Kebanyakan orang jelas-jelas merasa bahwa keluarga adalah prioritas utama. Sebagian besar bahkan akan menempatkan keluarga di atas kesehatan mereka sendiri, jika terpaksa. Mereka akan menempatkan keluarga mereka sebelum hidup mereka sendiri. Mereka bahkan mau mati demi keluarga mereka. Tetapi jika anda merasa mereka untuk benar-benar memperhatikan gaya hidup mereka dan kemana mereka memberikan waktu mereka dan perhatian serta fokus mereka, anda akan hampir selalu mendapati bahwa keluarga terletak di bawah nilai-nilai lain, pekerjaan, teman-teman, hobi pribadi. (Stephen R.Covey, 1999: 196).
Hidup itu harus bergaya, agar tampak bila orang melihatnya, hidup itu harus bermakna sehingga semua orang merasakan sama, hidup itu harus seimbang ini yang akan menyelamatkan diri kita dari hal yang kadang tidak disadari.
Apakah bergaya harus selalu berseberangan dengan makna, apakah seimbang menjadi jalan tengah yang pasti harus dipilih, sulit menjawab, padahal membuat pertanyaannya juga lebih sulit. Tetapi itulah hidup, selagi masih terjadi maka di sana pasti ada hal yang harus dilalui, salah satunya diskusi, solusi atau hanya sekedar ilusi.
Stephen R Covey banyak melakukan penelitian, bahkan perlakuan terhadap berbagai macam orang, perusahaan, dan bahkan rancangan bagaimana meraih kesuksesan. Menurut beliau ada empat hal penting yang harus kita pahami lebih dalam tentang hidup ini yakni sebagai berikut:
Pertama, hobi pribadi sulit dihindari. Individu itu memiliki kebebasan, tentang apa yang akan dilakukan, bahkan kemana ia harus melangkah, terlebih bagaimana membuat keputusan. Dari sana ita mulai berinteraksi, ketika dipilih maka ada kenyamanan yang menjadi tujuan. Untuk mendapatkannya maka berulang, dan terus berkelanjutan, lahirlah hobi. Setiap individu tidak dapat dipisahkan dengan hobi, tetapi hobi yang memiliki makna itu sesungguhnya kekuatan diri.
Kedua, pertemanan selalu tak terhindarkan. Kebebasan diri itu adalah luar biasa, namun ketika berinteraksi ada orang lain di pihak sana, itu tidak terhindari. Apakah orang lain itu kita anggap mitra, atau lawan, bahkan boleh jadi tim, lahirlah sikap penerimaan yang permanen. Pertemanan sesungguhnya adalah sikap terhadap interaksi, bila interaksi memiliki tujuan yang jelas seperti untuk saling berbagi bahkan tahu batas-batas privasi maka pertemanan menjadi bernilai produktif.
Ketiga, pekerjaan itu adalah kebutuhan atau beban. Kita harus memiliki persepsi yang kuat di mana pekerjaan adalah keadaan yang harus dilalui bukan dihindari. Namun bila dilakukan apakah itu kebutuhan atau beban sangat tergantung pada persepsi kita sendiri. Bekerja atau tidak bekerja, butuh atau tidak butuh, menjadi beban atau menjadi kebanggaan semua akan hadir dihadapan kita terutama di sepertiga waktu dalam bekerja.
Keempat, nilai-nilai selalu bertingkat untuk kebutuhan, kesenangan atau tanggung jawab. Setiap tindakan tidak ada yang berdiri tunggal pasti memiliki rangkaian yang banyak bahkan luas, kini tinggal kita menyusunnya apakah paralel, kontiniuitas atau paradoksal. Kemampuan kita menempatkan mana prioritas, mana pula tujuan utama bahkan mana yang harus dijadikan makna akan memudahkan pekerjaan dalam hidup ini.
Kini kita sadar bekerja itu dapat dilakukan dari diri sendiri, untuk keluarga, boleh jadi pengembangan profesi. Bila dilakukan dengan kenyamanan mungkin akan terus berkelanjutan dan makna yang didapatkan lebih jauh dari yang direncanakan, mungkin keberkahan akan lahir dari sini.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.


















