Sistem nilai pendidikan Islam adalah seperangkat nilai-nilai pendidikan Islam dalam rangka proses transformasi dan internalisasi ilmu pengetahuan untuk menjadi insan kamil yang menemukan
kesempurnaan hidup di dunia dan akhirat. (Mohammad Arif, 2016: 214).
Tujuan hidup manusia adalah ingin menjadi makhluk paling paripurna di muka bumi Allah. Karakteristik paripurna menjadi sangat ideal ketika rujukan ditetapkan oleh nilai-nilai kemanusiaan yang sangat tinggi yakni berdasarkan kitab suci dari agama agar kepercayaan tertentu. Tetapi justru berbeda makna kesempurnaan hidup bila kriterianya diserahkan pada mereka mereka yang memiliki otoritas apakah itu ilmuan, agamawan atau justru teknokrat.
Para ilmuwan menganggap bahwa kesempurnaan hidup manusia dapat dicapai bila seseorang mampu mendayagunakan seluruh potensi yang ada pada dirinya, ia memiliki pengetahuan dan keterampilan mengeksploitasi alam dan seterusnya.
Tetapi para agamawan memiliki pendekatan berbeda, manusia paripurna adalah mereka yang memiliki keikhlasan dalam hidup tunduk dan patuh pada sang pencipta karena memang tujuan hidup ada untuk menghambakan diri atau pengabdi.
Sedikit berbeda, para teknokrat yang memilih jalan tentang hakikat manusia. Menurut mereka semua manusia memiliki kesempatan yang sama tetapi siapa yang paling mampu mencari kesempatan atau menemuka peluang dalam hidup ini, maka keberuntungan adalah keahlian yang harus diasah.
Seorang ilmuwan Muhammad Arif berfikir tentang bagaimana memahami tentang manusia paripurna, menurut beliau bahwa pendidikan merupakan sebuah proses dan sekaligus sistem yang bermuara dan berjuang pada pencapaian suatu kualitas manusia tertentu yang dianggap dan diyakini sebagai yang ideal.
Untuk itulah maka kata kunci pendidikan, sejarah telah membuktikan merupakan jalan untuk mendapatkan manusia paripurna, hari ini pendidikan masih menjadi pilihan bagi mereka yang percaya paripurna dapat dicapai oleh siapa saja, bahkan masa depan umat manusia berani berinvestasi dengan pendidikan demi generasi yang lebih baik.
Berbicara tentang pendidikan Islam, berarti berbicara tentang nilai ideal yang bercorak Islam. Inilah yang menjadi bagian penting dari pemikiran Muhammad Arif, sampai akhirnya beliau memberi tiga pernyataan penting yakni sebagai berikut:
Pertama, pendidikan Islam ingin membentuk manusia menyadari dan melaksanakan tugas kekhalifahan dan memperkaya diri dengan khazanah ilmu pengetahuan tanpa mengenal batas. Namun juga menyadari bahwa hakikat kseluruhan hidup dan pemikiran ilmu pengetahuan itu tetap bersumber dan bermuara pada Allah SWT, Yang Maha Pencipta dan Maha Mengetahui.
Kedua, tujuan terakhir dari pendidikan Islam terletak dalam realisasi sikap penyerahan diri sepenuhnya pada Allah baik secara perorangan, kelompok, sebagai hamba yang berilmu pengetahuan dan beriman secara bulat sesuai dengan kehendak penciptaan-Nya untuk merealisasikan cita-cita yang terkandung dalam ajaran Allah.
Ketiga, setelah manusia bersikap menghambakan diri kepada Allah berarti manusia telah berada di dalam dimensi kehidupan yang mensejahterakan dunia dan membahagiakan akhirat, sesuai dengan doa kita sehari-hari.
Apakah kita harus memisahkan pemikiran para ilmuwan, agamawan atau teknokrat tentang hakikat manusia paripurna, jawabannya tidak, ternyata dari dasar yang sama tentang hakikat manusia, juga memiliki tujuan yang sama tentang akhir dari hidup ini.
Maka jalan boleh berbeda, tetapi bukan untuk dipisah, justru bekerjasama saling berbagi untuk mencari jalan terbaik dengan catatan tidak saling menyalahkan adalah pilihan.
Satu negara bangsa sukunya, satu suku banyak ketua adatnya bahkan satu kepala keluarga beragam pula anggotanya, boleh jadi satu kepala manusia banyak pula pikirannya, dari sinilah kita belajar bahwa tujuan yang satu tidak mesti dipecah gegara berbeda pendekatan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















