Mengajar yang baik bukan sekadar persoalan teknik-teknik metodologi belajar saja. Untuk menjaga disiplin kelas, guru sering bertindak otoriter, menjauhi siswa bersikap dingin itu menyembunyikan rasa takut kalau dianggap lemah. Nasihat yang sering diberikan misalnya agar guru bertindak keras pada saat permulaan. (Wasty Soemanto, 1987:221).
Pembelajaran di kelas tampak sederhana, di sana ada seorang guru dan sejumlah siswa melaksanakan kegiatan belajar untuk mendapatkan pengetahuan. Kesederhanaan ini memang tampak di permukaan, namun dalam prosesnya memiliki kerumitan yang sungguh luar biasa.
Kondisi atau keadaan siswa adalah progresif dan sedikit kompleks mengakibatkan setiap saat mungkin saja ada perubahan bahkan permasalahan. Tidak selamanya guru melaksanakan tugas sesuai dengan aturan atau rencana karena mempertimbangkan kondisi di kelas, ini adalah sebuah keputusan dimana guru harus selalu memberikan yang terbaik untu tujuan utama yakni pembelajaran.
Wasty Soemanto mencatat bahwa di kelas bukan sekedar guru dan siswa, tetapi banyak hal yang harus diketahui, bahkan menjadi bahan penting untuk dikendalikan seorang guru.
Empat hal penting menurut beliau adalah sebagai berikut:
1.Guru dengan kemampuan lisannya harus menjadi instrumen untuk memberi nasihat. Kapanpun, dimanapun dan kepada siapapun adalah hal paling mudah dilakukan untuk memberi nasihat, itulah instrumen lisan yang dimiliki oleh seorang guru. Tetapi guru yang arif dan bijaksana dia akan memberi nasihat pada saat yang tepat, bahkan sebelum memberikan ia juga harus sudah melakukannya.
2.Guru adalah orang yang memiliki ilmu pengetahuan melebihi dari orang lain ketika di kelas khususnya dan di masyarakat pada umumnya. Kelebihan yang ia miliki dibekali dengan ilmu mendidik, akhirnya ia adalah orang yang memiliki integritas dengan keberanian menyampaikan bahwa yang benar itu harus ditegakkan dan yang salah itu harus ditinggalkan.
3.Guru adalah seorang manajer kelas ini yang diperankan ketika ia merencanakan pembelajaran, mengelola dan mengevaluasi akhirnya mengembangkan langkah berikutnya. Mempertimbangkan adanya sejumlah orang yakni guru dan siswa, memahami kegiatan apa yang harus dilakukan dan memiliki tujuan yang jelas tentang kompetensi siswa, dan akhirnya guru benar-benar menguasai di sana ada kelas sebagai ruang yang sedang digunakan serta waktu yang menjadi ukuran.
4.Guru harus dapat mengendalikan diri. Kemampuan guru bukan hanya di dalam kelas, tetapi sampai di luar kelas, bahkan di tengah-tengah masyarakat untuk memberikan pendidikan dan keterampilan. Bahkan otoritas sebagai pendidik menjadi legitimasi kemana arah dan tujuan pendidikan dilakukan, dari sinilah guru itu sendiri membutuhkan kontrol atau kendali. Apakah etika dalam bentuk kode etik, atau regulasi dalam peraturan yang mengikat, namun yang utama adalah kendali profesionalisme seorang guru.
Guru yang baik adalah yang memahami bahwa segala sesuatu yang akan diajarkan, maka ia terlebih dahulu menjalankannya, maka keteladanan adalah instrumen ampuh dalam kegiatan pendidikan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















