Lebaran adalah saat di mana umat Islam saling bermaafan, berjumpa dan bersalaman atau berjabat tangan. Yang jumpa sebenarnya hati mereka, tetapi diwakili oleh tangan karena keduanya dengan mudah saling mengulurkan. Bahkan dari proses penguluran tangan ini tampak siapa yang duluan dan yang menyambut belakangan, tetapi keduanya sudah menganggap bahwa mereka telah bersama dalam suka dan cita.
Bersalaman di hari lebaran menjadi fenomena, bahkan fakta atau budaya yang mencirikan satu adat bahkan keluarga tertentu. Ada gaya salaman yang dipertahankan dengan prakondisi yang kadang penuh dengan sakral seperti merendahkan diri di lantai, ada pula bersalaman sambil berdiri, bahkan ada yang cukup dengan simbol moji “titip salam” lewat smarth phone. Hem…..sungguh salam-salaman itu seperti berevolusi dari masa ke masa.
Pak Marmuj salaman juga, ya……dia mengamati berbagai fenomena tentang salaman baik di lingkungan keluarganya, terlebih ketika lebaran tiba. Sudah lama tidak berjumpa dengan sanak saudara, famili handaitolan, teman kecil sampai kini telah menjadi kakek semua tumbah ruah jadi bagian cerita ketika lebaran tiba.
Pak Marmuj; anak-anak sudah salaman semua, sebagian menjawab, sebagian terdiam.
(Pak Marmuj terdiam sejenak, mengapa sebagian anak tidak menjawab, justru memandangi istri pak Marmuj).
Pak Marsa; ya….salaman tidak seperti kita zaman dulu, lihat anak zaman sekarang salaman sambil berdiri, bahkan ada yang sambil jalan, sambil menelon pun ada….sungguh anak zaman sekarang.
Pak Marmuj; memang ini bagian dari pergeseran budaya mungkin, kadang kita berfikir, masih mau bersalaman saja sudah syukur anak zaman sekarang.
Pak Marsa; ya….lain daerah lain cara salaman, ada keluarga yang kalau mau salaman harus kumpul dulu satu-satu bergiliran seperti di masjid setelah shalat wajib, jamaah bersalaman dengan imam dan jamaah sehingga semua kedapatan, ada baiknya juga.
Bu Marci; memang salaman zaman sekarang tidak seperti kita dulu, mau jumpa orang yang lebih tua harus siap dengan tata krama, bahkan banyak terjadi sandiwara.
Pak Marmuj; sandiwara apa maksudnya.
Bu Marci; salaman ketiak lebaran ada dua saudara yang berjumpa dengan salaman sampai menangis, menyesali seluruh kesalahan, bahkan meraung mohon maaf atas kekhilafan. Kadang setelah itu berseteru lagi….hahahahaha…ini namanya kan sandiwara waktu lebaran.
Pak Marsa; oh…..ya….ada pula salaman yang merangkul sampai cium pipi kanan, cium pipi kiri, sebagian orang sedikit risih, hem….aroma peci baru sampai menyangkut di telinga kiri…
Tak lama kemudian seperti biasa Pak Marmuj melihat smartphonenya, tentang salaman memang macam-macam jenisnya.
Pak Marmuj; ini dia ada beberapa cara orang bersalaman.
Pertama, bersalaman dengan satu tangan ini namanya berjabat tangan, maknanya adalah setara untuk bersaudara.
Kedua, bersalaman dengan kedua tangan ini namanya penghormatan dengan yang lebih tua, maknya adalah kita merendahkan diri untuk mendapatkan kerelaan.
Ketiga, bersalaman dengan lampiran cium pipi, bahkan kanan dan kiri, bila itu untuk anak-anak adalah tanda kasih sayang, tetapi bila untuk sesama orang dewasa adalah luar biasa.
Bu Marci; luar baisa maksudnya apa ini Pak Marmuj?
Pak Marmuj; Ya salaman dengan orang dewasa itu kadang penuh makna, tergantung niat adan tujuannya, kalau hanya lebaran mereka selalu diiringi dengan gerakan tangan kembali diletakkan di atas dada karena didalamnya ada perasaan yang terwakili yakni hati. Jadi jelas salaman itu memang benar adalah berjumpanya dua hati untuk saling mengasihi.
Sedikit terdiam ketiga saudara tadi, Pak Marmuj, pak Marsa, dan bu Marci kok di seliling tambah ramai anak-anak,
Bu Marci; ada apa anak-anak kok seperti menunggu?
Pak Marmuj; ya….inilah yang paling penting yakni salam tempel dari kita yang sudah sukses.
Oalah……Pak Marmuj….Pak Marmuj…..memanglah.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari kisah ini adalah:
Pertama; setiap manusia memiliki kelebihan dan kelemahan, kadang waktu meminta untuk saling berbagi kelebihan dan meminta pertolongan dalam hal kelemahan maka ia bersalaman.
Kedua; bersalaman adalah media untuk berinteaksi antara dua orang yang diwakili tangan. Dari bersalaman ini dua hati berjumpa untuk saling menyetujui bahwa ada hal yang harus disamakan, disatukan bahkan sama dalam mencapai tujuan.
Ketiga; bersalaman terus berevolusi, semua orang menyetujui dan melakukannya kapanpun. Dengan bersalaman seseorang menunjukkan identitas diri bahwa ia masih membutuhkan orang lain untuk menuju kebahagiaan bersama.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















