Siang begitu terik malam terasa dingin, pergantian hari kadang diselingi hujan dengan jadwal yang memang tidak dapat diramal apalagi ditetapkan, kita memahami itulah kuasa Tuhan.
Bayangkan kalau satu saja kegiatan seperti hujan diminta kita untuk membuat jadwal boleh jadi tepat untuk satu negeri pada waktu yang berbeda belum tentu diterima oleh negeri lain.
Air hujan jadi banjir kadang selalu datang bergantian, kekeringan melanda sampai kelaparan justru sulit mencari air setetes pun-tak ada di tempayan. Itulah siklus kehidupan, nikmati bukan dipungkiri.
Pak Marmuj kadang merasa kepanasan, boleh jadi karena sudah lama tidak turun hujan, tetapi kadang kita harus sadar bahwa panas adalah cuaca yang harus disyukuri bukan dihindari. Sampai akhirnya terdengar suara kipas angin yang begitu kencang di ruangan guru, biasa tempat untuk duduk menanti jam istirahat.
Bincang dari musim panas sampai kekeringan, cerita dari musim hujan sampai kebanjiran, tapi kali ini Pak Marmuj membawa satu cerita sedikit memilukan namun banyak hikmah dan pelajaran. Kisah ini adalah kebarakan laboratorium sebuah sekolah di pinggir kota.
Pak Marmuj memulai cerita pada teman-teman guru. Menurut beliau dari kisah inspirasi Mendarat di Bulan, kini terjadi guru mendarat di laboratorium yang kebakaran. Penasaran para guru duduk merapat, konsentrasi, dan siap-siap menebak bila ada sesuatu yang mungkin menjadi kata kunci dari cerita Pak Marmuj. Maaf memang Pak Marmuj selalu memberikan hal yang di luar dugaan, apalagi ini cerita soal kebakaran.
Pak Marmuj; Dengarkan baik-baik saudaraku para guru yang baik hati, dan guru yang mana yang harus dipilih.
Sebagian guru sudah mulai merasa ada sesuatu tentang dipilih pikir mereka.
Pak Marmuj; suatu ketika pada liburan akhir semester sebuah sekolah di pinggir kota terbakar pada malam hari. Kabar terbakarnya sekolah ternyata ada bagian utama yakni laboratorium pendidikan agama Islam, sampailah berita tersebut kepada guru yang tinggal tidak jauh dari kompleks persekolahan berjarak sekitar 1,9 kilometer.
Kebakaran masih terjadi, gurupun bergegas dan sampai di sekolah kemudian melihat sebagian ruang laboratorium di mana ia mengelola, api telah melahap sebagian isinya. Sebagai seorang guru, ia memiliki naluri untuk menyelamatkan semua isi laboratorium karena itulah yang menjadi bagian dari tempat pengabdiannya selama ini.
Bayangkan anda adalah guru dimaksud, kini anda diminta mengeluarkan kemungkinan 15 barang yang tersisa, untuk itu buatlah skala prioritas dengan memberikan angka dari satu sampai limabelas dari pilihan anda.
Adapun kemungkinan barang dimaksud adalah sebagai berikut, diurut berdasarkan abzad;
Al Qur`an dan Terjemah
Bangku
Buku Infaq Siswa
In focus
Jam Dinding
Kemocen
Keranjang Sampah
Peci hitam
Penggaris Besi
Sajadah
Sapu Ijuk
Siswa
Telepon Seluler
Uang Rp.10000.
Nah dari limabelas barang tersisa, bila anda ada pada posisi guru dimaksud, mana yang akan anda keluarkan lebih dahulu:
Semua guru mulai berfikir, tetapi ada yang langsung menjawab.
Pak Marke; siswa, jelas itu manusia.
Bu Maram; siswa…jelas menyelamatkan anak manusia dulu pak.
Pak Marmuj; ok….yang kedua?
Bu Maram; Al Qur`an dan terjemah pak, karena itu kitab suci.
Pak Marke; saya berbeda pak Buku Infaq siswa, karena ini penting untuk pertanggungjawaban.
Pak Marlab; kalau saya tetap Al Qur`an pak paling tidak kita harus menyelamatkan semampu mungkin.
Pak Marmuj; boleh…….langsung kira kira yang ketiga, empat, lima…….
Ok. Kira-kira yang kelima belas apa bapak ibu?
Pak Marke; Rol Besi pak, kan tahan api.
Bu Maram; siswa.
Pak Marlab; lho….tadi siswa yang pertama, mengapa bergeser.
Bu Maram; kan siswa bisa lari sendiri pak.
Semua tergawa gerrrr…….
Pak Marmuj; ok jawaban dari cerita ini adalah lima belas yang harus segera diselamatkan dalam kejadian kebakaran laboratoirum menurut manajemen skala prioritas adalah sebagai berikut:
Pertama, sapu ijuk karena penting untuk membantu memadamkan api yang masih tersisa.
Guru; lho bukannya siswa…….
Kedua, keranjang sampah (Pak Marmuj seakan tidak peduli dengan protes guru).
Guru; lho………kok..
Pak Marmuj; ya keranjang sampah karena sekaligus tempat untuk mengumpulkan dan membawa barang-barang yang tersisa, masuk akal kan.
Ketiga; kitab suci Al Qur`an, ya semampunya kita selamatkan.
Guru; ah……bagaimana ini logika diwaktu kebakaran pak.
Pak Marmuj; yang keempat belas; mungkin siswa. Sudah jelas.
Guru; protes pak, siswa itu kan nyawa pak, penting.
Pak Marmuj; yang kelima belas thelephone seluler, sebaiknya hindari, karena bisa berbahaya mungkin saja meledak karena kepanasan.
Guru; tidak setuju pak, bahkan menurut saya yang juga penting adalah buku infak siswa.
Pak Marmuj; ok, bapak ibu, jangan bertengkar, mari kita lihat cerita awalnya ya perhatikan dengan baik sekali lagi.
Kejadian kebakaran itu kan malam hari, maka tidak ada siswa………
Dan pada liburan akhir semester, maka buku infaq siswa sudah selesai dipertanggungjawabkan…..
Guru; oh…….benar juga ya, memang lah kalau Pak Marmuj ini……
Pak Marmuj; makanya kalau kita mau mendengar dengan baik, rincian, sistematis bahkan teliti dulu sebelum menjawab, maka mungkin bisa semua.
Bapak ibu itulah cerita, setiap hari kita ada cuaca boleh jadi musim panas, mungkin saja musim dingin, tetapi mari kita syukuri bukan justru memungkiri. Bapak ibu yang kita pertentangkan skala prioritasnya, padahal kita semua sama-sama belum pernah mengalami, hehehehehe….
Guru; oalah…Pak Marmuj….Pak Marmuj…memang benar juga ya.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; setiap kita pasti pernah mengalami masa sulit, dan secara bertubi-tubi bisa datang masalah karena memang tak pernah diundang, sikapilah dengan arif dan bijaksana tidak perlu tergesa-gesa untuk menyelesaikannya .
Kedua; segeralah fahami satu masalah, karena mengerti dengan baik sebuah masalah itu berarti telah setengah menyelesaikan. Yakinlah setiap masalah pasti adalah solusinya, kalau tidak ada berarti itu bukan masalah.
Ketiga; Tuhan hanya memberikan cobaan kepada hambanya yang mampu menghadapi, maka hadapi bukan hindari, dari sana Tuhan mungkin akan memberi jalan yang tidak kita duga tentang kebaikan setelahnya.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















