Media lebih memilih tidak memberitakan secara obyektif daripada memberitakan dan berakibat pada putusnya hubungan dengan pengiklan sebagai penyokong dana, yang berarti putusnya sumber ekonomi media. Dengan kata lain, keputusan untuk memberitakan suatu peristiwa ditentukan oleh pertimbangan-pertimbangan ekonomi. Jadi ciri penting dari pendekatan instrumentalisme adalah sifatnya yang melihat faktor ekonomi sebagai satu satunya faktor yang dominan dalam menentukan media perilaku dan tindakan media, digerakkan oleh kepentingan ekonomi politik yang pengaruhnya bersifat langsung dan searah. (Syafruddin Pohan, 2016:22).
Sampaikan sesuai dengan apa yang terjadi, tetapi ingat kepada siapa anda menyampaikan, saat kapan hal itu diberikan, dan di mana anda menyampaikannya, semua harus dipertimbangkan.
Mengapa kita perlu mempertimbangkan banyak hal tentang sesuatu untuk disampaikan? Ini sangat terkait dengan apa tujuan kita menyampaikan satu berita.
Bila yang akan kita sampaikan itu penting belum tentu semua orang merasa hal yang sama, boleh jadi yang akan disampaikan itu sangat menentukan, tetapi bila waktunya tidak tepat maka hasilnya biasa-biasa saja.
Kita harus menyadari berita boleh jadi itu akan menentukan arah dunia, tetapi siapa yang menerima berita akan lebih berkuasa apakah ia setuju atau tidak. Sungguh dunia berita sangat sarat dengan kepentingan apakah itu ekonomi, politik, sosial budaya, dan lain sebagainya.
Dalam politik media semua boleh jadi sangat penting, bahkan lebih penting dari berita itu sendiri. Buktinya jadwal politik selalu membuat agenda agar pemberitaan dapat berjalan dan dikendalikan.
Hal ini mungkin adalah bukti yang menjadi ciri penting dari pendekatan instrumentalisme di mana sifatnya melihat faktor politik sebagai satu satunya faktor yang dominan.
Pada bagian lain ketika awak media menjadi profesi maka pasti berhubungan dengan pendapatan dari pekerjaan. Boleh jadi secara sengaja menjadikan berita untuk mendapatkan imbalan adalah pertimbangan ekonomi sepihak.
Namun dalam menentukan media perilaku dan tindakan media, digerakkan oleh kepentingan ekonomi politik yang pengaruhnya bersifat langsung dan searah. Sungguh luar biasa itulah media politik dan ekonomi yang senada.
Kini kita baru menyadari bahwa tidak semua yang ada di dunia ini layak dijadikan berita, dan tidak semua berita pantas tayang di media massa.
Media lebih memilih tidak memberitakan secara obyektif daripada memberitakan dan berakibat pada putusnya hubungan dengan pengiklan sebagai penyokong dana, yang berarti putusnya sumber ekonomi media. Hem…sama saja.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















