Pendidikan kaum wanita telah menjadi keharusan yang bersifat internasional, karena kemajuan yang merupakan kebutuhan mendesak itu menciptakan dan sekaligus menuntut jenis wanita yang baru. (Jacqueline Chabaud,1984:11).
Ketika rumah tangga menunggu kelahiran seorang anak semua berharap hadir manusia baru di keluarga, sehat itu yang utama. Walaupun seorang suami lebih banyak berharap akan lahir anak laki-laki, dan istri menginginkan lahirnya seorang perempuan namun persengketaan itu akan berakhir ketika pilihan telah lahir ke dunia ini. Bukan lagi soal laki-laki perempuan yang hadir tetapi bagaimana membesarkan mereka menjadi penerus dan pewaris keluarga.
Mendidik anak adalah keinginan dari dalam maka disebut pendidikan informal. Apakah anak itu laki-laki atau perempuan tidak ada yang menghalangi bahwa ayah dan ibu mereka secara otomatis menjadi seorang pendidik.
Sebatas kemampuan baik waktu, maupun kesempatan, baik ilmu maupun keterampilan, baik karakter maupun keahlian semuanya berjalan tanpa genre apalagi perdebatan. Anak adalah harta tak terhingga, maka pendidikan bagi mereka adalah cara memelihara dan mempertahankannya.
Di dunia ini persoalannya bukanlah bagaimana menyediakan dasar-dasar pendidikan atas dasar perikemanusiaan semata, tetapi justru sebagian kita memperdaya atas dasar kemanusiaan untuk kepentingan politik, ekonomi maupun eksploitasi.
Sungguh kadang kala statistik selalu dipilah atas dasar jenis kelamin dari sini interpretasi data diteruskan untuk tujuan politik tertentu. Jadi pendidikan terhadap wanita itu pada dasarnya manusiawi, namun kepentingan tertentu yang menjadikannya justru bermasalah.
Bila kita sadar bahwa semua yang lahir ke dunia ini memiliki hak yang sama untuk menerima warisan, mengelola dan mengambangkannya, maka keadilan telah lahir sebelum jenis kelamin itu ada.
Artinya sebuah keluarga tidak mesti membeda-bedakan siapa yang paling berhak atas warisan, siapa pula yang harus dipersiapkan. Kita menyadari bahwa hari ini kaum wanita harus diberi segala persyaratan untuk ikut ambil bagian dalam membangun dunia ini.
Inilah cara berpikir yang tidak menggambarkan bagaimana sebuah keluarga melahirkan seorang anak. Padahal siapa saja adalah sama, dan tidak mesti atas dasar genre kita membedakan satu dengan lainnya.
Kita harus memulai dari lingkungan rumah tangga, dimana anak lahir adalah hasil kerjasama, dan penentu adalah sang pencipta. Bagi siapa saja yang mensyukuri maka dia akan mendapat petunjuk bagaimana menempatkan mereka.
Anak adalah warisan yang menggambarkan apakah kita bagian dari kehidupan mereka di masa depan. Jawabannya jelas pendidikan yang tidak membeda-bedakan, apalagi memilih dan menyalahkan.
Kita setuju “Dengan kolaborasi kita bangun negeri, lewat pendidikan kita bersinergi”.



















