Pagi, siang, sore lalu malam berlalu, lanjut lagi pagi lagi, siang lagi sore lagi dan akhirnya malam lagi, itulah siklus yang dialami oleh siapa saja yang masih hidup. Sebagian saudara kita ada yang kemarin siang masih sehat, malamnya terkabar telah meninggal, ada pula paginya masih olah raga sore hari sakit, ada pula berita lain beberapa hari lalu masih bersama kita kini ia telah pindah kerumah barunya di kota. Itu juga sebuah siklus kehidupan yang kita sendiri tidak tahu pada saat kapan harus memulai, terlebih kapan pula mengakhiri perjalanan hidup.
Di bagian lain ada pimpinan ada pula bawahan, ada guru ada murid, ada ketua ada pula anggota, ada yang bekerja ada pula yang mendapat penghasilan. Oh…iya khusus dalam hal yang terakhir, bekerja dan berpenghasilan biasanya selalu beriringan walaupun iramanya berbeda.
Berbeda maksudnya ada yang bekerja keras akhirnya berpenghasilan banyak, adapula yang bekerja biasa saja tetapi investasinya memberikan banyak pendapatan. Dan yang berbeda menurut waktu ada pula bekerja pagi hari langsung mendapat penghasilan di sore hari, adapula yang bekerja satu pekan maka penghasilan telah menunggu di hari sabtu.
Tetapi sedikit berbeda ketika pekerjaan sebagai guru diberitakan, mereka bukan soal berita berapa upah atau penghasilan, namun variasi waktu kapan mendapat penghasilan. Ada guru yang mendapat imbalan di tanggal 31, adapula yang gajian tanggal 61, bukan tidak banyak guru-guru di daerah mereka gajian setelah tanggal 91.
Pak Marmuj tampak serius membaca berita di media sosial terkait dengan gaji guru yang telat tanggal atau memang telah dialami secara rutin. Konon kabarnya kejadian gaji guru itu sudah biasa dengan variasi tanggal 31,61, atau tanggal 91, bahkan di perguruan tinggi pun ada juga guru besar mengalami hal demikian.
Hem…..namanya juga guru, sabar……sabar….. gumam Pak Marmuj.
Guru lain coba merapat, seperti biasa perbincangan bukan hanya karena ada topik yang menyenangkan, tetapi apa saja yang dialami selalu menjadi perbincangan hangat.
Pak Marmuj; bapak ibu semua, kita ini guru mau gajian mau tidak gajian sebenarnya tidak masalah, bila perlu tidak ada hubungannya dengan mengajar.
Pak Marga; lho….kok gitu pak, gajian itu kan hak kita, sementara mengajar adalah kewajiban dan telah kita lakukan, jadi wajar to…kalau kita menuntut hak karena sudah memenuhi kewajiban.
Ibu Marji; ia saya setuju dengan pak Marga, walaupun kita guru sebagai abdi negara tetapi yang namanya gaji tepat waktu itu penting pak, karena ada kaitannya dengan dapur pak, dengan dapur…(nada emosi bu Marji mengundang rekan guru lain).
Pak Marmuj; okelah….. tetapi itu gaji, beda kalau kita sudah punya rezki semoga kita semua sehat bisa tetap mengajar.
Pak Marga; apa bedanya pak gaji dengan rezeki.
Beberapa guru akhirnya merapat, sambil seruput kopi ditengah hujan gerimis ketika jam istirahat di ruang kerja guru.
Seperti biasa Pak Marmuj memberikan petuah lewat berbagai pengalaman tetapi kali ini sedikit emosi karena menyangkut hajat hidup diri, keluarga dan yang utama kantong istri di rumah.
Pak Marmuj; begini saudara-saudara ku sebangsa dan setanah air, seprofesi guru di sekolah yang kita cintai.
Ada empat hal yang berbeda dalam pendapatan kita yakni; gaji, harta, kekayaan dan rezki.
Pak Marga; ia pak, ayo…..jelaskan, kita semua serius ini pak.
Pak Marmuj;
Pertama gaji. Gaji adalah imbalan berupa uang yang dibayarkan oleh perusahaan kepada karyawan tetap atau kontrak dalam jangka waktu yang tetap, umumnya bulanan.
Contoh; gaji pokok, tunjangan, bonus dan intensif, lembur, potongan.
Jelas ya kalau dia berupa uang dan dalam waktu tertentu maka itu gaji. Tapi ingat juga ada potongan, potongan bapak ibu.
Kedua harta. Harta adalah bagian dari rezeki yang berwujud materi dan memiliki nilai ekonomi. Contohnya; Uang tunai, emas, perak, tanah, bangunan, saham, dan kendaraan. Boleh jadi kita semua punya harta tetapi bukan itu tujuan dalam bekerja.
Ketiga kekayaan. Kekayaan adalah nilai total dari seluruh aset (harta) yang dimiliki oleh seseorang, keluarga, atau entitas. Contohnya; Saldo bank yang besar, banyak properti, dan investasi yang melimpah.
Bu Marji; ohh….saya baru tahu pak, jadi kalau saya gajian langsung saya belikan emas itu namanya harta jadi kalau emasnya disimpan di bank beda lagi ya pak.
Pak Marmuj; sssssst…..nah kalau harta dan kekayaan maka potongannya adalah zakat ada haul ada pula nisab.
Pak Marga; ia…iya….Pak Marmuj ini yang penting. Pak langsung yang keempat pak.
Pak Marmuj; Ok yang keempat rezeki. Rezeki adalah segala sesuatu yang diberikan oleh Tuhan kepada makhluk-Nya, yang bisa dinikmati dan bermanfaat bagi kehidupan. Contohnya; Kesehatan yang baik, pekerjaan yang halal, keluarga yang harmonis, dan uang yang digunakan untuk kebutuhan sehari-hari.
Nah kalau yang ini tidak ada potongan yang ada malah empat tingkatan.
Syeikh Muhammad Mutawalli asy-Sya’rawi (1911-1998) mengatakan:
Harta adalah rezeki yang paling rendah. Kesehatan adalah rezeki yang paling tinggi. Anak yang saleh adalah rezeki yang paling utama. Sedangkan ridha Allah adalah rezeki yang sempurna.
Semua guru terdiam, sedikit tertegun, mengingat selama ini hanya memikirkan gaji, ternyata ada yang lebih besar dari itu yakni rezki.
Pak Marmuj meneruskan petuahnya, dengan membuka halaman lain dari telepon selulernya.
Pak Marmuj; ini…ini yang paling penting, menurut agama Islam ada hal paling utama harus kita ketahui tentang rezeki. Karena rezeki itu ada pada setiap diri kita, ada delapan pintu rezeki yakni;
Pertama rezeki yang telah dijamin oleh Tuhan.
Kedua rezeki karena berusaha
Ketiga rezeki karena bersyukur
Keempat rezeki karena tak terduga
Kelima rezeki karena istighfar
Keenam rezeki karena menikah
Ketujuh rezeki karena anak
Kedelapan rezeki karena bersedekah.
Bu Marji; ia pak…..ia pak, saya setuju…..walaupun guru ada yang gajian tanggal 31.61, dan 91 tetapi kalau sudah rezeki memang semuanya harus disyukuri.
Pak Marmuj; saya setuju seperti yang disebut oleh bu Marji, tetapi kita harus tahu bahwa diantara kita ada yang setiap setiap saat mendapat rezeki itu adalah pak guru Sapri dan bu guru Irma.
Bu Irma; lho….kok kami yang jadi sasaran.
Pak Marmuj; ia karena pak guru Sapri punya anak namanya Muhammad Rezeki dan bu Irma suaminya bernama Muhammad Rezeki Ananda.
Semua peserta tertawa hahahahahahhahhahhaha.
Tiga hal hikmah yang dapat kita ambil dari cerita ini adalah:
Pertama; setiap kita harus bekerja untuk mendapatkan penghasilan karena dengan itu kita akan memperoleh imbalan untuk bekal hidup baik sendiri, maupun untuk keluarga.
Kedua; bila kita bekerja untuk mendapatkan gaji maka wajar ada yang dinanti, bila kita ingin memperoleh harta maka kita siap menjaganya, dan seseorang yang bekerja untuk menjadi kaya mungkin saja dia tidak akan mendapatkan dan kehilangan arah. Tetapi yakinlah bila kita bekerja dengan niat lewat hati yang bersih demi anak dan keluarga, maka rezki selalu menghampiri karena orang seperti ini apapun yang didapat selalu disyukuri.
Ketiga; gaji, harta, kekayaan dan rezeki adalah hal yang berbeda, tetapi semua dapat diperoleh bila niatnya adalah untuk ibadah, karena dengan mendapatkannya kita akan memperoleh kemudahan dalam banyak hal termasuk melaksanakan ibadah rutin setiap hari.
Ketujuh kita setuju berkolaborasi mengeksplorasi sejarah, lewat kisah kita bercari ibrah.
Catatan; kisah ini diinspirasi dari berbagai sumber.


















