Dalam budaya bangsa kita, orang tua merupakan sesepuh yang dijunjung dan dihormati dalam kehidupan keluarga dan masyarakat sehingga mereka wajib kita hormati dan bahagiakan. (Asren Nasution, 2024).
Tidak ada saya kalau tak ada orang tua, tak ada orang tua, kalau tidak ada orang tuanya, dan seterusnya sampai adanya nabi Adam. Ternyata orang tua itu bukan karena usianya lebih tua dari kita, tetapi dia adalah orang yang menjadikan dirinya dituakan oleh siapapun yang ada di sekitarnya, terlebih anak dan anggota keluarga. Makanya tidak ada orang tua yang rela anaknya hanya seperti dirinya. Ia tetap ingin anaknya lebih dari apa yang ia miliki selama ini.
Sungguh orang tua akan menjadi benar-benar orang tua ketika fungsi dan perannya tampak dalam memberi bimbingan, pengarahan, dorongan bahkan pengendalian terhadap anak-anaknya.
Semua ia lakukan dengan cara sederhana yakni suri tauladan, tak sekalipun ia berani mengatakan hal apa yang tak dilakukan. Justru ia selalu menyembunyikan kekurangan di hadapan semua orang demi anak yang dicintai agar tetap memiliki kelebihan dari apa yang ada pada dirinya.
Kita selalu menganggap orangtuanya orang tua adalah mereka yang berada pada kelompok lanjut usia atau lansia. Hal ini harus dipandang sebagai sikap terhadap mereka, bukan menempatkan orangtua sebagai obyek pembahasan apalagi permasalahan.
Menyadari inilah, maka Dr Asren Nasution memperingatkan kita semua bahwa terdapat tiga aspek mendasar yang sangat penting bagi kesejahteraan para lansia, yaitu kesehatan fisik, kesehatan mental dan kesejahteraan sosial.
Secara rinci beliau menjelaskan bahwa; Pertama, kesehatan fisik sangat penting bagi para lansia karena kondisi fisik cenderung menurun seiring bertambahnya usia. Sehat sampai tua itu selalu menjadi pemandangan yang disenangi oleh anggota keluarga, bahkan orang muda sekalipun, bagaimana itu dapat dilakukan tidaklah instan tetapi perlu pembiasaan, bahkan rutinitas yang berkelanjutan dengan saling mengingatkan. Intinya orang tua jangan ditinggal sendiri, harus selalu ditemani ketika makan, apalagi olahraga.
Kedua, kesehatan mental juga tidak kalah pentingnya antara lain perlu dukungan dari keluarga, teman dan profesional kesehatan mental. Mengembangkan hobi dapat membantu mengurangi stres dan meningkatkan kesehatan mental. Selalu para orang tua bila kita ajak bicara kadang dia ingin cerita masa lalu, apalagi diteruskan banyak temannya yang telah pergi, ini sesungguhnya memberi celah bagi kita untuk mendengarkan lebih banyak. Biarkan dia bicara, ajak ke tempat masa lalunya, kenangan tempat dan momen akan memberikan semangat dalam setiap kegiatan. Ya…namanya juga orang tua, badannya yang tua tapi kadang yang lain masih seperti anak-anak, itu maksudnya ia ingin kembali mengenang perjalanan hidupnya.
Ketiga, kesejahteraan sosial berperan besar dalam kualitas hidup para lansia. Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah berpartisipasi dalam kegiatan sosial seperti klub, komunitas atau kelompok keagamaan dapat meningkatkan perasaan keterlibatan. Tak ada salahnya orang tua menjadi pengurus organisasi atau kelompok paguyuban, tetapi alangkah bijaksana bila mereka justru diminta menjadi dewan penasehat, atau majelis pertimbangan. Datang saja sudah syukur, mau bicara sedikit saja sudah baik semua itu dijadikan nasihat bagi yang muda. Orang tua itu akan bijaksana karena telah banyak makan asam garam bukan karena masam dan asinnya, tetapi berkali-kali ia banyak pengalaman terlalu asin atau terlalu masam semua pernah dilaluinya.
Sekali lagi Dr Asren menegaskan bahwa kalau hari ini kita sudah orang tua bersyukurlah, kalau esok hari kita baru jadi orang tua maka berdoalah agar semua tetap sehat.
Ketiga aspek di atas tadi saling memengaruhi satu sama lain. Menjaga keseimbangan antara kesehatan fisik, mental dan sosial dapat membantu para lansia menjalani kehidupan yang lebih sehat dan bahagia.
Akhirnya saya pun rela hari ini masih menjadi orang muda yang harus melayani dan memberi perhatian pada orang tua. Setiap orang tua berhak mendapatkan kebahagiaan, saya tidak mau jadi tua, maka saya absen dari dunia yang menjanjikan kebahagiaan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















