Agama memerankan dua fungsi; pertama, menjelaskan suatu cakrawala pandang tentang dunia yang tidak terjangkau oleh manusia (beyond) yang dapat melahirkan deprivasi dan frustrasi yang bermakna. Kedua agama sebagai sarana ritual yang memungkinkan hubungan manusia dengan hal yang di luar jangkauannya. (M Ridwan Lubis, 2015:22)
Hidup ini sederhana dari tidak mengerti menjadi mengetahui bahkan memahami, dari tidak percaya menjadi setuju bahkan sampai haqqul yaqin, dan akhirnya dari sekadar partisipasi sampai pada gilirannya ia menjadi penegak bahkan pembela utama.
Semua ini dialami oleh siapa saja, hanya kadar dan iramanya yang berbeda satu orang dengan orang lainnya, dan di sinilah seni dalam menjadikan agama sebagai bagian dari kehidupan.
Perjalanan seseorang untuk mendapatkan agama tidak semuanya sama, yang paling sederhana adalah apa yang ia dapatkan dari orang terdekat yakni orang tua, maka apa yang dianut orang tua, itu pula yang dianut oleh anaknya.
Tidak ada yang salah, apalagi berdosa untuk mengikuti agama dari orang tua, hanya tinggal kadar dan cara menerimanya mungkin menjadi ukuran apakah ia sekadar mengerti, hanya untuk percaya atau tampak berpartisipasi.
Kita melihat ada pula diantara kita yang menerima agama dengan perjalanan yang penuh liku, semua dijalani, seakan pengalaman menjadi pertimbangan. Pindah agama boleh jadi untuk pertimbangan kepastian, meneliti tentang kepercayaan agar memahami, mengalami berbagai persoalan untuk menuju keyakinan.
Bahkan rela mengorbankan diri untuk menjadi pembela kebenaran. Itupun banyak terjadi, namun semuanya tidak ada yang menjadi ukuran paling ideal bagaimana seseorang hidup beragama.
Prof M Ridwan Lubis yang telah lama mendalami perilaku kehidupan beragama secara sosiologis melihat bahwa terdapat dua gejala utama pada seseorang yakni;
Pertama, selain dari itu, agama mengajarkan kesadaran terhadap pandangan dunia (world view) yang pada akhirnya melahirkan etos kerja sebagai pengejawantahan balasan ideal yang akan diterima seseorang ketika berada di alam sesudah kebangkitan (eskatologis).
Kedua, hubungan ini tumbuh dari akumulasi dua sikap yang pada dasarnya saling bertentangan, akan tetapi kemudian larut menjadi satu dalam diri manusia. Dua hal kontradiktif itu merupakan ketakutan dan kerinduan. Bukankah sesuatu yang disebut maha sempurna itu adalah titik temu dari dua yang saling bertentangan.
Jelaslah bahwa persoalan hidup beragama bukan sekadar paham, yakin dan menjadi pendakwah, lebih dari itu terinternalisasi dalam pikiran, perasaan bahkan kehidupan sehari-hari.
Kajian ini diteruskan menjadi upaya pembinaan diri yang lebih mendalam dimana seseorang harus sadar diri hal ini tergambar pada kesempurnaan Allah yang dilukiskan dalam asmaul husna, bahwa Allah itu Yang Awal dan Akhir, Yang Zahir dan Batin.
Manusia itu hanya merencanakan, melakukan, dan menyerahkan semuanya kepada Sang Pencipta. Bersyukurlah kita yang terus mendalami fenomena agama baik secara pribadional maupun sosiologis terlebih eskatologis.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















