Kalau saya memperhatikan para pelajar (santri), sebenarnya mereka telah bersungguh-sungguh dalam mencari ilmu, tapi banyak dari mereka yang tidak memperoleh manfaat dari ilmunya, yakni berupa pengamalan ilmu tersebut dan menyebarkannya.(Syaikh Az Zarnuji, 2009).
Pendidikan dapat dilakukan di mana, kapan dan oleh siapa saja. Namun karena perkembangan yang semakin pesat, orang tua tidak sanggup lagi melakukan pendidikan (in-formal) terkait dengan berbagai kompetensi yang harus dimiliki anak ketika dewasa nanti.
Dari sini lahirlah apa yang disebut dengan sekolah atau kegiatan teratur (formal), namun ada pula yang pihak ketiga yang setiap saat mengiringi kehidupan anak yakni masyarakat di mana di dalamnya juga terdapat praktik pendidikan yang disebut dengan (non-formal).
Salah satu pendidikan yang dilakukan secara khusus dalam satu lembaga formal adalah pesantren. Lahir dan hadirnya pesantren tentu banyak perspektif apakah atas kebutuhan masyarakat atau inisiasi seorang kyai, atau memang menjadi alternatif ditengah arus pendidikan lainnya. Yang pasti pesantren telah hadir di negeri ini sebelum Indonesia merdeka, dan sampai sekarang tetap eksis mengisi bahkan memberi warna tersendiri bagi pembangunan generasi anak bangsa.
Salah satu kitab yang menjadi rujukan atau buku wajib bagi anak-anak yang belajar di pesantren disebut santri adalah Ta`lim Muta`allim karya Syaikh Az Zarnuji. Dalam kitab tersebut ada pengantar penting dari beliau yang menyebutkan bahwa; Kitab ini saya beri nama Tu’limul Muta ‘alim Tharigatto’allum. Yang terdiri dari 13 pasal.
Pertama, menerangkan hakikat ilmu, hukum mencari ilmu, dan keutamaannya. Kedua, niat dalam mencari ilmu. Ketiga. cara memilih ilmu, guru, teman, dan ketekunan Keempat, cara menghormati ilmu dan guru. Kelima, kesungguhan dalam mencari ilmu, beristigamah dan cita-cita yang luhur. Keenam, ukuran dan urutannya. Ketujuh, tawakal. Kedelapan, waktu belajar ilmu. Kesembilan, saling mengasihi dan saling menasehati. Kesepuluh, mencari tambahan ilmu pengetahuan. Kesebelas, bersikap wara’ ketika menuntut ilmu. Keduabelas, hal-hal yang dapat menguatkan hafalan dan yang melem: Ketigabelas, Hati hal yang mempermudah datangnya rezeki, hal-hal yang menghambat datangnya rezeki, hal-hal yang dapat memperpanjang, dan mengurangi umur. Tidak ada penolong kecuali Allah, hanya kepadaNya saya berserah diri, dan kehadirat-Nya aku akan kembali.
Hari ini banyak santri telah lahir dari berbagai pesantren di Indonesia, banyak pula cerita bahkan kekhawatiran tentang mereka bahwa ilmu yang mereka peroleh tidak mendapat hikmah. Untuk itu masih segar di ingatan kita beberapa petuah Az Zarnuji terkait dengan keutamaan dalam belajar yakni sebagai berikut:
Pertama, hal itu terjadi karena cara mereka menuntut ilmu salah, dan syarat-syaratnya mereka tinggalkan.
Kedua, karena, barangsiapa salah jalan, tentu tersesat tidak akan sampai kepada tujuan.
Ketiga, oleh karena itu saya ingin menjelaskan kepada para santri cara mencari ilmu, menurut kitab-kitab yang pernah saya baca dan menurut nasehat para guru saya, yang ahli ilmu dan hikmah.
Semua yang dilakukan oleh Syaikh Az Zarnuji bukanlah asumsi, apalagi premis, lebih dari itu adalah teori yang lahir dari berbagai praktik dan pengalaman. Sampai pada akhirnya beliau memberi penguatan bahwa belajarnya seorang santri harus selalu terhubung dengan gurunya.
Zarnuji sendiri menempatkan diri sebagai guru dengan harapan semoga orang-orang yang tulus ikhlas mendoakan saya sehingga saya mendapatkan keuntungan dan keselamatan di akhirat.
Mengapa ini penting, tidak lebih dari upaya memberikan keberkahan dari semua ilmu yang akan diberikan, dari sana akan lahir semua orang yang belajar mempunyai tujuan yang jelas, dengan cara yang patut bahkan mendapatkan hikmah dari berbagai kitab yang dipelajarinya.
Seorang Zarnuji sekali lagi memberikan pernyataan penting bahwa begitu doa saya dalam salat Istikharah ketika akan menulis kitab ini.
Setiap tahun kita telah memperingati hari santri, tentu bukan hanya terbayang berbagai santri dan kelebihannya saja, akan tetapi bagaimana guru memberi pendidikan lewat hikmah.
Boleh saja kita menambah ilmu lewat berbagai platform digital atau lainnya, ternyata untuk mendapatkan hikmah harus menempatkan seorang guru agar dapat membimbing dan memberi keberkahan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















