Fungsi hadits terhadap al-quran selalu sebagai takyiid (penguat) apa yang telah disebutkan al-quran, juga sebagai tibyaan (penjelasan terhadap ayat-ayat yang mujmal, mentakhsishkan ayat-ayat yang `aam bahkan lebih dari itu hadits dapat pula menetapkan dan memberikan tambahan arti terhadap maksud al quran (mandiri dalam tasyri`) sebagai melengkapi yang tidak disebutkan al qur`an . (Ahmad Sanusi Luqman, 1995:26)
Al Qur`an diturunkan sudah lebih dari seribu tahun bahkan hampir 1500 tahun, tetapi sampai hari ini tetap terjaga, tetap belum selesai dikaji, dan tetap menjadi inspirasi.
Salah satu yang membentengi atau yang mengawal adalah Hadits yang secara sejarah sama waktunya kita terima sekitar 1500 tahun lalu. Maka benar bila kajian Al Qur`an dan Hadits sama dalam sejarah, berbeda dalam posisi, tetapi bertujuan untuk saling melengkapi.
Kajian tentang Al Qur`an teruslah berkembang, dari tafsir sampai pemaknaan bahkan tampilan juga terus progresif. Sementara hadits di satu sisi terus menjaga keakuratan sebagai bukti ia pengawal setia Al Qur`an sebagai kitab yang otentik.
H Ahmad Sanusi Luqman sampai akhir pengabdiannya di lembaga perguruan tinggi memberikan seluruh keseriusannya tentang ilmu hadits ini.
Menurut beliau ada beberapa catatan penting yang harus diperhatikan dan dijadikan alas berpikir kita tentang hadits ini yakni sebagai berikut:
Pertama, tanpa hadits al quran yang merupakan sumber utama ajaran Islam, sulit untuk dipahami oleh umat Islam. Karenanya keberadaan hadits tersebut perlu dijaga dan dipelihara kemurniannya oleh umat Islam di setiap generasi agar terhindar dari penyimpangan dan permasalahan yang dapat meyesatkan umat Islam.
Kedua, Hadits qauly adalah hadits yang lahir dari ucapan nabi yang dilambangkan dengan kata-kata. Sementara itu Hadits fi`ly adalah hadits yang lahir dari perbuatan, aktivitas, amaliyah dan sifat-sifat Nabi yang dapat dilambangkan dengan ucapan (perkataan) para sahabat nabi.
Ketiga, ada lima hal yang harus benar-benar kita pahami perbedaannya yakni; (1) Hadits qauly adalah hadits yang lahir dari ucapan nabi yang dilambangkan dengan kata-kata. (2) Hadits fi`ly adalah hadits yang lahir dari perbuatan, (3) Hadits fi`ly adalah hadits yang lahir dari aktivitas, (4) Hadits fi`ly adalah hadits yang lahir dari amaliyah dan (5) Hadits fi`ly adalah hadits yang lahir dari sifat-sifat Nabi yang dapat dilambangkan dengan ucapan (perkataan) para sahabat nabi.
Apabila ketiga hal di atas dipelajari, dimengerti dan pahami, kemudian diterapkan sekaligus menjadi prinsip dalam mengkaji hadits, maka fungsi hadits sebagaimana maksudnya akan tetap terpelihara.
Terpelihara bukan saja pada menjaga ilmu pemaknaan Al Qur`an tetapi juga memberi tali keilmuan atau sanad yang kuat bagi keotentikan sejarah kedua sumber agama Islam ini.
Al Qur`an dan Hadits tidak pernah saling mendahului, karena dalam ilmu nya keduanya saling membutuhkan dan saling melengkapi. Hal di atas akan tampak ketika kita membaca satu pesan pasti itu bukan kejadian tunggal tetapi saling berkaitan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















