudut bawah sampai atas, dari sudut kanan dekat pintu sampai batas jendela, sedikit terhenti dan terdiam, dalam hati kemana buku 100 tokoh itu ya?
Pandangan dilanjutkan tak lama dari sudut yang lain tampak buku warna cerah ata tulisan 100 Pak Marmuj dengan sigap langsung mengambil… e…ternyata judulnya 100 resep kudapan nusantara. Hem……dalam hati Pak Marmuj….
Namun di balik itu Pak Marmuj…..terdiam sejenak ia menyadari buku ini sepertinya bukan miliknya, ia ingat-ingat….ini adalah buku bu Marse yang pernah dipinjamnya beberapa tahun lalu.
Pak Marmuj pun meneruskan pandangannya ke sudut rak yang lain, menyisir setiap judul dan mengingat dari mana buku itu asal muasalnya. Ternyata dua, tiga bahkan 10 buku yang ada di rak adalah buku teman-teman Pak Marmuj yang pernah dipinjamnya, dan sampai sekarang belum dikembalikan. Pak Marmuj terdiam sejenak.
Hari berikutnya jam istirahat seperti biasa Pak Marmuj dan teman-teman saling menyapa, tapi kali ini sedikit berbeda;
Pak Marmuj; bapak ibu saya ini ada buku.
Pak Marbu; hahaaa..bagaimana pak sudah dapat bukunya semua, itu saya lihat ada judulnya 100. sudah aman pak.
Pak Marmuj; begini ada 10 buku yang saya bawa ini ternyata punya teman-teman, mungkin saya khilaf atau lupa, jadi ini saya kembalikan, mungkin ada yang punya, saya benar-benar minta maaf.
Bu Marse mendekat; nah…..ini kan buku saya 100 resep kudapan nusantara, sudah lama saya cari.
Pak Marmuj; maaf-maaf ini saya kembali kan ibu (Pak Marmuj senyum total menghilangkan rasa bersalah).
Pak Marbu; wah….Pak bagaimana cerita orang bodoh tentang meminjam buku, hahahahaha….
Pak Marmuj; ya sudahlah….mohon bapak ibu bila ada yang punya buku lainnya ini di depan saya silahkan ambil, saya benar-benar minta maaf.
Akhirnya 7 buku ada yang mengambilnya, dan tiga buku tersisa ternyata memang ada stempel sekolah atau milik pustaka, dan segera dikembalikan. Pak Marmujpun lega, bukan hanya ringan tak bawa 10 buku pulang ke rumah, tetapi seakan semua telah terlepas dari masalah pinjam meminjam.
Pulang ke rumah Pak Marmuj sekali lagi memandangi pustakanya melihat rak buku yang sedikit mulai rapi dan tak ada lagi buku-buku aneh tak dikenal pemilik yang sah. Dalam hati Pak Marmuj biarlah quot tentang bodohnya meminjamkan buku hilang ditelan zaman, semoga tidak kembali ke pustaka saya.
Hem….Pak Marmuj mencoba membuat qout baru tentang buku agar lebih berkah.
“Hanya orang bijak yang meminjamkan buku, karena buku yang berkah pasti kembali kepemilik yang bijak”.
Hari berganti hari, waktu berselang tanggal tigapuluh satu dilewati tanggal satu pun menjadi berarti. Perpustakaan mini pak Marmuj tetap seperti biasa rak buku sederhana menyimpan banyak kenangan termasuk arsip buku lama.
Pandangan Pak Marmuj tak pernah lelah, e…..ternyata beberapa buku yang selama ini seperti hilang, muncul kembali, entar dari mana. Satu dua dia ingat memang dikembalikan lewat istri, atau entah siapa, yang pasti kini hampir semua buku nya sekan pulang ke rak sederhana yang ia miliki.
Dalam hati Pak Marmuj, mungkin kalau masih ada buku orang lain pada diri kita, disaat itu pulalah barang kata ada pada orang lain. Yang benar quotnya adalah; “kembalikan apa yang yang menjadi hak milik orang lain, sebelum engkau tuntut barang milik mu yang dijaga orang lain”. Sampai tidur malam, esok harinya, Pak Marmuj tak berhenti berulang untuk bersyukur, kini buku 100 tokoh telah ada lagi di hadapannya.
Hari berikutnya Pak Marmuj ke sekolah di ruang guru tidak lagi sibuk cerita tentang kehilangan, mungkin lebih menyadari banyak hal yang perlu dilihat pada diri sendiri. Itu baru buku 100 tokoh satu yang dipinjam satu yang hilang, bagaimana pula kalau buku tips menyayangi pasangan hidup, wah bisa benar-benar hilang, dalam hati pak Marmuj…..hem…memandang langit ternyata banyak hal bisa jadi cerita ya…..
Hem….Pak Marmuj….Pak Marmuj…ada-ada saja.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; setiap kita memiliki hak untuk barang seperti buku dan lainnya, untuk itu jagalah dengan sebaik-baiknya agar lebih bermanfaat.
Kedua; sebuah buku yang kita miliki sangat berarti bukan pada fisiknya tetapi nilai ajaran atau pengetahuan yang ada didalamnya, semakin banyak yang membaca maka semakin berkah tujuan penulisnya.
Ketiga; pinjam meminjam buku tidak ada yang melarang, yang dilarang adalah merasa diri menjadi hak pemilik atas barang orang lain dan tidak menyadarinya secara berkelanjutan.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















